Kemping dan trekking pertama A

Ajakan kemping ini datang di tengah kegalauan saya yang saat itu seolah akan melewati PPBI tahun ini. PPBI atau Pertemuan Pengamat Burung Indonesia yang tahun lalu saya ikuti di Bandung (juga dengan mengajak A), kali ini digelar di Lombok. Namun izin untuk berangkat sendirian tidak tembus sehingga kalau saya mau ikut ya saya juga harus mengajak Abang dan A. Sayangnya ini hampir tidak mungkin karena berarti saya harus membeli tiket pesawat sejumlah 3 buah yang pastinya mihil dan juga belum ditambah harus memikirkan di mana nantinya kami akan bermalam (karena panitia kabarnya menyediakan tenda pleton saja. Emang banyak alesan tapi yang jelas kalo ada sponsor yang ngasi voucher nginep gratis di hotel sih saya pertimbangkan untuk berangkat. Tapi sayangnya nggak ada heu).

Maka ajakan kemcer alias kemping-ceria di Cibodas dari teman-teman Abang  ini seolah jadi berkah yang turun dari langit buat saya. Alhamdulillah, ada rezeki dadakan! Kami pun menyanggupi meski sudah bisa menebak nantinya ketika memberi tahu yang lain kami akan dilarang ini dan itu, juga mungkin akan dimarahi dan dicap egois. Ujan-ujan kemping, ngajak anak belum 2 tahun pula!

Maka sebelum melakukan perjalanan ini kami pun melakukan berbagai persiapan (yang diharapkan) matang dan nggak ada yang ketinggalan.

Baca juga:

Hatrick Cibereum

Persiapan kemping bersama anak

Jumat, 29 Oktober 2016

Kami akan berangkat pada Jumat malam karena masih ada teman-teman yang baru pulang kantor malam hari. Saya dan Abang pun baru selesai packing setelah jam 9 malam. Satu daypack saya plus satu keril Abang jadi bawaan kami saat itu. A yang siang itu tidur cukup lama, menolak untuk tidur setelah Isya seperti biasa dan malah mondar-mandir ngeliatin kami packing.

Pukul setengah 10 kami berangkat ke Cijantung. Rencananya kami akan berkumpul di rumah Fikri, dari sana baru akan berkumpul dan naik mobil Fendi bersama-sama.

Saya pikir si bocah bakalan tidur sepanjang perjalanan ke Cijantung, lha kok malah nyanyi-nyanyi di mobil. Sepanjang perjalanan pun kami memberi tahunya bahwa kami akan ke rumah teman Papahnya, bertemu beberapa orang, dan nantinya pergi kemping. Sekedar catatan kalau precondition macam ini penting banget buat A yang perlu adaptasi lebih lama kalo ketemu orang atau lingkungan baru.

Begitu sampai rumah Fikri, ternyata baru kami saja yang datang. Teman-teman lain masih belum sampai dan masih  berada di rumah masing-masing. Syukur A nggak kabur ketika masuk ke dalam rumah Fikri. Soalnya sering banget kejadian kami masuk ke rumah atau gedung terus A kabur ngibrit karena nggak mau masuk hehe. Di rumah Fikri kami selonjoran dulu sambil saya tetep maksa A untuk tidur. Sayangnya si bocah malah mondar-mandir doank.

Menjelang tengah malam barulah mulai datang Fendi dan Tika, juga Odoy dan Nopi plus anaknya, Sina. Sina tertidur dan tetap seperti itu hingga kami berangkat. Sementara A tetap dengan tingkahnya. Gile, bro. Ni bocah begadang! Padahal emaknya udah ngantuk bingits hiks…

Sabtu, 30 Oktober 2016, tengah malam

Tika bawa segala persiapan logistik yang jumlahnya banyak, yah maklumlah namanya juga kemping ceria. Harusnya perbaikan gizi donk dan bukannya kekurangan makanan hehe. Saya takjub juga sama kemampuan mereka-mereka ini yang bisa memasukkan semua barang dan makanan itu ke dalam keril. Kalo saya mah bakalan saya cemplung-cemplungin aja ke tas dan nggak yakin bisa muat semua.

Akhirnya kami pun berangkat pukul setengah 2 pagi. Di mobil, A masih ajaaaa ya nyanyi-nyanyi hingga akhirnya tidur sendiri karena capek. Tapi kata para saksi sih sebelum A tidur, emak bapaknya udah tidur duluan hehe. Kami sampai di Cibodas sekitar jam 3-an dini hari. Kami yang awalnya mau numpang tidur di warung akhirnya nggak jadi, kecuali Odoy, Nopi, dan Tika yang akhirnya selonjoran di warung. Itupun kabarnya bukan di warung yang jadi rencana di awal karena dari sejauh mata kami memandang dari parkiran, semua warung rasanya rame bener oleh deretan pendaki yang mau naik besok paginya. Ditambah lagi suhu udara terasa dingin banget di luar. Semua itu ditambah satu alasan utama lagi yaitu kalau saya mengubah posisi A yang lagi asyik tidur, pasti ia bakalan langsung bangun. Syudahlah, kami pun pilih tidur di dalam mobil saja. Jangan lupa ya kalo pakai AC jendelanya dibuka karena mobilnya berhenti. Tapi saya lupa waktu itu kami pakai AC atau tidak ya, karena yang jelas udaranya sudah cukup bikin menggigil jadi nggak perlu pasang AC lagi.

dscn1336

Pagi-pagi langit cerah dan cuaca mendukung ihiiy! Saya yakin bener ini cuaca bakalan cerah dan kami bisa pose dengan latar Pangrango di jembatan gayonggong nantinya sekitar pukul 9-an. Pagi itu kami pun baru tahu kalau akan ada upacara hari Sumpah Pemuda, makanya rruame benerr.

dscn1327

dscn1334

Kami pun sarapan bubur dulu sambil A lihat-lihat sekeliling dan ngetawain nanas yang baru ia lihat. “Ini apa, Mamah?” katanya sambil cekikikan ngeliat nanas digelar di pinggir jalan.

img_20161031_165200

Habis sarapan bubur kami rupanya nggak langsung naik karena kabarnya mau nunggu dua orang teman lagi yang datang. Maka kami beserta rombongan pun pindah ke warung yang memungkinkan untuk dibajak dijadikan basecamp. Sampai akhirnya saya lapar lagi, ternyata rombongan belum bergerak juga dan A tetap menolak untuk tidur lagi sementara Sina sudah tidur kembali. Ealaah…

dscn1350

Sambil menunggu, saya dan A kelilingan sekalian mencari Taman Baca Cibodas yang dulu pernah saya dan Abang singgahi, sayangnya tempat tersebut sudah berganti bangunan yang lain. Ah, sayang sekali.

Dari tempat saya berdiri, kami pun bisa melihat Gede-Pangrango yang puncaknya itu selalu saya rindukan.

dscn1348

 

Kawah Gede
Kawah Gede

Pukul 9 langit mulai mendung dan saya mulai ketar-ketir memikirkan rundown yang sebenarnya tak ada. Ah, maapkan ibu ini yang mulai risau karena memikirkan jika kami harus menanjak pertama kalinya bersama A dalam kondisi langit gelap. Gerimis kemudian mulai berhenti sehingga saya mulai tenang lagi dan berharap semoga perjalanan nanti tetap lancar dan cuaca berubah drastis menjadi cerah. Hingga akhirnya ketika kawan yang ditunggu sudah datang, tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras. Saya masih berusaha menyuruh A tidur agar ia tak rungsing nantinya tapi hasilnya tetap nihil. Dan saya malah yang mulai senewen karena memikirkan bahwa dengan membawa anak seharusnya kami “stick to the schedule”. Tapi waktu saya tanya ke Abang; “Jadwal apa? Kita kan berangkat santai dan tak ada target yang harus dikejar”.

Ah, ya benar juga. Saya terlalu terbawa kondisi bahwa hanya saya satu-satunya yang newbie akan lingkungan gunung seperti ini sehingga yang melekat dalam pikiran adalah bahwa mereka dan juga saya akan berangkat sesuai jadwal dan on time. Ditambah dengan adanya kondisi membawa anak maka tak ada jadwal yang pasti dan segalanya disesuaikan dengan kondisi yang ada. Ah, maapkan emak sok tahu ini.

Akhirnya saya meyakinkan diri bahwa cuaca akan baik nantinya dan kami akan berangkat pada waktu yang tepat dengan aman dan sehat.

Ali, kawan yang datang belakangan dan hanya membawa daypack akhirnya didaulat membawa keril Abang sementara Abang membawa daypack Ali. Mereka tukeran mengingat Abang menggendong A di bagian depan. Pukul 12-an siang cuaca mulai cerah dan kami pun naik ke pintu masuk TNGP. Cuaca masih oke sehingga kami berkesempatan foto duluuuu.

img-20161229-wa0008
Foto: Ali

Ketika sampai di pos rupanya langit malah kembali gelap dan hujan turun dengan derasnya sehingga kami berteduh lagi di pos Montana. A asyik saja mondar-mandir dan tidak lama datanglah dua orang perempuan. Mereka rupanya Didi dan Hilda dari Mahitala Unpar yang akan naik. Dua orang ini adalah dua srikandi yang sedang melaksanakan visi 7 summits dunia dan bulan Desember ini akan naik ke Vinson Massif di Kutub Utara! Mereka gemas dengan A dan berusaha menggendongnya.

img_20161210_063131

Pada akhirnya kami baru mulai naik sekitar pukul 2 siang dalam kondisi gerimis. Syukurlah porter yang awalnya sempat belum tahu apakah bisa mengantar kami atau tidak, akhirnya sudah dipastikan akan membawa keril Abang. Sehingga Abang membawa tas saya. (Ini yang baca nggak bingung kan tentang tuker-tukeran tas? Abaikan saja lah kalo bingung hehe). Intinya saya naik cuma bawa diri, kamera, sama megang trekking pole.

A sudah lengkap dengan jas hujannya dan digendong Abang pakai boba air sambil juga memegangi payung. Hujan turun rintik-rintik dan kadang deras. Kami melangkah perlahan karena kondisi jalan menanjak berbatu itu terkadang licin. Saya sama sekali tidak bisa mengeluarkan kamera karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan. Dalam hati, kali ini saya yakin puncak Pangrango tak akan bisa kami lihat dalam cuaca yang mendung dan hujan seperti ini.

“A, ada cacing.” , “A, ada suara burung.”, “A, ada kabut.” saya terus bersuara memanggil A yang berada dalam gendongan Abang dan berjalan di belakang saya. Maksudnya supaya ia tidak bosan dan terus semangat di perjalanan.

Sambil menanjak, kami berpapasan dengan rombongan dan kelompok-kelompok kecil yang habis dari Cibereum. Saya memerhatikan ekspresi mereka yang terkadang takjub dan melongo melihat A di gendongan Abang. Terlebih ketika saat itu A lama kelamaan tertidur karena (akhirnya) mengantuk karena mungkin terayun-ayun selama penanjakan.

Karena prinsip perjalanan ini adalah “tidak boleh ngos-ngosan“, maka kami akhirnya berhenti di beberapa titik. Dengan kondisi saya yang sudah dadah-dadah sama rutinitas jogging atau jalan pagi, ini sudah prestasi tersendiri bahwa saya baru menarik nafas dan istirahat sambil duduk di batu pada jarak sudah sekian kilometer. Kali ini saya nggak nanjak pake brace tapi pake korset lumbal.

Perkataan bahwa “tak mungkin puncak Pangrango terlihat” rupanya dimentahkan. Saya pun kembali diingatkan akan hal ini bahwa kita tak akan bisa memprediksi alam. Menjelang kami melangkah di jembatan rawa gayonggong, hujan berganti gerimis. Kabut terlihat menyelimuti perbukitan di sebelah kanan kami. Tapi jauh di depan sana, kabut di puncak Pangrango malah menghilang dan ia menyapa kami sambil tersenyum.

Terima kasih banyak untuk Tika yang sudah mengabadikan momen kami ini. A terbangun dan berkata bahwa ada banyak asap (bukan kabut) sehingga seharusnya pemadam kebakaran datang ke gunung.

img-20161117-wa0003

Sesudahnya hujan kembali turun dengan deras. Seekor burung madu terbang rendah di depan saya dan dalam waktu yang cukup lama sambil mencari-cari sesuatu di dekat pepohonan. Saya tak mungkin mengeluarkan kamera sehingga momen itu cukup saya rekam saja di kepala. Suatu hari, semoga kita berjumpa lagi. Insya Allah. Aamiin.

Menjelang tiba di tempat kemah, hari sudah semakin sore. Akang porter sudah sampai duluan dan kami pun memasang flysheet juga mendirikan tenda (bukan saya sih yang masang, saya nongton doank sambil nyuapin A makan roti). Hujan sudah berhenti dan wangi tanah lembab meruap dari sekeliling kami. Ketika tenda sudah jadi sepenuhnya kami menggantikan baju A terlebih dulu lalu membereskan sleeping bag dan selimut A. Sekeliling kami sudah gelap dan yang terdengar hanyalah suara air dan serangga. Saya menyusui A yang mulai senewen. Syukurlah Fendi dan Tika membawa balon tiup dan memberikannya pada A sehingga ia lumayan tenang.

Menjelang malam hari, A mulai rungsing dan menolak makan. Ia menuntut ini dan itu yang saya tahu sebenarnya semua serba salah di matanya. Beginilah akibat kurang tidur semalamam. Ia menangis hingga berteriak-teriak dan hampir melempar piring berserta makanannya yang sedang dipegang Abang. Saya menyusuinya dan ia kembali tertidur. Sayangnya itu hanya bertahan hanya setengah jam. Ketika saya hendak makan, ia kembali terbangun dan berteriak-teriak kencang. Terkadang ia meminta tenda dibuka, lantas ditutup, dibuka lagi, dan begitu seterusnya sambil menangis kencang. Oalah… ini sama saja seperti waktu ia kabur dari tempat bermain di mall.

Saya meneguhkan hati supaya tidak memarahinya karena diajak menyusu pun ia ogah. Ketika akhirnya ia kelelahan, saya menyusuinya dan ia tertidur kembali namun menolak untuk tidur di sleeping bag. Ia tidur dekat dengan pintu tenda. Padahal di sana lah angin dan udara dingin sangat terasa sekali. Tapi karena saya tak mau membangunkannya lagi yang sudah tertidur pulas, akhirnya ia tetap kami biarkan tidur namun sambil menutupinya dengan jaket dan selimut tebal.

Saat itu, bayangan leyeh-leyeh sambil bercengkerama dengan teman seperjalanan di luar tenda sambil menikmati suara gemericik air dan menciumi wangi petrichor sudah sirna dari kepala saya. Saya cuma mau tidur dan meringkuk di dalam sleeping bag sebelum A  kembali bangun. Ya nasib, emak-emak kemping. Samar-samar sesungguhnya saya mendengar suara bunyi neng-nong-neng-nong stasiun kereta. Antara ilusi atau benar memang ada yang saya dengar, au ah. Yang jelas saya mau tidur.

Minggu, 31 Oktober 2016 dini hari.

Udara dingin menyerbu kaki saya yang luput dari selimut. HP saya mati total dan entahlah saat itu pukul berapa. Saya kaget waktu ingat awalnya Bang Dedi mau ikut tidur di dalam tenda kami. Tapi mungkin tidak enak dan mengurungkan niatnya karena A nangis-nangis. Lalu Bang Dedi tidur di manah?! Nggak enak membayangkan tenda sebelah yang diisi sampai lima orang, duh!

Karena ternyata (kayanya) masih jam 2 dini hari, jadilah saya tidur lagi. Dan akhirnya baru bangun sekitar pukul setengah 6. Yang bangunin? Ya A seperti biasa layaknya di rumah! Saat itu saya lega sekali, melihatnya membangunkan saya dengan wajah ceria seolah semalam tak terjadi apa-apa. Ia sudah cukup tidur dan mood-nya kembali terjaga. Alhamdulillah.

Tika dan Nopi menyiapkan sarapan. Saya (yang sejujurnya) minder nggak bisa masak dan make trangia, akhirnya ikut membantu mengacak-ngacak masakan. Kami menggoreng sosis, kentang, nugget, juga pisang goreng! Hebat euy Tika ngebawa ini semua hehe.

dscn1385
Lensa kamera sampe kena uap pisang goreng panas

dscn1504

dscn1508

dscn1509
Dua koki hebat

A asyik melihat-lihat sekeliling sama Abang. Ia senang sekali memakai sepatu boot yang sudah dibawa. Meski beberapa kali merasa terintimidasi oleh Sina (nanti saya ceritakan kenapa ia selalu merasa terintimidasi oleh anak lain yang menurutnya lebih muda darinya). Meski kami sudah memanggil Sina dengan sebutan kakak, supaya A tahu bahwa Sina lebih tua darinya, namun mungkin karena tinggi badan yang tidak terlalu jauh, A tetap menganggap Sina adalah saingannya.

Beberapa kali Sina memegang tali rafia dan A melarangnya sambil bilang, “Nggak boleh! Ini punya dede!” Lalu Sina cuek saja dan malah sengaja memegang tali rafia sementara A mengulangi kata-katanya. Kami pun sampai harus memisahkan karena mereka sudah hampir dorong-dorongan. Lain waktu mereka berebutan megang daun!

Please deh, ini hutan. Daun ada segambreng tapi mereka masih aja berebutan. krik…krik….

dscn1534
Berebut tali rafia

Setelah itu kami trekking ke curug Cibereum. A semangat sekali dan sesekali berjalan sendiri tanpa digendong. Kalau saya berhenti untuk mencari-cari burung di pohon, A memanggil-manggil dan menyuruh saya jalan lagi. Begitu sampai di air terjun ia terlihat terpukau dengan air yang mengucur dari atas tebing itu.

dscn1387

dscn1432

dscn1457

Fikri yang membawa drone pun tak lupa untuk menerbangkan si pesawat mini tanpa awak itu. A girang bener liatnya tapi malah jadi takut dan minta gendong. Sementara saya zoom in kamera ke mana-mana, sayangnya nggak berjumpa dengan elang jawa hiks.. . Apalagi elang migran dari Siberia. Syedih akyu.

dscn1415

dscn1466
Hello, my friend we meet again..

 

dscn1473

Dari Cibereum kami trekking lagi, masak-masak lagi ngabisin bahan makanan yang berlimpah dan perbaikan gizi buat saya. A sibuk merhatiin tanah dan air, sesekali saya kasi tahu tentang jamur dan lumut yang ada di pohon dan selama ini pernah ia lihat di buku.

dscn1556

dscn1560

dscn1565

Selesai masak-memasak, Fikri dan Fendi berebutan nyuci peralatan masak. Berebutan maksudnya berebutan nggak mao nyuci hehe. Akhirnya Fikri yang turun ke sungai. Dan nggak lama kedengeran bunyi klontang! Terus semua pada riweuh karena yang nyuci nggak balik-balik.

Ternyata trangia hanyut! Abang udah tereak nggak usah kejar trangianya. Tapi si Fikri tetep ngejar trangia hanyut itu sampe entah ke mana. Alhamdulillah trangia sama orangnya balik lagi ke tempat kemping.

Ketika menjelang siang hari, hujan turun kembali. Kami Mereka membereskan tenda dan flysheet sementara saya menyusui A yang tengah ngantuk-ngantuk. Duduk di atas matras yang digeser ke sana ke mari karena tampyas dari flysheet, saya menenangkan A yang memegangi kaos kakinya yang basah. Syukurlah ia nggak riweuh menanggapi kaos kaki lembab itu. Padahal biasanya kalau kakinya basah atau kotor ia akan langsung merengek. Sambil merapikan semua tenda, flysheet, trangia kami memastikan nggak ada sampah yang ketinggalan. Semua dimasukin keril besar dan dibawa turun lagi. Di tengah guyuran hujan deras, kami baca doa supaya perjalanan turun lancar, aman, dan selamat.

Kali ini saya malah nggak bawa kamera. Turun cuma bawa trekking pole sama balon! Di perjalanan turun, kami bertemu dengan rombongan yang baru naik sambil hujan-hujanan. Tapi kali ini rupanya pedagang di TNGP sudah siap dengan berjualan jas hujan plastik yang murah meriah. Karena hampir semua yang berpapasan mengenakan jas hujan plastik dengan model yang sama. Di perjalanan turun, A tertidur lagi. Menjelang kami sampai di pos, gerimis baru berhenti.

Sampai di bawah barulah matahari benar-benar muncul. A akhirnya bangun dan malah menikmati trekking berjalan sendiri. Ketika melewati tulisan besar TNGP, ada mobil patroli polisi yang parkir dan ia enggan bergerak. Barulah setelah dibujuk cukup lama sampai beberapa orang yang melihat tertawa, A akhirnya mau melangkahkan kaki sambil dadah-dadah sama mobil polisi.

dscn1580

Setelah itu kami ganti baju dulu untuk kemudian melanjutkan perjalanan lagi ke Jakarta. Kami naik mobil Fendi san Tika sementara yang lain naik mobil Ali.

Jalan raya rupanya macet sekali hingga kami kelaparan. Mereka-mereka yang naik mobil Ali malah katanya sampe ngegadoin indomie. Akhirnya kami berhenti dulu di Cimory, saat itu sekitar pukul 17.00. Seriously, kalau tidak dalam suasana kelaparan, kamera nggak dipegang, hape mati, dan bocah yang tidur di gendongan, saya bakalan jepret-jepret buat nambahin review restoran di blog ini. Soalnya baru kali ini, saya mau makan dan udah laper pisan eeh begitu sampe di restorannya dapet nomor antrian panjang hiks… Tapi, pemandangan di bagian belakangnya keren kok!

Maka wajah-wajah kelaparan pun berganti dengan wajah-wajah kekenyangan. Lumayan lah ngisi perut karena perjalanan masih jauh. Masih macet, cuy! Ya Allah… pasti ini macet gara-gara kami naik mobil. Beneran deh.

Mobil beriringan lewat jalur potong yang nggak macet menuju jalan tol. Dari jalur berkelok-kelok yang kami lalui terlihat lampu-lampu nun jauh di bawah sana. Jalur itu gelap dan sunyi. Kabarnya malah jangan coba-coba lewat jalur itu dengan naik motor sendirian. Dari setiap belokan yang terdengar hanya suara mobil kami dan sesekali rombongan motor melintas.

Sudah sejak perjalanan pulang ini dimulai, segala obrolan sudah dikeluarkan oleh penghuni mobil. Mulai dari ngomongin gosip gondola di TNGP, canopy trail, sampe gosip tetangga. Makin malem semua makin tepar. Sebenernya saya pun mau tidur tapi nggak tega.

Hingga akhirnya kami sampai kembali di rumah Fikri jam 10an malem. Paaas banget, sama persis jamnya kaya waktu kemaren baru dateng mau kemping hehe. Lanjuts lagi ke rumah hingga akhirnya sampai sekitar pukul setengah 12an. Alhamdulillah. I really like wanna crawl to my bed and says let’s go camping again..

Terima kasih kepada teman seperjalanan semua muanya. Maapkan saya yang newbie ini. Nggak bisa masak, nggak bisa diriin tenda, nggak bisa matiin api trangia. Nyemplungin kentang ke nesting aja salah. Ya Allah… sedih bener…

Terima kasih buat Tante Tika, Tante Nopi, Sina, Om Odoy, Om Ali, Om Fendi, Bang Dedi, dan Om Fikri buat bantuannya selama perjalanan kemping pertama A ini. Semoga nggak kapok untuk ajak-ajak kami lagih.

img-20161229-wa0007
Foto: Ali

And, thanks A.. for making your mom’s dream come true… tahun depan insya Allah Jawa Timur ya. Aamiin. Siap-siap aja diomelin Uti hehe.

“People fall in love in mysterious ways
Maybe it’s all part of a plan
Well, I’ll just keep on making the same mistakes
Hoping that you’ll understand…

Maybe we found love right where we are…”

dscn1584

In case you want to see Fikri’s video of TNGP, here’s the link:

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *