Kenangan rumah lama

Sebagai orang yang susah sekali move on, kali ini saya susah move on dari rumah lama saya. Rumah itu sebenarnya rumah orangtua yang sudah ditempati selama sekitar 30 tahun lamanya. Saya pun lahir di lingkungan tersebut. Dan terhitung akhir Desember 2016 lalu, orangtua saya (mau tak mau) resmi pindah dari rumah tersebut.

Meski sudah menikah sejak 3 tahun lalu dan menyandang status nomaden alias tinggal tidak tetap antara rumah orangtua dan rumah mertua di Ciputat, tapi rupanya saya sulit melepaskan kenangan tentang rumah orangtua. Saya jatuh cinta dengan halaman belakangnya yang sebenarnya berantakan. Dan meski tidak seperti halaman-halaman rumah nan rapi yang bikin jatuh cinta di jagat instagram itu, saya betah berlama-lama di halaman belakang.

Saya ingat betul, salah satu hal yang saya suka adalah momen saat membuat teh di pagi atau sore hari. Sambil menyeduh teh, saya bisa memandang ke halaman melalui jendela kaca. Dari situ saya bisa leluasa memandangi burung-burung yang sedang mencari makan tanpa khawatir mereka memergoki saya. Dari jendela itu pula biasanya mata saya menyapu rerumputan untuk mengecek apakah ada kupu-kupu yang sedang berjemur.

Saya selalu menyukai jendela yang bisa leluasa memandangi kehijauan atau langit biru. Dan salah satu sudut ini mewujudkan mimpi saya tentang sebuah rumah.

DSCN2319

Di halaman belakang yang sisi-sisinya berantakan itu pula, tumbuh pohon jati yang memberikan keteduhan untuk kami. Saya lupa entah tahun berapa ayah menanam pohon jati tersebut. Saya juga kurang tahu apakah sebuah pohon jati ideal untuk ditanam di halaman belakang rumah. Tapi yang jelas, pohon itu sudah memberi banyak sekali manfaat untuk kami. Ada burung cucak kutilang yang membangun sarang di sana, ada bunglon kebun yang memanjati batangnya, hingga semut-semut yang mondar-mandir di sana. Juga ditambah ulat yang beberapa tahun lalu pernah ramai di bagian atas daun-daunnya dan membuat saya enggan sejenak untuk menjemur pakaian karena khawatir “ketiban” ulat.

wpid-20131222_081632_wm.jpg

wpid-20131222_081613_wm.jpg
Sarang burung kutilang yang jatuh
DSCN2256
2 ekor burung betet di pohon jati

Ketika sang suami menugaskan saya untuk tinggal di rumah mertua 5 bulan setelah kelahiran A, saya merasa sangat kehilangan. Selain karena enggan berpisah dengan Mas Daffa dan sangat membutuhkan kehadiran ibu saya untuk membantu mengasuh A, saya juga sangat kehilangan momen-momen saat saya berdiri setiap hari di rerumputan hijau di belakang rumah. Di sana jualah salah satu terapi saya ketika menghadapi baby blues.

Dan jauuuh sebelum mengalami proses kelahiran, halaman belakang dan semua semut kecil beserta sarangnya menjadi saksi bagi saya yang sedang mengalami proses berdamai dengan keadaan dan kondisi saya yang belum bisa menjelajah hutan selayaknya seperti apa yang saya inginkan.

Iyes, saya jatuh cinta dengan gunung, hutan, pantai, and whatever it is. Tapi orangtua bukan tipe yang membolehkan anaknya untuk pergi ke sana dan ke sini, bahkan untuk melakukan kegiatan relawan di hutan mangrove yang masih di kota Jakarta saya harus berdebat panjang lebar dulu. Dan rasanya saya mau protes ke ayah yang bikin saya jatuh cinta sama semua kehidupan alam itu gara-gara waktu kecil saya disetelin video padang savana afrika mulu di mana adegannya adalah singa ngejar-ngejar antelop. Trus giliran saya udah besar dan mau menjelajah malah nggak boleh karena alasan saya perempuan ihiiikss kan sedih luar biasa.

Maka halaman belakang jadi perwujudan saya untuk melepas kerinduan akan hutan. Di rumput-rumput itu saya tiarap dan merayap-rayap buat moto kupu-kupu, jamur, bunga, dan menjelang kepindahan saya jadi rajin ngikutin sekawanan burung betet-biasa yang menjadikan pohon jati di belakang rumah sebagai salah satu tempat singgahnya sembari mencari makan.

Pada saat itu bagi saya berlaku kalimat, “Near is the new far”.

IMG_20150204_040126

melihat lebih dekat

dscn1603_wm
Burung betet-biasa sedang makan belimbing

Bulan-bulan awal di tahun 2016 pun akhirnya saya dan Abang menempati rumah yang hanya kami tinggali bertiga saja. Sesekali kami masih bolak-balik ke rumah ibu yang jaraknya bisa ditempuh kira-kira 20 menit dengan motor. Hari-hari pertama kepindahan di rumah sendiri, berat sekali rasanya. A yang terbiasa dengan kehadiran banyak orang di rumah menjadi uring-uringan dan seolah mencari-cari Mas-nya sehingga cenderung menangis. Saya pun merasa kehilangan dengan hadirnya Mas Daff, keponakan yang sudah seperti anak sendiri itu. Saya rindu kolaborasi Mas dan A di setiap waktu mainnya. Dan tentu saja terutama saya rindu dengan halaman belakang.

Tapi semua harus dijalani. Kami tentu tak bisa hanya terus mengandalkan tinggal di rumah orangtua. Terutama saya, yang sama sekali harus belajar menjadi mandiri. Lambat laun, A mulai bisa menerima kepindahan kami.

Semakin mendekati bulan  kepindahan orangtua dari rumah tersebut, rupanya ada saja cara Allah agar saya kembali ke rumah orangtua. Mungkin karena hati saya memang masih rindu ke sana. Misalnya saja Ummi mertua dan Abang diberi kesempatan untuk pergi haji di bulan Oktober. Sehingga, selama kurang lebih 1 bulan saya menginap di rumah ibu dan A pun kembali kolaborasi cekikikan dengan Mas Daf.

Lalu sesudahnya pompa air rumah mati sehingga kami tak punya air. Dan kami pun kembali mengungsi.

Skipper di musim kemarau
Skipper di musim kemarau

Saya pun mengejar Big month saya dan juga jadwal burung yang dijumpai di tahun 2016 atau BIG year. Saya kembali mengucapkan “hello” pada burung, kupu-kupu, pohon, dan serangga di belakang rumah.

dscn1204_wm

Dan yang lebih saya syukuri adalah diberi kesempatan memandangi Superduper Moon pada 14 November 2016 lalu. Hanya rumah ibu lah, tempat terbaik bagi saya untuk menjepret bulan besar yang muncul setiap 70 tahun sekali ini.

DSCN1897_wm
Super duper moon, 14 Nov. 16

Lalu bulan Desember pun datang. Barang-barang mulai dibawa menuju rumah ibu dan ayah yang baru. Dan kami tidak punya kuasa untuk memperlambat waktu agar kami bisa lebih berlama-lama di rumah tersebut. Lemari, kursi, pot bunga, tempat tidur. Perlahan semua menghilang dari rumah. Dan seiring kami yang meninggalkan rumah di hari kepindahan, seolah ada yang hilang dari hati saya.

30 tahun sudah kami tinggal di lingkungan tersebut dan 19 tahun menempati rumah lama itu. Saya melangkah meninggalkan semua kenangan berlari-lari di masa kecil, bermain sepeda, terkesiap dijenguk teman-teman saat sakit, dan tersenyum riang berusaha menerima kenyataan bahwa halaman belakang lah tempat menjelajah saya untuk masa itu.

Kami pun pergi meninggalkan jejak-jejak masa lalu, coretan di tembok, dan wall sticker pohon yang sengaja tetap saya biarkan di tembok. Oh ya, juga dua ekor kucing yang tidak bisa kami bawa. Syukurlah, kami bisa melangkah pindah dengan kondisi lengkap dan bahkan bertambah anggota keluarga. Ketika dulu pertama pindah ke lingkungan tersebut, kakak saya berusia 4 tahun dan saat pindah meninggalkan rumah kini Mas Daff pun berusia 4 tahun.

Selamat tinggal rumah lama dan semua penghuni mungilnya. Terima kasih sudah memberikan banyak sekali pelajaran untuk keluarga kami. Semoga suatu hari nanti kami kembali memiliki rumah dengan halaman yang bisa memberi keteduhan untuk makhluk hidup seperti burung dan kupu-kupu. Aamiin.

dscn1220_1_wm

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *