Refleksi 2 tahun menjadi ibu


Terima kasih sudah lahir ke hidup Mamah ya, Nak! Tepat 2 tahun yang lalu kamu lahir dan mbrojol dari rahim Mamahmu ini.

Terima kasih sudah selalu mengajarkan segala hal, termasuk menjadi ibu yang sabar menghadapi segala hal dan lingkungan sekitar.

img-20141221-wa0003

Maafkan kalau selama ini belum menjadi ibu yang baik dan ideal. Belum bisa membuat masakan yang benar, beberes rumah, dan segala hal lain yang standarnya biasanya ditentukan oleh banyak orang dan kadang Mamahmu mengikuti arus tersebut.

Mereka bilang ibu yang baik itu harus membuat masakan sendiri untuk keluarganya. Dan Mamahmu harus berdamai dengan diri sendiri karena hampir tiap hari kita beli nasi uduk di ujung gang!

Kalaupun sempat memasak siang hari saat kamu tidur, itupun di sela kegiatan yang lain.

Maafkan, maafkan, maafkan.

Juga hampir setiap kerabat datang ke rumah, selalu berkomentar betapa berantakannya rumah kita dan langsung beberes ini dan itu hingga Mamah berasa sedang digerebek, bahkan membuang barang yang sebenarnya Mamah kumpulkan untuk kita bikin prakarya!

Bukannya malas, tapi punggung Mamah kadang hanya menuntut rebahan setelah seharian. Dan beberapa bulan lalu di umur yang bahkan belum 2 tahun kamu sudah bisa membantu Mamah beberes dan mengembalikan buku yang habis dibaca ke raknya. Mamah memilih meletakkan rak buku di ruang tengah supaya terjangkau olehmu dan latihan bertanggung jawab pada apa yang sudah dibaca. Tapi ya kadang-kadang kamu juga keburu tidur sebelum selesai membereskan.

Sebenarnya bagi Mamah perkembanganmu luar biasa. Tapi semoga yang Mamah tulis ini tidak dijadikan patokan oleh mama-mama pembaca sehingga membandingkan dengan anaknya. Karena setiap anak itu unik dan berbeda-beda.

Jpeg
Jpeg

Sebagai anak pustakawan, sejak bayi kamu dikenalkan dengan buku, tapi cuek-cuek aja tuh. Nggak excited atau gimana. Waktu usia 1 tahun juga masih biasa saja. Tapi Mamah kekeuh ngenalin buku. Kata orang sih, buat apa? Belum bisa baca! Biar saja. Manfaatnya baru terasa nanti. Dan benar saja. Semenjak kita pindah rumah dan Mamah Papahmu memutuskan untuk nggak pasang tivi di rumah, sejak itulah Mamah menggelar sesi baca di setiap waktu. Lalu lama-lama kamu mulai tertarik. Mamah nggak ngajarin kamu baca a-i-u-e-o. Belum waktunya! Tapi hanya pengenalan ke buku dan berbagai kosakata.

Buku hujan dan buku bebek pun jadi favoritmu. Sampai-sampai lagu-anak yang pertama kamu bisa ya “tik.. tik.. tik… nyi ujan..”.

Lalu berturut-turut usia 1.5 tahun kamu sudah mulai bisa ngomong. Meski masih diiringi nangis jejeritan kalau kami tak mengerti maumu apa. Juga Mamah menduga mungkin masih bawaan waktu Mamah baby blues dan suasana hati kamu tak enak. Lingkungan sangat tidak mendukung saat itu, juga mungkin kita terlalu sering pindah rumah dan lokasi sehingga kamu perlu adaptasi dari awal lagi. Maafkan, maafkan, maafkan.

Juga maafkan mungkin perilakumu yang suka nangis itu karena dulu kami tak kuasa sehingga membiarkan orang sekitar merubah namamu, nama yang sudah kami susun sedemikian bagusnya. Nama yang artinya baik, tapi aneh menurut mereka karena tak jamak. Sehingga selama hampir seminggu kami membiarkanmu tanpa nama padahal kamu sudah dipanggil dengan sebuah nama ketika masih di dalam rahim. Ini mungkin membingungkan!

Juga maafkan lagi-lagi kami tak kuasa ketika mereka menyuruh kami merubah nama panggilan kami sendiri. Padahal, lagi-lagi, itu juga nama panggilan yang sudah kami sebutkan dengan penuh sayang saat kamu masih di perut. Mereka bilang nama panggilan kami ini pun juga aneh dan tak layak. Mereka nggak tahu aja, teman-teman Mamah malah ada yang dipanggil ibun, amam-apap, mamuw-papuw, miku-piku, abuwa, dan sederet panggilan lain. Lalu kami pun lagi-lagi harus menurut dan merubah nama panggilan kami sendiri. Maafkan, maafkan, maafkan atas proses membingungkan ini.

Ketika dirimu bahkan belum genap 2 tahun kamu sudah hafal berbagai nyanyian-anak (Mamah hobi nyanyi sih), hampir hafal solawatan, dan sudah tahu mau minta dibacakan buku apa.

Sekarang kamu sudah bisa menyusun kalimat, mendefinisikan benda (besar-kecil, tinggi-pendek), sudah tahu warna, tahu hubungan sebab-akibat, juga bertanya ini-itu pada segala hal, juga lawan kata. Misalnya “kenapa kaki Mamah yang kiri sakit, yang kanan nggak?”. Juga daya ingatmu luar biasa. Kalau kami nggak sengaja buka buku yang ada gambar gunungnya maka kamu langsung bilang “ini puncak gunung!” Lalu disambut dengan cerita air terjun, tenda, dan kabut. Kamu ingat waktu kita pertama kali kemping!

Kamu bahkan sudah tahu ekspresi kalau Mamah marah dan kamu langsung minta maaf. Ah, maafkan kejadian beberapa hari lalu ya waktu kamu di dapur dan ribut tak sabar minta digendong hingga menyenggol piring dan kena kaki Mamah sementara rotinya mental ke lantai. Spontan Mamah marah-marah. Tapi sekejap langsung takjub karena di tengah kekagetan kamu malah langsung memungut roti dari lantai dan mengembalikannya ke piring lalu lari ke Mamah. Duh, hebatnya refleksmu.

Maafkan atas kekacauan hari itu. Siangnya Mamah nangis-nangis waktu cerita kejadian itu ke sahabat Mamah. Mungkin yang dibutuhkan adalah sesi curhat sesama ibu-ibu, terutama ibu yang tidak men-judge. Bersyukur sekali Mamah ketemu sama teman kuliah Mamah di seminar itu. Ia cukup mendengarkan dengan seksama, menatap mata Mamah, sambil mengusap bahu. And that’s more than enough!

Setelah selalu di-judge ini itu, menyenangkan sekali bisa curhat sama dia. Apalagi setiap harinya Mamah di rumah dan jarang banget bisa curhat sama ibu yang lain.

Ini kenapa jadi curhat tentang Mamah? Kita kan lagi ngomongin kamu ya, Nak!

Maafkan selama ini selalu banyak kekurangan. Terima kasih sudah membantu mewujudkan mimpi-mimpi Mamah. Terima kasih kamu sudah bersedia ikut Mamah birdwatching dan ikut seminar di Bandung ketika kamu belum genap 1 tahun, juga berkat kamu kita malah ke Taiwan di usiamu yang 1.5 tahun. Daan impian Mamah buat kemping sama anak terwujud waktu kita kemping bareng Oktober lalu. Juga terima kasih sudah membuat Mamah melepas masa kerja kantoran dan bekerja di rumah sehingga kita bisa sesuka hati baca buku bareng dan lihatin awan di langit. Iyah, meskipun ngeliatin awannya pas jam 2 siang ketika matahari sedang mateng-matengnya!

Maafkan usaha Mamah yang belum maksimal, kaki dan pinggang Mamah sekarang malah sakit lagi dan tak bisa menggendongmu hanya karena kemarin habis mengangkat ceret ke kompor. Lalu siangnya kita malah diseruduk motor. Maafkan kamu harus mengalami kejadian itu, padahal papahmu sudah kasi lampu sen tapi motor itu malah menghantam kita dan kena kaki Mamah. Maafkan juga Mamah terpaksa memarahi orang itu di depanmu atas perilakunya. Kami salah karena memarahinya di depanmu. Maafkan ya, Nak.

Tolong bantu Mamah membuatmu jadi anak mandiri ya. Maafkan tak banyak mainan yang dibeli untukmu. Kami ingin nantinya kamu mengerti ada proses di balik pembelian sebuah barang. Kami bahkan ingin membolehkan saja ketika nantinya sudah besar kamu minta kamera dan kamu jualan es batu di depan rumah buat memperoleh uang.

Tolong bantu Mamah juga untuk merelakan jika nantinya kamu harus ikut konferensi dan berkeliling negara karenanya. Apapun, asalkan berkah dan bermanfaat untuk ummat.

Semoga kamu selalu menjadi anak sholeh, sehat, bermanfaat, berbakti pada orangtua, sayang agama dan lingkungan. Aamiin.

Selamat hari lahir yang ke-2!

Salam sayang,

Ama

img_20161102_110426

2 thoughts on “Refleksi 2 tahun menjadi ibu

  • December 22, 2016 at 5:58 am
    Permalink

    Selamat hari jadi kedua ya A, semoga jadi anak yang Sholeh berbakti pada orang tua, berguna bagi bangsa dan negara. Untuk mamahnya selamat hari ibu.

    Reply
    • December 22, 2016 at 5:58 am
      Permalink

      Aamiin. Makasi doanya yaa. Selamat hari ibu juga, salam dari A yang lagi bobo ^^

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *