Menuju desa tertinggi: Dieng

img-20160729-wa0013
Stasiun Senen. Foto oleh Abang

Agenda utama kami ke Purwokerto adalah ziarah ke makam alm. Cupi, kawan semasa kuliah kami dahulu yang berpulang pada Desember 2015.

Setelah adegan mobil yang mengantar saya, Abang, dan A mogok ketika baru beberapa meter berangkat dari rumah menuju stasiun Senen, lalu menanti kawan-kawan lain yang ternyata lebih malam datangnya ke stasiun yang luar biasa rame itu, dan ketika sudah bersiap menuju kereta kami salah masuk pintu keberangkatan, akhirnya belasan menit kemudian kami bisa duduk dengan cukup tenang di bangku masing-masing.

Kami bersepuluh plus tiga orang balita berada dalam satu gerbong bersama rombongan pelancong lokal, anak kost yang akan pulang kampung, dan (sepertinya) calon pendaki gunung kalau dilihat dari barang bawaannya. Sementara barang bawaan kami ya benar-benar seperti peziarah: satu kantong bunga yang siap ditaburkan di makam alm. Cupi nantinya dan diletakkan di bagasi di atas kepala. Doa kami saat itu sama: semoga tengah malam nanti aroma bunga tidak ikut meruap di dalam gerbong supaya tidak menimbulkan keributan.

Baca juga:

Mengenang Cupi (1)

Mengenang Cupi (2)

Sabtu, 30 Juli 2016

wp-1473254236262.jpeg

Perjumpaan dengan orangtua dan keluarga alm. Cupi di rumahnya yang hangat dan menyambut kami yang datang subuh-subuh, numpang mandi, sholat, hingga minum teh, makan tempe, dan sarapan berat (blaah ini mah ngerepotin yak), membuat kami semakin berdoa semoga Alm. Cupi sudah tenang dan berada di tempat terbaik di sisiNya. Aamiin.

You might laugh seeing this photo, Cup! With your parents, family, in front of your home.

img-20160730-wa0003

Setelah melunasi agenda ziarah kami pun bergegas menuju tujuan kami selanjutnya: ngebolaaang ke Dieng! Dataran tinggi Dieng yang memiliki ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut ini termasuk ke dalam Kabupaten Wonosobo dan berjarak sekitar 4 jam dari Purwokerto.

Sesungguhnya saya nggak nyangka jaraknya bisa sejauh itu, saya pikir sekitar 2 jam. Dan pemikiran salah ke-2 adalah saya pikir rute menuju Dieng sudah akan dingin sejak awal. Nyatanya salah besar! Elf yang kami sewa rupanya tidak memiliki AC dan udara musim kemarau saat itu luar biasa panasnya. Kami kipas-kipas di dalam mobil sementara bocah udah nggak tahu berapa kali ganti baju karena keringetan. Syukur A nggak rewel tapi yang lebih gawat adalah ia nggak juga tidur, nyanyi-nyanyi sepanjang jalan dan bertanya ini-itu, padahal dua balita lain sudah dari tadi bolak-balik tidur dan bangun.

Meski sudah masuk Kabupaten Wonosobo sejak 2 jam sebelumnya, rupanya Dataran Tinggi Dieng tak juga kelihatan. Perjalanan masih jauh, menanjak, dan lempeng aja. Ya iyalah, namanya juga Dataran Tinggi, jauh dong naeknya. Masalahnya kami dan bocah sudah kelaparan dan merasa rumah makan di pinggir jalan melambai-lambai dengan riangnya.

Akhirnya elf berbelok di sebuah rumah makan, bukan di resto mi ongklok yang menjadi agenda kami besok hari. Di sana kami makan, sholat, dan rehat sejenak sebelum melanjutkan lagi perjalanan. Di depan restoran, saya sempat melihat sarang burung yang dibuat induknya di tiang listrik. Sayang, si burung nggak kelihatan.

_img_000000_000000

Perjalanan berlanjut lagi. Kali ini sudah lebih semangat yang 5 menit kemudian diikuti juga rasa ngantuk. Hingga akhirnya sekitar pukul 2 siang kami sampai di Dataran Tinggi Dieng. Alhamdulillah. Akhirnyaaaa. Jalur menuju Dieng berkelok-kelok, di sisi kiri atau kanan jalan dihiasi dengan ladang kentang, wortel, kubis, dan lain sebagainya yang sesekali tertutup kabut.

p_20160731_104239

p_20160731_103759

p_20160731_103604

Homestay yang kami tempati adalah homestay Lestari yang sampe sekarang saya masih nyesel lupa foto-foto bagian dalamnya sehingga nggak bisa bikin review hiks… Setelah menyimpan barang-barang pun kami siap berangkat lagi menuju Kawah Sikidang.

Jauh ya motonya
Jauh ya motonya

Cerita tentang Kawah Sikidang sudah saya tuliskan di sini jadi nggak usah ceritain lagi ya, ntar tambah panjang. Selesai dengan belerang dan Kawah Sikidang, kami pun lanjut ke Kompleks Candi Arjuna yang lokasinya juga tidak terlalu jauh.

img_20161118_212309257

 

img_20161118_212214898

img_20161118_212236766

Di Kompleks Candi Arjuna ini terdapat 4 candi yang memanjang dari utara hingga selatan. Ketiga candi yang ada di lokasi ini seluruhnya menghadap ke barat (Sumber: Candi.perpusnas.go.id). Percayalah, biasanya saya ngeh atau setidaknya mendekat ke relief-relief candi. Pas kunjungan ini mah boro-boro, karena terlalu sibuk ngeliatin A yang mungutin batu dan juga sibuk foto-foto, saat tulisan ini ditulis which is 5 bulan kemudian saya malah baru ngeh kalau jumlah candi di kompleks ini ada 4. Ih KZL..

img_20161118_212325790

Habis itu kami kembali ke homestay, mandi pakai air yang luar biasa panas tapi jadi nggak berasa panas karena temperatur udara menjelang malam mulai berubah menjadi dingin. Akhir Juli hingga awal Agustus kabarnya adalah puncak suhu terdingin di Dieng. Kamar mandi bahkan sampai ngebul alias berasap saking panasnya air yang digunakan (dan masih juga berasa kedinginan).

Malamnya kami kelaparan dan ada yang sudah melahap mie, hingga kemudian para lelaki dipersilakan menembus udara dingin untuk beli nasi goreng demi kami semua. Sementara di kamar, A yang sudah tidur terbangun secara tiba-tiba hanya karena saya membuka tas kamera. Dan dimulailah kembali drama rungsing karena seharian tadi kurang tidur. Ia menolak menyusu, menarik-narik selimut, meracau, dan menolak tidur di kamar, maunya tidur di sofa ruang tamu padahal emaknya udah beku. Syukurlah pertolongan berupa nasi goreng datang dan kami pun makan dulu setelah kemudian karena udara dingin saya berasa lapar lagi hiks…

Sambil makan kami memutuskan apakah besok mau ke Bukit Sikunir untuk menyaksikan matahari terbit atau tidak. Saya ingin banget lihat sunrise tapi membayangkan harus membangunkan A yang sudah tidur pulas, lalu dilanjutkan menggendong sambil nanjak di tengah udara dingin yang bisa sampai 0 derajat, ditambah mata rasanya sudah 5 watt maka saya akhirnya dadah-dadah sama sunrise. Kawan-kawan yang lain pun akhirnya memutuskan untuk tidak menuju Sikunir. Habis itu kami pulas tidur sampai pagi.

——————————————

31 Juli 2016

img_20161118_212548329

Saya yang lagi beres-beres dikejutkan dengan Nurul yang berteriak memanggil nama saya sambil bilang “Yuliaaaaa! Happy birthday, masa gw lupa!” Haha, it’s ok.

Sejujurnya waktu tahu perjalanan ini akan mengambil tanggal hari lahir saya senang banget dan pas tahu itinnya jadi pengin lihat matahari terbit di tanggal 31 Juli tapi ternyata kondisi tidak memungkinkan ya tak apa. Saya juga nggak berharap pada inget sih namanya juga lagi jalan-jalan. Jadi pas pada ngucapin di mobil yaaaa terima kasih banyaaaak.

img_20160805_205137

Setelah gagal mendaki ke Bukit Sikunir agenda kami pagi itu adalah menuju Bukit Ratapan Angin dan dilanjutkan menuju Telaga Warna.

Terletak di dekat Dieng Plateu Theatre, Bukit Ratapan Angin merupakan lokasi terbaik untuk melihat telaga warna dari ketinggian. Naiknya lewat jalan setapak berbatu yang lumayan bikin olahraga.

img_20161007_210119799
Nurul sebelum ngos-ngosan

img_20161118_212710717

Di sekitar jalan setapak ini kita melewati ladang kubis yang banyak diantaranya masih menyisakan embun-embun beku padahal saat itu sudah pukul 9.

img_20160803_130046

Pas sampai di atas, harap hati-hati melangkah karena saya berasa goyang naik ke menara pandangnya. Maklum cuy, takut ketiup angin. Sementara banyak dari pengunjung yang datang berfoto dengan naik ke batu ratapan hingga sampai ngantri. Pesan saya cuma 1: hati-hati ya. Dari atas sini kita bisa melihat telaga warna yang cantik dengan warna hijau toscanya.

img_20161118_212601203

img_20161118_212642504

img_20161118_212621918
Telaga warna

Karena mengira yang lain sudah akan turun, maka saya dan Abang pun turun juga. Kami pun akhirnya menunggu sambil makan gorengan yang dijual di dekat area parkir. Saya juga nggak mencoba flying fox dari atas bukit ratapan angin karena mikir titik finish-nya bakalan jauh entah di mana, eeh ternyata malah nongolnya di deket parkiran heu nyesel deh.

Habis itu kami lanjut ke tujuan terakhir yaitu Telaga Warna. Enaknya di Dieng ini adalah semua lokasi berdekatan. 10 menit sampai!

Jalur di sisi telaganya kece karena dipenuhi pohon tinggi-tinggi. Syukur cuaca cerah sehingga hijaunya telaga warna jadi kontrak eh kontras sama langit.

_img_000000_000000

p_20160731_094341_1.jpg

img_20161118_212827206
Welcoming 29th

wp-1475848926312.jpeg

img_20161118_212815789

 

Selepas dari telaga warna kami pun bersiap balik lagi ke Purwokerto. Karena sudah tidak sempat maka agenda makan mie ongklok terlupakan sudah. Kami hanya belok ke tempat oleh-oleh dan membeli carica yang sudah diolah. Carica adalah buah seperti pepaya yang hanya tumbuh di Dataran Tinggi Dieng.

p_20160731_103849

p_20160731_153332

Sekitar pukul 4 sore kami tiba di Purwokerto dan lekas menuju alun-alun untuk meluruskan kaki dan bermain di lapangan. Kami pun membeli balon gelembung untuk anak-anak bermain.

p_20160731_162358

Jpeg

I guess this is the most amazing birthday. Thanks for the trip!

img-20160731-wa0012

4 thoughts on “Menuju desa tertinggi: Dieng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *