Persiapan kemping bersama anak

Kemping atau berkemah di musim hujan memiliki resiko dan tantangan. Jalur trekking yang licin, cuaca yang tidak menentu, curah hujan yang lebih sering, dan pastinya harus memiliki persiapan yang sangat matang. Apalagi jika berkemah di musim hujan ini dilakukan dengan membawa anak.

Beberapa orang (atau mungkin banyak) akan menyebut kami (terutama saya) adalah orangtua yang egois. Anak belum 2 tahun kok diajak kemping?! Musim hujan lagi! Anggapan ini terutama terjadi di alur keluarga yang tidak memiliki riwayat ketertarikan pada aktivitas luar ruang atau outdoor seperti yang terjadi pada saya. Biarlah. Toh kami melakukan perjalanan ini bukan sekedar ikut-ikutan. Ini sudah jadi incaran kami sejak dulu kala. Khususnya saya, yang memimpikan kemping sejak bertahun-tahun lamanya.

Kami pun tidak serta merta memilih medan berbahaya untuk menjadi tujuan kemping pertama kami dengan A. Naik gunung hingga puncaknya? Ah, nanti dulu. Cukup kemping ceria saja lah.

Persiapan kemping pun harus dilakukan maksimal di musim hujan ini. Sebelumnya saya membaca dulu berbagai tips dan tulisan mengenai kemping atau berkemah di musim hujan dan juga tips kemping perdana dengan anak. Dan inilah poin persiapan yang kami lakukan untuk melakukan perjalanan kemarin:

  • Packing

Sama seperti waktu ke Taipei, kami membungkus pakaian, handuk, jaket, dan segala barang dalam zipper lock. Selain supaya air tidak bisa tembus ke dalam, udara dalam plastik yang bisa diminimalisir akan membuat space di dalam tas nantinya akan bisa dihemat. Maklumlah bawaan bakal segambreng.

p_20160501_193934_ll_1.jpg

Kami memilih untuk memasukan pakaian dan handuk dengan cara digulung supaya tidak mudah lecek. Memang masih kusut juga sih tapi lebih mendingan daripada kalau dilipat. Packing dengan cara menggulung ini juga menghemat tempat. Pakaian A, saya, dan Abang dipisahkan di masing-masing plastik supaya tidak terpencar. Lalu jaket A dan selimut tebalnya dijadikan satu plastik dan diletakkan di kompartemen bawah daypack, bersama dengan popok A supaya mudah diambil ketika diperlukan.

Rincian keperluan A untuk kemping adalah:

  1. Jaket biasa
  2. Jaket tebal (pilih yang bagian dalamnya hangat atau polar)
  3. Celana panjang dan pendek. Celana panjang untuk dipakai saat malam atau pagi hari ketika dingin, sementara siang bisa pakai celana pendek untuk main-main
  4. Piyama
  5. Baju lengan panjang dan pendek. (idem dengan celana panjang). Sebaiknya baju dan celana tersebut dilebihkan sebagai antisipasi saat basah atau ketumpahan makanan, dan lain sebagainya
  6. Popok. Juga jangan bawa ngepas alias dilebihkan.
  7. Obat-obatan yang meliputi obat penurun demam, thermometer, kompres instan, hansaplast, dan oralit.
  8. Selimut
  9. Mainan kesukaan. Supaya A senang kami juga membawa mobil-mobilan dan tiga buah buku favorit yang ia pilih sendiri. Tidak lupa mainan dan buku tersebut juga dibungkus plastik supaya tidak kehujanan. Plus terima kasih untuk Tika dan Fendi yang siap sedia membawa balon tiup!
  10. Kaos kaki
  11. Apron
  12. Topi kupluk
  13. Sepatu boots

Oh iya, supaya tidak ada yang ketinggalan buatlah daftar rincian barang yang akan dibawa setidaknya dua hingga 3 hari sebelumnya dan hindari packing secara terburu-buru (kecuali kamu memang sudah expert packing deh). Kami membawa dua tas. Satu tas berisi pakaian dan kebutuhan saya juga A, satu lagi dengan keril besar yaitu pakaian Abang, tenda, matras, sleeping bag, minuman, dan cemilan.

 

wp-1477995174479.jpeg

  • Jas hujan

Di musim hujan begini tentu saja perlengkapan kami harus ditambah dengan satu lagi yaitu jas hujan. Di menit terakhir syukurlah Abang mendapatkan jas hujan untuk anak meski untuk A masih kepanjangan.

  • Precondition dan simulasi kemping di rumah selama 1 hari 1 malam

A selalu butuh adaptasi lebih lama untuk setiap hal baru. Ia akan cenderung menolak segala hal baru. Bahkan meski hal baru tersebut hanyalah berupa selimut yang baru saya beli. Maka kami pun melakukan simulasi kemping dengan cara menggelar tenda di dalam rumah. Kami juga menyetel video “camping with kids“. Sambil menonton kami memberi tahunya lebih dulu (precondition) apa-apa yang nantinya akan kami lakukan saat kemping, dan bahwa kami akan tidur di tenda dan bukannya di kamar. Saya juga semakin sering membacakan buku bertema gunung, sungai, air terjun dan sebagainya untuk A. Sementara buku tentang hujan sudah ia hafal di luar kepala karena itu sudah jadi salah satu buku pertamanya sejak ia belum bisa berbicara.

wp-1478082226476.jpeg

Esok harinya, ketika tenda sudah didirikan di ruang tamu ia menggeleng untuk masuk ke dalam. Tapi lama kelamaan ia malah minum susu dan baca buku di dalam tenda. Syukurlah siang harinya Mas Daff pun datang maka mereka asyik saja tidur-tiduran di dalam tenda.

wp-1477996951302.jpeg

wp-1477996986557.jpeg

  • Pemilihan tempat

Alasan kami ikut dalam trip kemping ceria ini juga karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Jakarta (meski ternyata waktu tempuh bergeser jauh karena macet tak berkesudahan). Tapi setidaknya lokasi kemping ini juga sudah pernah saya dan Abang datangi sehingga kami tidak “buta” total tentang medan tujuan. Ini sudah kunjungan ke-4 saya ke lokasi tersebut sehingga meski kali ini adalah kemping yang pertama dengan A semoga bisa mengusir kekhawatiran yang selalu berhembus sejak kami berangkat.

  • Pergi bersama orang yang berpengalaman

Delapan dari sembilan orang yang ikut adalah mereka yang sudah beberapa kali melakukan perjalanan panjang setidaknya 8 hingga 14 hari di tengah pegunungan, sudah pernah dan biasa kemping, juga kenal dengan ranger setempat. Di antara 8 orang tersebut pun ada yang juga membawa anak dengan usia hanya berbeda 1 bulan dengan A. Meski begitu kami tentu saja tetap tidak boleh meremehkan dan menganggap perjalanan ini adalah sesuatu hal yang gampang!

  • Perbekalan optimal

Kami membawa serta roti kesukaan A, juga membawa susu dengan stok cukup banyak. Sayangnya sang plastik susu sepertinya terjatuh sebelum kami menggelar tenda.

  • Trekking pole

Demi meminimalisir beban pada lutut dan daripada trekking pole Abang udah dibeli tapi nganggur di rumah ya udah bawa ajah.

  • Brace

Setelah nyeri pinggang selama setidaknya 3 hari pasca kondangan ke pernikahan Aisya tanpa Abang sehingga saya menggendong A selama kondangan kurang lebih 2 jam, dokter menyarankan agar saya menggunakan brace kembali untuk skoliosis saya. Setelah kunjungan ke dokter dan sakit di pinggang yang selalu timbul setiap melangkahkan kaki, saya iseng mencoba lumbar corset milik ibu. Setelah beberapa jam nyeri pinggang berangsur menghilang.

Pada kemping perdana ini A memang akan digendong Abang namun saya juga harus siap jika tiba-tiba A minta digendong oleh saya dan juga ditambah nantinya saya akan membawa tas sendiri, maka saya pun memutuskan untuk mengenakan lumbar corset tersebut demi meminimalisir posisi tubuh yang tidak benar dan beban pada tulang belakang. Saya tidak bilang kalau lumbar corset bisa menggantikan fungsi brace ya, namun pada kasus saya sekarang keluhan yang sering muncul adalah pinggang, bukan punggung seperti dulu.

Brace 1.jpg
Brace
Corset lumbal
Lumbal corset. Sumber foto: photobucket.com
  • Memilih gendongan yang tepat

Ada dua pilihan yang jadi pertimbangan saya dan Abang, yaitu Bobita Wrap atau Boba Air. Dulu A betah saja digendong dengan Boba Air tapi akhir-akhir ini cenderung menolak maka saya mengeluarkan Bobita Wrap dari lemari. Meski sebenarnya mikir juga dengan kondisi kainnya yang luar biasa panjang dan akan menyulitkan jika membetulkan gendongan di jalur trekking. Namun si Bobita wrap ini memang benar adanya membagi rata semua beban ke seluruh tubuh sehingga tidak pegal.

wp-1478056984404.jpeg
Bobita wrap

Begitu A melihat cara pakainya yang dililit-lilit dan diberi tahu bahwa ia harus saya gendong seperti kangguru, A menolak mentah-mentah dan menyuruh saya melipat kembali Bobita Wrap tersebut. Halah… Kami pun akhirnya memutuskan membawa Boba Air.

  • Izin dan doa restu

Iyes, meski sebelum berangkat sempat mendapat pertentangan dari orangtua dan ditelepon bolak-balik tapi kami tetap memohon izin untuk berangkat dan minta doa semoga perjalanan lancar jaya dan pulang dengan sehat dan selamat. Aamiin.

^^^^^^^^^^^^^^^^^

Pada akhirnya kami sudah berusaha maksimal untuk persiapan. Juga ditambah dengan rutin mengajak A ke luar rumah jauh sebelum hari H karena memang saya ingin lebih banyak mendekatkannya pada alam. Namun memang akan ada hal-hal di luar dugaan. Seperti misalnya A yang pada malam keberangkatan malah menolak tidur dan malah ikutan teman-teman Abang packing hingga pukul setengah 2 pagi. Sehingga besok malamnya di dalam tenda ia jadi rungsing karena kurang tidur. Ditambah mungkin baru pertama melihat kegelapan di luar tenda. Tapi tak apa, saya menganggap bahwa penyebab tantrumnya adalah bukan karena diajak kemping. Lha sebelumnya diajak ke pasar sama kantor imigrasi aja juga bisa rungsing, diajak Uti-nya ke tempat bermain di Mall malah mau kabur sambil nangis =_=.

Semoga akan ada kemping selanjutnya dengan kondisi yang lebih tenang ya, Nak. Aamiin. Esok harinya ia makan dengan lahap, mungkin karena malamnya energi habis karena kebanyakan nangis. Ia pun tidak menolak trekking dengan jalan sendiri di antara batu-batu dan malah memanggil-manggil saya yang kebanyakan berhenti untuk moto pohon dan nyari burung. “Mamah, ayo.. Mamaah!”

Pada akhirnya saya pun nggak kuat cuy ngagendong keril yang kata Abang sebenarnya “cuma” kantong hape itu (blaah, gaya beuts!). Saya cuma kuat nanjak sampe pos haha itu mah berapa meter doank yee. Saya tetap bawa tas sendiri lalu Abang tukeran tas sama Ali karena Ali cuma bawa daypack.

p_20161029_121749.jpg
Pas masih bawa tas

Habis nanjak sampe pos, punggung berasa kretek-kretek tapi saya diem aja sih. Palingan pas Abang tanya berat nggak ya saya jawab berat. Trus ternyata habis itu keril Abang dibawain Mang Diki, lalu tas saya dibawa Abang padahal Abang juga udah gendong A. Intinya saya cuma bawa tas kamera doank. Turunnya malah cuma bawa balon hahaha. Emang dasar nyusahin beuts.

Catatan perjalanan secara rinci insya Allah menyusul. But I do really love the air in the last day of October in those place. Dan setelah saya sudah kemping sebenar-benarnya (meski belum bisa matiin api trangia), maka saya (berasa) SAH untuk mengutip ini. Sebuah kalimat yang dulu kerap dikutip Abang saat dirinya menempuh perjalanan bertahun-tahun lalu:

“Now i see the secret of making the best person: it is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth.” ~ Whalt Whitman.

One bucket list checked! Alhamdulillah!

dscn1512_1.jpg

wp-1477997969777.jpeg

 

11 thoughts on “Persiapan kemping bersama anak

  • November 6, 2016 at 2:14 pm
    Permalink

    Wah pasti persiapannya bener2 harus matang ya mbak kalo sama anak2, tapi abakalan seru nantinya kalo sudah sama anak2 atau sama saudara yang lain..

    Reply
    • November 9, 2016 at 9:51 am
      Permalink

      Iyaaah seru bingits! 😆

      Reply
    • November 9, 2016 at 9:52 am
      Permalink

      Hihi iya nih biar lebih dekat sama si alam

      Reply
  • November 10, 2016 at 9:18 pm
    Permalink

    Seruuu..aku suka banget liat ibu ibu yang suka outdoor activity begini..salut! Waktu tinggal di kutub sering liat ibu2 bawa anaknya camping ke gunung..itu lebih ajib lagi 😀

    Reply
    • November 11, 2016 at 3:00 pm
      Permalink

      Haaaa kutub. Kalo aku ke sana pasti bawaannya lebih segambreng hihi

      Reply
      • November 11, 2016 at 3:28 pm
        Permalink

        Ha ha ha…harus mbak ..terutama wedang jahe, bumbu pecal 😀 yang anget anget

        Reply
  • November 12, 2016 at 9:53 am
    Permalink

    belum pernah sama sekali camping bersama keluarga

    Reply
    • November 12, 2016 at 1:37 pm
      Permalink

      Hayuk kemping mbaak hehe.

      Reply
  • November 17, 2016 at 3:24 am
    Permalink

    aaahh senangnya A udah diajak kemping sama mamah n papah yaaa…. next time udh bisa bawa keril sendiri yaa dek? hihihi. kasi tau dooong lokasi kempingnya dmn ini? aku cuma tau ini masih di TNGP bukan?

    Reply
    • November 18, 2016 at 12:38 pm
      Permalink

      Hehe iyah Angga di TNGP :p

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *