Naik pesawat pertama kali bersama anak

A belum terbiasa dengan keramaian. Insiden A yang hampir guling-guling di kantor imigrasi saat proses pembuatan paspor membuat saya benar-benar berdoa semoga selama perjalanan di pesawat nanti, kami bisa menjalaninya dengan baik. Saat itu (bulan Mei 2016) kami akan menempuh jarak Jakarta-Taipei dengan waktu tempuh kira-kira 4 jam. Jam keberangkatan adalah pukul 3 sore.

Kami memberi A cemilan dulu sebelum check in bandara. Di dalam ruang tunggu, ia cukup tenang dan bolak-balik naik turun kursi. Ketika terdengar pengumuman lewat suara bahwa penumpang sudah diperbolehkan masuk ke pesawat dan kami mulai memasuki antrian, A mencengkeram erat gendongan. Dan ketika akan melangkah masuk ke pesawat kami berada dalam kerumunan antrian yang lumayan padat. Tapi syukurlah, sampainya kami di tempat duduk A tidak nangis-nangis heboh.

Saat itu kami naik pesawat China Air dan melakukan pembelian tiket via online. Syukurlah kami memang mendapatkan comfort seat alias tempat duduk paling depan dengan tempat yang lebih lega. Thanks China Air! A duduk di bawah dan memainkan miniatur pesawat dan bolanya.

Berikut adalah beberapa poin yang menjadi catatan penting kami saat naik pesawat pertama kalinya bersama A yang saat itu berusia 1 tahun 4 bulan:

  • Datang ke bandara sebelum waktu check in agar tidak terburu-buru.
  • Pastikan anak sudah makan dan menyusu dulu saat akan berangkat menuju bandara. Nantinya selama di bandara bisa cemil-cemil sambil menunggu waktu check in atau masuk pesawat.
  • Melakukan pre-condition sebelum berangkat atau sebelum naik pesawat, terutama penting untuk anak seperti A yang masih belum terbiasa dengan keramaian. Yaitu berkata pada si anak bahwa ia dan kami akan menempuh jarak terbang dengan pesawat selama sekian jam. Oiya perlu dicatat sebaiknya ngomongnya sambil serius menatap matanya ya, bukan hanya sambil selewat.
  • Siapkan tiket (jika tercetak) dan visa terlebih dulu di tempat yang mudah dijangkau oleh kita.
  • Kalau membawa bayi atau anak di bawah 2 tahun, usahakan menyusui ketika pesawat lepas landas supaya telinganya tidak sakit. Karena ketika menyusui ia akan melalui proses menelan. Ketika pesawat sudah akan berangkat saya menyusui A, namun ternyata ada penundaan keberangkatan sehingga A keburu selesai menyusu dari balik apron dan enggan menyusu lagi. Setelah beberapa menit barulah ada pengumuman kalau pesawat benar-benar akan lepas landas. A pun diminta untuk dipangku dan berdua saya memakai seat belt. Tapi ia terus meronta karena ingin duduk di lantai saja. Akhirnya setelah batas ketinggian aman, kami pun menurunkannya lagi dan ia asyik main di lantai pesawat. Maklum anaknya down to earth banget. Jadi kalo ke mana-mana maunya gelosoran.
  • Membawa mainan kesukaan A. Usahakan mainan yang belum pernah ia mainkan sebelumnya sehingga ia lebih excited memainkannya di pesawat dan tidak bosan. Waktu itu saya tidak membelikannya mainan baru tapi membawakan miniatur pesawat dan bola yang jarang ia mainkan dan merupakan mainan turunan dari Mas Daff dan juga buku kesukaan A.
  • Saya membawa serta barang-barang yang penting saja di dalam kabin supaya tidak kerepotan. Misalnya apron menyusui, tissue basah, susu, jaket, kaos kaki, sapu tangan, baju ganti, dan popok. Biasanya pihak penerbangan membolehkan membawa air minum jika kita membawa bayi atau anak. Oh ya, saat itu kami juga membawa bekal makan berisi nasi dan lauk untuk A. Jadi di pesawat ia sempat kami suapi juga. Satu lagi, jangan lupa: JAKET untuk anak dan ibunya juga. Syukurlah A akrab dengan dingin, karena saya benar-benar tidak awas tentang suhu udara di dalam pesawat. Semakin tinggi, suhu udara semakin dingin. Saya pun bersin-bersin dan menggigil. Sementara A anteng saja tidur dengan suhu udara yang adem.

DSC_2022

A sempat menangis saat saya mengantri untuk ke toilet. Tapi tidak lama tangisnya mereda dan Abang pun menggendongnya sambil duduk. Tidak lama mereka tertidur berdua sementara saya nonton Kung Fu Panda 3. Udah berapa tahun kan saya nggak nonton film hehe. Menjelang pesawat turun A pun menangis lagi dan penumpang di belakang kami meledeknya sehingga ia malah terdiam.

Ketika sampai di bandara Taipei sudah jam 9 malam dan bandara sudah sepi namun masih banyak rombongan TKI yang baru turun berbarengan dengan kami. Beberapa petugas tidak mengerti bahasa Inggris tapi syukurlah kami akhirnya menemukan pintu keluar dan menanti jemputan dari paman.

Ni hao, Taipei!

img_000000_000000.jpg

Sepulang dari Taiwan, A mungkin sudah lelah dan tidak dalam kondisi mood yang bagus sehingga ia lebih rewel dari saat berangkat. Kami berusaha menenangkannya dan hanya berhasil sedikit. Saya sempat tidak enak hati pada penumpang di sebelah kami dan takut ia terganggu tapi ya sudahlah. Maapkan ya, Pak! Harap dimaklumi heuhu.

 

13 thoughts on “Naik pesawat pertama kali bersama anak

  • March 5, 2017 at 8:33 am
    Permalink

    Wah menarik.. terima kasih tips nya. Kebetulan 2 bulan lagi saya mau mengajak anak saya naik pesawat pertama kalinya. Mudah-mudahan berjalan lancar 🙂

    Reply
    • March 8, 2017 at 8:42 am
      Permalink

      Semoga lancar jayaaa. Aamiin ^^

      Reply
  • March 5, 2017 at 12:42 pm
    Permalink

    gak bisa bayangin kalo penerbangan pagi, Mak. Hiks, belum punya anak tapi kok baper akuuh, but terima kasih infonya, Mak :*

    Reply
    • March 8, 2017 at 8:43 am
      Permalink

      Hihi biar persiapan dari sekarang gitu yah

      Reply
  • March 5, 2017 at 6:15 pm
    Permalink

    Kudu persiapan ekstra yaaa kalau bawa si baby jalan2…apalagi naik pesawat…ke luar negeri, pula. Jangan sampai ketinggalan, kan bisa repot. Nah kalau udah ada di negara lain, jangan lupa oleh2nya, mbak… Hihi. Sebelum belanja, cek harga dulu. Kalau harga di negara kita bisa dibandingin dilihat dari priceza.co.id . Bila di negara lain ada benda serupa tapi harganya lebih mahal, beli di indonesia ajah deh… Hehe

    Reply
  • March 5, 2017 at 7:38 pm
    Permalink

    wah , perlu sabar dan persipana yang benar ya. duh aku dulu kadang suka gak sabaran kalau bawa anak masih kecil, makanya jarang kemana2

    Reply
    • March 8, 2017 at 8:44 am
      Permalink

      Hihi iya mbak. Udah riweuh gendong tas trus anaknya kabur2an hihi

      Reply
  • March 8, 2017 at 10:16 am
    Permalink

    Memang galau bawa anak kecil naik pesawat dalam jarak penerbangan yang cukup lama. Ngerinya itu kalau rewelnya kumat di pesawat. Emang sih anak kecil yg nangis2 tapi penumpang yg lain yg mau istirahat juga nggak enak. Kalau anak umur 1 tahun kira2 sudah ideal kah diajak ‘terbang’ ?

    Reply
    • March 8, 2017 at 11:16 am
      Permalink

      Sebenarnya usia ideal tergantung yang mau ngajak anak mbak kalo menurut saya hehe. Soalnya setiap anak kan beda-beda. Ada yang baru 3 bulan udah dibawa naik pesawat, ada juga yang sudah 4 tahun dan di pesawat nangis-nangis minta turun. Pastinya akan beda-beda sih sikapnya karena kondisi lingkungan yang berbeda dengan biasanya. Jadi menurut saya yang terpenting maksimalkan persiapan sama banyak bedoa aja hehe.

      Reply
  • March 9, 2017 at 2:51 am
    Permalink

    Hallo mba. Pas anak kecil bawannya ribet ya. HIhiii. Aku ingat bawa anak usia 4 bulan ke Ambon. Bawa ASI beku pula. Hihii

    Reply
    • March 14, 2017 at 3:59 am
      Permalink

      Waah hebat!

      Reply
  • March 9, 2017 at 2:33 pm
    Permalink

    Keinget dulu pernah terbang snediri bawa anak, emang yg susah di toilet, pas itu ada ibu2 office girl bandara akhirnya kumintain tolong, krn saking kepaksa bgt

    Reply
    • March 14, 2017 at 3:58 am
      Permalink

      Nah emang ya, kalo udah kebelet gaswat!

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *