Menerima diri sendiri (versi ibu bekerja di rumah)

Sudah beberapa hari ini punggung saya terasa sakit lagi. Posisi tubuh ketika mencuci piring, ketika tiba-tiba harus mengangkat A yang sedang latihan ke kamar mandi tapi tiba-tiba wajahnya kaya udah ada yang mau ceprot di celananya (jangan dibayangin yah), hingga posisi duduk ketika membacakan buku untuk A, yang tanpa disadari mungkin saja ternyata bukan posisi tubuh sikap sempurna bin benar sehingga memicu nyeri punggung karena skoliosis saya muncul lagi.

Banting setir dari bekerja kantoran menjadi ibu yang bekerja-di-rumah-saja memang tidak mudah, bahkan meski tanpa sadar ternyata sudah akan masuk tahun ke-2. Rasanya masih seperti adaptasi. Dan bahkan ketika pindah ke rumah baru ini sudah juga menginjak 1 tahun, rumah masih terasa sangat berantakan dan saya masih belum juga bisa menentukan jadwal dengan baik dan benar. Masih keteteran memasak, membereskan ini itu, hingga pada akhirnya kalau punggung sudah sakit saya hanya bisa rebahan sambil bilang, “Punggung Ama pegel banget ini, A. Tiduran bentar yak.” Trus disambut A yang tetep joget-joget kaya biasa.

Meski begitu, hal yang bikin tambah pegel adalah komentar orang-orang lain yang dengan seenaknya bilang, “Enak ya, di rumah nggak ngapa-ngapain.” atau pas saya baru nongol keluar sambil bilang, “Iya nih, baru selesai cuci piring.” maka akan disambut jawaban, “Alaaah, kan nggak ada orang di rumah. Nyuci piring juga segitu-gitu aja.”

Rasanya saya jadi mau ngasih sapu lidi sama serokan trus nyuruh nyerokin batu es aja gih di kutub =_=.

Apa iya saya nggak ngapa-ngapain? Sepanjang hari leyeh-leyeh rebahan? *seriously postingan kali ini murni curhatan dari dasar hati karena KZL.

Iya memang saya nggak masak, cuma kadang-kadang doank. Itu pun sudah diprotes terus karena ada yang manggil-manggil buat minta bacain buku di karpet. Seringnya baru megang sodet udah dipanggil juga. Trus buku yang baru dirapihin di rak sudah diambil untuk dibaca lagi. Trus minuman tumpah di lantai. Trus A pup dan nggak mau bilas, pas akhirnya udah berhasil dibujuk ke kamar mandi, 15 menit kemudian nggak mau keluar dari kamar mandi.

Ketika ia tidur saya pun ngibrit ke atas buat jemurin baju. Trus waktu sisa ketika si anak tidur dipake buat cuci piring, rebahan, jualan di media sosial, nyicil tulisan di blog, dan si anak pun bangun.

Adegan pun dilanjutkan dengan kejar-kejaran karena nggak mau makan, maunya minum susu doank, trus dilanjutkan dengan melukis atau bikin kreasi sesuatu atau baca buku yang baru.

Apa itu berarti sayah seharian leyeh-leyeh dan hura-hura nggak ngapa-ngapain?

Daaaaaan masih saja ada yang komentar tentang keputusan saya untuk bekerja di rumah, seolah bekerja di rumah itu beneran nggak kece dan mentereng kaya orang-orang kerja kantoran yang tiap hari saya lihat pas lagi jalan-jalan sama A. Seolah bekerja di rumah dan nggak menghasilkan gajian rutin kaya saya ini bener-bener nggak keren banget. Bahkan ketika A ngikut Abang ke kantor sementara saya ikut seminar barang 2 jam atau ikut pelatihan decoupage selama kira-kira setengah hari. Dan itu hanya terjadi satu hari, bukan setiap hari. Tapi tetap sajaaa adaaaaa komentar negatif kenapa sampe A ngikut bapaknya ke kantor dan bukannya diurusin sama emaknya?!

Karena komentar-komentar dan kepusingan itu lah, saya merasa berhak memiliki me-time!

Tapi ya Allah, boro-boro mau me-time ke pantai…

Melangkah lagi dan lagi
Waktu masih lajang

By the time my husband carried all my bag from hospital and my mom carried little A, i knew then all my life would be change. And now i know, not only my life but all the way people look at me.

“Anaknya kurus amat sih. Dikasi makan nggak sih?” itu komentar ketika A masih berusia 9 bulanan dan masih MPASI. Saya dipertanyakan ASInya, masak buburnya, dipertanyakan dengan metode BLW yang katanya tidak baik untuk diberikan. Padahal A selalu makan dengan lahap. Sekarang A 2 tahun dan sudah mulai gemukan tapi saya malah khawatir karena ia sedang tidak ingin makan dan hanya mau minum susu. Boro-boro nyuap sayur, diumpetin pun dia tetap tau.

“Rumah diberesin juga donk meski ada anak. Baru anaknya satu aja udah begini, gimana dua, tiga?”

Saya menegaskan sejak awal kami pindah rumah. Saya tak mau terlalu perfeksionis akan persepsi kerapihan. Buku berantakan berarti pertanda bagus karena itu berarti anak saya mau baca buku lagi dan lagi. Lalu kalau punggung sudah sakit dan perut lapar apakah saya harus tetap memaksakan diri membersihkan seluruh lantai dan perabot?

Minggu lalu saya banyak marah-marah pada A. Karena ritualnya jalan-jalan keluar rumah tergantikan oleh saya yang mencuci piring dan gelas yang semalaman tidak dicuci. Ia tidak sabaran mengajak saya dan saya pun balas mengaum. Malamnya saya sadar bahwa jadwal itu miliknya. Bahwa piring dan gelas yang menumpuk bisa dicuci sesudah ritual jalan-jalan. Dan bahwa alasan saya resign bekerja kantoran adalah untuk menemaninya dan bukannya untuk mencuci piring seharian.

A menuju tahun pertama
A menuju tahun pertama

Hingga beberapa bulan lalu saya merasakan ada rasa iri yang muncul setiap melihat postingan beberapa kawan yang mendapat beasiswa kuliah ke luar negeri. Sempat ada rasa menyesal, tentang kenapa saya tidak dibolehkan kuliah lanjutan di luar atau paling tidak short course ketika sebelum menikah, tentang kesempatan sekarang yang tak lagi datang. Dan kini saya sempat tergoda ingin mendaftar jua. Ingin menjejakkan kaki di tempat-tempat yang dulu menjadi impian masa kecil saya sembari memegang salju. Bahkan sempat pula curhat sambil nangis-nangis ke Eries saking saya nggak tahu planning selanjutnya.

Tapi baru beberapa hari ini saya sadar. Ah, ada anak yang jadwalnya masih berantakan di tangan saya. Apa jadinya kalau ditambah amanah kuliah sambil mengasuh? Orang lain mungkin bisa saja, tapi saya? Haruskah saya memaksakan diri menjadi seperti orang lain?

Hingga akhirnya saya menyimpan kembali impian itu lagi. Mungkin bukan waktunya untuk menempuh kuliah sekarang. Toh masih ada mimpi lain yang ingin saya wujudkan di rumah. Dan di awal minggu ini saya bertekad kembali membuat jadwal bermain sambil belajarnya. Membuat kreasi ini dan itu yang meski kadang jadwalnya masih mulur tapi perkembangan A sudah luar biasa pesat.

P_20170216_081311_HDR_1

Bahwa keluar-dari-zona-nyaman saya saat ini bukan tentang keluar dari rumah lalu pergi ke bangku kuliah, tapi tentang bersamanya, mengatur jadwal berkreasi, membaca bersama, dan berusaha menjadi ibu yang lebih sabar. Atau mungkin saja ditambah dengan mulai membaca-baca kurikulum homeschooling. Meski bahkan dilihat dari sekarang pun sudah banyak sekali pertentangan internal tentang metode pendidikan ini. Dan ketika komentar-komentar tak setuju kembali datang, semoga saya pun bisa menahan diri untuk tidak nyinyir pada mereka yang juga nyinyir terhadap apa yang saya pilih.

Ketika bahkan kesempatan untuk me-time datang dan diizinkan, Emak ini tiba-tiba membayangkan A yang sudah 17 tahun dan ketika akhir pekan tiba ia akan kongkow-kongkow bareng teman-temannya dan bukan sama saya. Hingga akhirnya saya melewatkan momen birdwatching di Angke bersama pengamat burung lain begitu saja dan malah ikut A dan Abang beli ikan di pasar. Saya jadi tak kuasa membayangkan mereka hahahihi di pasar beli ikan sementara saya nggak ikut.

Maka meskipun punggung pegal dan pusing menghadapi bocah yang nggak mau makan, me-time besok-besok lagi ajah! *tapi saya nggak nolak kok kalo ada yang mau kasi voucher gratis nginep di hotel. Aamiin.

Lombok, 2012
Foto saat me-time di Lombok, 2012
Me-time di Taman Menteng, 2016
Me-time di Taman Menteng, 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *