Saat harus menginap di RS dan cek ginjal dengan BPJS

November 2016

Telepon masuk yang mengabarkan tentang Abang yang di UGD sementara saya lagi kondangan, bikin panik luar biasa. Padahal sebelumnya Abang sedang membantu angkut-angkut lemari ke rumah orangtua saya. Akhirnya pulang kondangan saya diantar teman dan suaminya naik mobil langsung ke RS x.

Sampai di UGD, menurut dokter diduga Abang terkena usus buntu. Di situ langsung dikasi penanganan beberapa obat lewat infus dan suntikan untuk menghentikan muntah-muntahnya.

Karena pemeriksaan usus buntu baru bisa dilakukan malam hari, maka Abang disarankan untuk rawat inap. Saya bolak-balik untuk memesan kamar dan terpana waktu diberi tahu setidaknya harus membayar dulu untuk rawat inap sejumlah harga 10 malam. Duh.. gawat bener ya kalo sakit hiks… Akhirnya kelas rawat inap yang tadinya kelas 1 saya turunkan lagi jadi kelas 2 saja. Kira-kira waktu itu bayarnya 3.5 juta. Katanya kalau keluar lebih cepat atau masih ada sisanya maka uangnya akan dikembalikan. Pada waktu itu RS x ini memang tidak bekerja sama dengan BPJS.

Lalu rutinitas selama beberapa hari ke depan akhirnya adalah bolak-balik ke RS. Dan fix saya hanya sebentar bertemu A yang dititipkan di rumah ibu bareng kakak juga. Saya bilang ke A kalau papahnya lagi sakit jadi belum bisa pulang dan saya harus pergi dulu ke RS. Syukurlah selama beberapa hari itu ia nggak rewel atau nangis-nangisan, tetap sibuk saja main sama Mas.

Malam hari Abang dilakukan pemeriksaan-dalam untuk mengetahui usus buntu kemudian hasilnya negatif. Alhamdulillah. Tapi kemungkinan penyebab perutnya sakit adalah adanya pelebaran pada ginjal. Untuk itu kami harus menanti dokter khusus ginjal dulu.

Esoknya dokter tidak datang karena hari minggu, begitu pula ketika hari senin. Sebenarnya sejak awal Abang sudah ingin pindah ke RS yang bisa menggunakan BPJS. Tapi karena sudah tidak berada di UGD berarti kami harus ke faskes tingkat 1 dulu untuk meminta rujukan, alias ke puskesmas kelurahan yang sesuai dengan kartu BPJS kami. Karena belum memungkinkan akhirnya kami menunda pemindahan RS ini.

Esoknya kami baru ngeh katanya ada miskomunikasi antara dokter ginjal dan perawat huhuhu. Begitu tahu Abang masih di RS, dokter di telepon berkata, “Lho, bukannya sudah rawat jalan?” hiks… sia-sia deh menunggu. Jadinya kami diperbolehkan pulang saja dan melunasi pembayaran dulu.

Dalam pikiran saya, uang yang diserahkan di awal itu masih akan ada sisa sehingga saya tidak harus membayar apa-apa lagi. Ealah, kenyataannya berbeda sodara-sodara! Total semuanya beserta obat selama 3 hari 2 malam hampir 5 juta! Huaaa….. yang ada duitnya malah kurang. Lalu Abang meminta hasil print dan rincian keseluruhan obat. Saya pun bolak-balik lagi ke lantai tempat administrasi. Kami lalu terpana memandang kertas-kertas itu. Emang bener ya, sehat itu mahal sodara-sodara! Segala printilan infus, obat, hingga dokter yang hanya telepon selama beberapa menit saja itu dihargai mahal. Ya sudahlah, melihat semua rinciannya kami pun pasrah aja membayar biar cepat pulang. Semoga Allah mengganti rezeki di lain waktu. Aamiin.

Sambil masih sedikit meringis-ringis karena sakit perut kami akhirnya pulang dan esoknya berniat ke puskesmas untuk kontrol ginjal lebih lanjut.

———————————————-

Setelah beristirahat di rumah dan memperbanyak minum air putih, esok harinya saya dan Abang ke puskesmas. Kami mengantri untuk meminta rujukan ke RS. Suasana puskesmas seperti biasa penuh dengan warga yang mau berobat dan meminta rujukan. Syukurlah pelayanan di puskesmas ini sudah terbilang baik. Di awal kami mengambil nomor antrian dulu untuk kemudian nantinya dipanggil. Terakhir saya ke sini adalah saat kontrol kehamilan dua tahun lalu.

p_20161122_112403

Bapak dokter di puskesmas sudah cukup berumur (saya perkirakan umurnya sudah lebih dari 50an). Ia aktif sekali menyapa warga dan kadang mencolek warga yang bengong sambil duduk lalu bilang, “Ibu sudah tahu nyamuk aedes aegepty? Di rumah bak mandi sering dikuras ya bu.” Lalu menjelaskan secara singkat tentang demam berdarah.

Ketika tiba giliran Abang, saya pun ikut masuk ke ruangan. Bapak dokter memeriksa riwayat penyakit Abang dan surat rujukan dari RS. Lalu ia menoleh ke saya, “Kamu siapa? Adiknya?”.

“Istrinya, dok.” Jawab saya sambil cengar-cengir.

Lalu si dokter malah melongo ngeliatin saya. Saya lanjut aja omongan, “Waktu dua tahun lalu kan saya ke sini cek kehamilan, dok.”

“Hah? Kamu sudah punya anak?” katanya lagi.

Bapak dokter rupanya nggak percaya kalo saya sudah ibu-ibu, dikiranya anak kecil nganterin kakaknya +_+.

Setelah mendapat surat rujukan puskesmas barulah kami ke RSUD Pasar Minggu. Karena ini pertama kalinya, maka Abang mendaftar dulu sebagai pasien baru di loket pendaftaran. Abang mengambil nomor antrian dan nantinya akan dipanggil.

p_20161123_074906

Dari situ Abang mendapat semacam kertas print kecil berisi nama dan nomor antrian yang juga terdapat barcode di dalamnya. Setelah melengkapi berkas pasien baru, kami pun bergegas naik tangga ke poli urologi di lantai 2.

p_20161123_081434
Poli urologi sebelah kanan

Sampai di sana duduklah kami di deretan ruang tunggu di depan kamar periksa. Dari situ terlihat layar yang diletakkan di bagian atas berisi informasi daftar pasien terkait pemeriksaan urologi. Abang nomor urut 2. Karena antrian belum dimulai maka kami menunggu dulu saja di sana. Sekitar setengah jam kemudian mulailah pasien nomor 1 masuk ke ruangan. Setelah ia keluar, lha kok nama Abang berubah jadi nomor 3 dan pasien yang nomor urutnya jadi 2 pun bersiap masuk. Kami pun bingung tapi sang ibu yang nomor urut 3 mempersilakan kami untuk masuk lebih dulu. Ketika tiba di ruangan, dokter yang masih muda itu bingung dengan urutan antrian yang berbeda dengan yang tertera di komputer. Ia pun menyuruh kami menunggu dulu dan berjalan ke lorong di belakang ruangannya untuk memberi tahu petugas bahwa ada kesalahan nomor urut.

Usut punya usut ternyata nama Abang tidak masuk ke dalam daftar karena Abang belum melakukan pemeriksaan tekanan darah atau tensi yang memang sejak tadi ada di luar ruang periksa dan lokasinya tidak jauh dari tempat duduk kami. Oalaah… kami pikir itu untuk pemeriksaan pasien poli lain. Akhirnya kami keluar lagi dan melakukan antrian untuk tensi. Lumayan ngantri hikss jadinya nunggu lagi.

p_20161123_091545
Pemeriksaan tensi

Nah, setelah tensi baru deh berkas Abang masuk ke dalam daftar pasien dokter ginjal. Kami akhirnya jadi nomor urut 4. Lalu masuk dan berkonsultasi dengan dr. R. Siddhi Andika, Sp. U sambil menyerahkan hasil tes lab di RS swasta sebelumnya. Ia menjelaskan dengan sangat rinci dan menjawab setiap pertanyaan kami dengan detail. Menurut kesimpulan Abang kemarin terkena batu ginjal dan rasa sakit yang masih muncul itu karena efek luka di dalam akibat serpihan batunya. Sementara yang kami tahu Abang selalu minum air putih dalam jumlah banyak setiap harinya. Dr. Siddhi menjawab pertanyaan kami yang masih belum puas dengan sangat rinci bahwa itu bisa saja karena ternyata Abang ada bakat batu ginjal (bakat nyanyi kek gitu ya, bakat kok batu-ginjal), jadi benar-benar harus kurangi konsumsi minuman kemasan dan minum lebih banyak lagi.

Okeh, setelah puas kami akhirnya pamit dan pak dokter pun mengetik resep obat. Di sini nih yang sudah canggih. Dokter rupanya tidak perlu menuliskan resep di kertas, tapi mengetiknya di komputer berdasarkan data pasien yang sudah ada. Kami lalu langsung saja dipersilakan menunggu di depan farmasi lantai 1.

Sampai di depan ruang farmasi yang ramai itu, rupanya kami pun bisa mengecek status resep obat kami melalui kertas kecil yang diberikan di awal pendaftaran tadi melalui barcode scanner di bagian pojok farmasi. Dari situ ketahuan apakah obat pasien sudah jadi atau masih dalam antrian. Buat saya itu kereeen! Karena pengalaman selama ini bolak-balik ngantri RS dan nunggu obat kadang lamaaa tanpa kepastian trus kasian petugasnya ditanyain mulu udah jadi apa belum.

p_20161123_094344
Instalasi farmasi. Layar pojok kanan buat ngecek status obat

Karena masih lama kami muter-muter dulu hingga sempat keluar RS dan makan nasi uduk mungil di pinggir jalan. Lalu balik lagi dan ternyata obat masih dalam antrian. Tidak lama kemudian jadi deh obatnya.

Terus pulang. Udah. Nggak bayar apa-apa.

Sehari sebelumnya saya memang mendengar tentang komentar ibu sebelah yang ngomongin jeleknya BPJS, lalu pagi harinya dengar dari cerita orang yang operasi dan berterima kasih banget sama BPJS karena jadi nggak bayar. Terlepas dari pro kontra BPJS yang diceritakan orang-orang, bagi saya pelayanan RSUD Pasar Minggu untuk pasien BPJS sangat baik dan terbilang sudah memanfaatkan teknologi dengan baik.

Semoga kita semua sehat selalu ya!

p_20161123_095043

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *