Ketika merasa tidak percaya diri


Ada moment-moment ketika saya merasa tidak percaya diri dengan tubuh dan diri saya sendiri. Moment ketika saya merasa tidak cantik dan tidak mampu melakukan sesuatu.

  1. “Jangan pakai baju itu. Aneh, nanti bikin malu.”

Sejak dulu saya melihat dari lingkungan terdekat untuk selalu memerdulikan perkataan orang lain dan lingkungan sekitar. Memerdulikan di sini bukan dalam artian menerima kritikan tetapi lebih kepada rasa khawatir dan malu dalam hal pakaian bagus yang dikenakan, tentang bagaimana kita nantinya dilihat orang lain, khawatir gagal ketika mencoba sesuatu lalu malu diejek orang lain, dan sebagainya.

Namun perlahan saya sadar bahwa rasa khawatir karena malu diejek ini-itu malah membuat kreatifitas dan gerak kita terbatas. Bukankah kita memang tidak bisa membuat semua orang senang? Kenapa hanya karena baju yang tidak baru saat Idul Fitri saja kita harus malu? Kenapa hanya karena pakaian yang kita kenakan ketika bertemu dengan pejabat besar bukanlah pakaian yang baru lalu kita jadi khawatir dicap “tidak punya uang”?

Kenapa hanya karena kita mencoba style yang berbeda dan mencoba mengaplikasikan warna lalu kita khawatir dianggap jelek dan memalukan?

Saya tidak update tentang fashion. Apalagi tampil stylish setiap harinya. Berangkat kerja selama kurun waktu bertahun-tahun saat masih bekerja kantoran saja saya hanya pakai bedak dan (kalau ingat) plus eyeliner. Meski setiap bulan gajian tapi saya tidak sering beli pakaian sehingga pakaian saat itu ya itu lagi itu lagi. Anak-anak kuliahan tempat saya bekerja malah yang selalu tampil sangat modis dan stylish.

Meski begitu saya senang sekali kalau melihat majalah fashion dan mix match baju. Sesekali ingin mencoba mix and match sendiri tapi jauh sejak bertahun-tahun sebelumnya biasanya akan langsung ada komentar “Nggak ada yang bagusan lagi?” Atau “Aneh amat. Masa gayanya begitu”. Saya yang emang sudah nggak pede, jadi mundur dan nggak berani deh coba-coba memadumadankan pakaian yang dirasa “seru” lagi. Padahal style yang saya coba juga pernah dipakai oleh kawan saya. Jadi itu bukan hal baru di dunia, kan?

Tapi lambat laun saya tak peduli dengan rasa malu hanya karena teori takut dianggap aneh dan nggak punya uang ini. Lalu suatu hari lihat postingan Rani Hatta yang kece itu. Desain oleh si kakak ini sangat simple dan saya suka!

Sehingga ketika ada bahan kain batik oleh-oleh nganggur saya menjelaskan pada Teteh penjahit tentang desain baju yang ada di pikiran saya. Kain batiknya akan didesain sebagai long dress tanpa lengan sementara bagian luarannya nanti bisa pakai blazer dengan warna yang bisa dipadankan. Kalau tidak mau pakai blazer saya bisa punya pilihan mengenakan manset. Blazer itu terinspirasi dari desain Rani Hatta yang simple.

Saya berkomunikasi dengan Teteh penjahit yang selama ini memang jadi langganan untuk masalah jahit-menjahit. Kami membahas detail warna bahan blazer yang akan digunakan. Ia paham apa yang saya inginkan lalu menggambarkannya di kertas dan menjahitkan pakaian tersebut untuk saya.

Ketika sudah jadi, voila! Rasanya senang sekali melihatnya. Meski desain dan jahit dilakukan oleh Teteh tapi saya senang dan bangga ide saya sendiri itu berhasil diwujudkan.

Sayangnya setiap pergi kondangan misalnya dan hendak memakai pakaian ini, saya selalu mendapat komentar “Nggak ada yang bagusan lagi?”. Dan terkadang saya masih maju mundur menerima komentar tersebut 😂.

Ini mungkin pelajaran bagi saya selanjutnya. Jika anak saya nantinya memilih hal yang ia suka dan selama itu tidak merugikan atau melanggar syariat agama dan norma, saya tidak serta merta menjulukinya jelek hanya karena khawatir ia diledek oleh orang lain atau dianggap aneh dan tak memiliki pakaian lain yang lebih layak.

Dan mungkin saya harus belajar dari Mbak Diana Rikasari yang mix and match-nya super wow tapi pede aja dengan gayanya.

“Beauty begins the moment you decide to be yourself.” ~ Coco Chanel

Screenshot_2017-01-23-15-44-34

Screenshot_2016-11-24-18-15-20

IMG_20150822_214955
My own dress!

2. Kamu jelek!

Pasca melahirkan saya pun diberi tahu berulang-ulang hampir setiap hari bahwa tubuh bagian dalam saya rusak (mungkin maksudnya syaraf-syaraf yang putus karena proses mengejan dalam persalinan). Tapi saya tak suka mendengarnya. Proses jungkir balik menjadi ibu baru pun kemudian ditambah dengan terkena baby blues dengan tambahan: “Tidak percaya diri akan tubuh sendiri karena katanya tubuh ibu yang sudah melahirkan itu rusak.” Oh, sh*t.

Saya, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun lamanya rasa tidak percaya diri itu menghilang, kemudian merasa tidak percaya diri lagi. This is happen first because long time ago, ketika masa SMP saya seolah tak punya tempat untuk berlari. Ke mana pun saya pergi, bullying tentang tubuh sendiri yang katanya “tidak cantik” harus saya hadapi SETIAP WAKTU. Saya bahkan sampai sempat menahan lapar karena tidak berani ke kantin sekolah akibat rok saya yang belum sempat dikecilkan dan terlalu besar di badan saya. Saya takut ke kantin dan kembali bertemu orang-orang yang menatap saya dari atas sampai bawah lalu tertawa terbahak-bahak karena tubuh saya yang kecil. Kata-kata kurus, ceking, pendek, kuntet, dan semacamnya selalu masuk ke dalam telinga. Dan ledekan itu terjadi di depan kelas juga di depan seantero murid sekolah.

Saya bahkan saat itu pernah menolak berjalan bersisian pada sahabat yang tubuhnya padat berisi. Bukan karena masalah pada si sahabat itu, tapi karena orang akan lebih melihat saya yang sangat kurus.

Di rumah pun, ada kawan yang suka meneriaki saya dengan ledekan yang sama. Hal itu dilakukan secara beramai-ramai, meneriaki saya yang sedang berjalan atau naik sepeda.

Kalau ada yang bilang saya lebay karena itu kan sudah lama, ngapain diingat lagi, namanya juga masih anak-anak. No, i can’t forget those moment in only one blink. Tapi saya insya Allah sudah memaafkannya dan semoga hal itu tidak terjadi lagi baik kepada anak saya maupun kepada anaknya. Aamiin.

Saat momen masuk SMA, saya selalu keringat dingin. Saya khawatir setiap harinya akan kembali menjalani proses bullying lagi. Tapi syukurlah tak ada yang meledek saya hanya karena bentuk tubuh saya ini. Kalaupun iya, hanya bercanda biasa dan tidak dilakukan di depan satu kelas atau seantero murid sekolah.

Namun saat itu skoliosis saya rasanya mulai muncul. Saya pun kembali tidak percaya diri kenapa tulang belakang saya bengkok dan saya punya punuk sementara yang lain tidak? Saya bahkan membatalkan datang ke rumah teman saat perpisahan kelas 2 SMA karena saya merasa tidak punya pakaian yang pantas dan terlihat cantik saat dikenakan. Esoknya teman saya menatap saya dan menyesali saya yang tidak datang. Saya hanya diam dan tidak bilang kalau saya tidak datang karena tidak pede. Tapi saat itu saya menyesali moment yang hilang bersama teman-teman yang tidak terulang.

Maka ketika didera baby blues, saya kembali tak berani menatap tubuh saya sendiri di cermin. Sepertinya buruk sekali. Syukurlah ada dorongan dari Abang, support system utama saat itu meski ia sendiri rasanya tak mempercayai baby blues pada diri saya.

Saya pun cukup minder dengan kantong mata saya yang besar. Seringkali saya menutupinya dengan kacamata dan saya merasa sangat tidak cantik. Orang-orang selalu berkomentar bahwa saya kurang tidur dan semacamnya. Hingga saya pergi ke dokter kulit dan sang ibu dokter mendekat untuk menatap mata saya, “Masa sih besar? Biasa aja kok.” Nah…

Sejak itu saya berusaha untuk mengabaikan komentar orang lain yang negatif tentang tubuh saya. Tentang kantong mata besar, tentang bagian tubuh yang belum kembali seperti semula saat sebelum melahirkan, tentang tubuh yang kurus, dan semacamnya. Saya tetap berusaha mendengarkan jika itu memang untuk kesehatan. Tapi kalau hanya berupa ledekan karena tidak seperti definisi cantik seperti yang dianut kebanyakan orang, ah buat apa! Sementara bagian tubuh yang terkena imbas melahirkan akan pulih seiring waktu. Ada bekasnya? Ah, tak apa.

Dan foto ini, rasanya pertama kalinya saya tersenyum lepas pasca melahirkan karena merasa percaya diri pada apa yang saya kenakan, pada apa yang ada di diri saya. Mungkin pas kejepret sayanya pas setengah merem, but i still remember my smile at that second.

“You are imperfect,

permanently and inevitably flawed.

And you are beautiful.” ~ Amy Bloom.

IMG_20160319_160620_1

3. “Kamu tidak bisa.”

Saya sering mendengar kalimat ini, lagi dan lagi. Bertahun-tahun lamanya. Bahwa saya tidak bisa ini, saya tidak bisa itu.

Ketika ikut dalam kelompok relawan, saya dipercaya untuk melakukan berbagai hal dan kegiatan. Ketika terpilih melakukan sesuatu saya selalu bertanya balik, “Emang aku bisa? Nggak pa-pa aku yang maju?”. Lawan bicara saya saat itu sampai gerah dan dongkol karena saya malah bertanya balik dan merasa tidak percaya diri. Tapi inilah rentetan akibat bullying bertahun-tahun sebelumnya dan karena selalu dikatakan tidak bisa. Bahkan ketika saya terpilih “hanya” menjadi juri lomba menggambar anak-anak nelayan oleh kelompok relawan tersebut, saya langsung diberikan kalimat, “Jangan! Kamu tidak bisa!” ketika saya sekedar bercerita tentang pemilihan itu.

Yang ditakutkan saat itu adalah saya tidak bisa menjadi juri yang baik sehingga akan memalukan. Aah…

Sehingga sering sekali pada saat itu saya kehilangan rasa percaya diri untuk melakukan berbagai hal. Ini kemudian menjadi pelajaran selanjutnya bagi saya untuk tidak langsung berkata “Kamu tidak bisa” pada A ketika ia sedang mencoba sesuatu.

“Confidence is key.

If you don’t believe in yourself, then nobody will.” ~ Unknown.

wp-1469000473024.jpeg

***********

Dengan menuliskan ini saya tidak ingin menyebarkan aib tentang orang-orang yang ada dalam tulisan. Tetapi karena saya percaya bahwa #writingIsHealing maka saya mencoba menuliskan ini. Menuliskan segala hal yang selama ini mengendap di kepala dan sebenarnya tidak mudah untuk dituliskan. Namun semoga dengan menulis ini, saya ikut berbagi kisah kepada mereka-mereka yang selama ini juga merasa tidak percaya diri karena merasa memiliki kekurangan fisik.

Remember this: YOU ARE BEAUTIFUL

Juga diharapkan agar bullying ini tidak terjadi lagi pada orang lain dan supaya saya bisa dengan lebih lega hati memaafkan.

#WritingIsHealing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *