Keheningan. Merelakan.

Butuh tiga tahun lamanya untuk bisa benar-benar merelakan, melepaskan rasa yang mengganjal karena kepergian Bulik Pikoh, sepupu ayah saya itu.

Juli tahun 2016 lalu. Tepat satu hari sebelum hari lahir saya.

Saya berdiri di depan pusaranya. Untuk pertama kalinya. Terisak tapi perlahan melepaskan himpitan yang bersarang di dada sejak tiga tahun lalu.

17 September 2013. Malam hari.

Saya tak bisa ikut mengantarnya ke peristirahatan terakhir di Purwokerto, kampung halamannya. Sore harinya Abang baru saja tiba dari Maluku. Pekerjaan mengharuskannya pulang setiap 5 minggu sekali bertemu dengan keluarganya, bertemu saya, yang baru beberapa bulan ia nikahi.

Dan meski saya sudah packing kilat untuk ikut ke Purwokerto, tapi saya tak kuasa meninggalkan Abang yang tiba-tiba membatalkan ikut menempuh jarak lagi setelah baru saja tiba. Mungkin karena lelah. Tapi hati kecil saya merasa bahwa saya tak kuasa berdiri di depan pusara Bulik, yang selama ini bersedia mendengarkan semua mimpi-mimpi saya tanpa nada mengejek, mengingatkan saya untuk tak mengeluh, mengatakan saya bisa di saat orang lain mengatakan saya tidak bisa, tanpa kehadiran Abang di sebelah saya.

Maka saya memilih tak ikut. Satu hal yang saya sesali ketika bus berangkat dan karenanya tak bisa tidur semalaman.

Tiga tahun lamanya. Saya tak jua berkunjung ke makamnya meski ingin sekali. Lalu salah satu sahabat kuliah berpulang di akhir tahun 2015 dan dimakamkan di satu daerah dengan makam Bulik. Tercetus keinginan untuk suatu hari ziarah ke makam mereka berdua. Dan doa itu diijabah pada bulan Juli 2016.

30 Juli 2016

Bersama kawan-kawan yang dulu menempuh kuliah yang sama, kami menuju Purwokerto. Sebelumnya saya meminta izin pada kawan-kawan seperjalanan bahwa jika diperbolehkan saya ingin sekalian ziarah ke makam Bulik. Saya sadar ada di antara mereka yang keberatan, tapi setidaknya saya sudah mencoba. Atau kalaupun tidak diizinkan saya ingin meminta dijemput oleh orangtua asuh Bulik yang tinggal di sana sebentar saja untuk kemudian kembali ke rombongan.

Syukurlah setelah singgah di rumah dan ziarah ke makam alm. Cupy, kawan saya itu, saya mendapat kesempatan untuk ziarah ke makam Bulik.

Menempuh jalur berbatu yang membuat elf kami berguncang, melewati persawahan dan perbukitan tempat almh dulu mungkin membantu orangtua asuhnya menanam sesuatu, saat itu pula kerongkongan saya tercekat.

Hingga akhirnya ayah asuh Bulik menjemput kami dan menunjukan jalur licin bertanah lembab dan tibalah saya di depan makam Bulik Pikoh. Bersama Abang dan juga A.

Saya tak kuasa berkata-kata tapi tetap saya katakan sambil terisak, “Ini A. Datang menjenguk bersama aku. Usianya baru 1.5 tahun.”

Saya teringat semua semangatnya melawan kanker usus. Teringat usahanya menempuh jalur panjang pengobatan. Teringat rasa sakit yang ditahannya sepanjang pengajian pernikahan saya. Ia menunda jadwal terapi sinar di RS hanya demi menghadiri pengajian sebelum pernikahan saya. Teringat usahanya menjenguknya anaknya yang bersekolah nun jauh di sana.

“Separuh jiwaku pergi.” Katanya sambil setengah tertawa, mengikuti lirik lagu yang ia sukai, ketika berkomentar tentang melepaskan sang anak menuntut ilmu.

Di depan pusara saya tak mau menahan tangis. Saya ingin melepaskan apa yang selama ini saya tahan selama tiga tahun lamanya. Maka biarlah saya terisak dan berkali-kali menyeka ingus di bawah keheningan pusara. Di dekatnya ada makam ayah dan ibu Bulik yang sudah tiada sejak ia dulu masih kecil.

Seketika langkah meninggalkan makam, saya menyeka air mata yang tersisa.

Merelakan. Melepaskan.

Memang tak mudah. Apalagi ketika mengingat semua kenangan bersamanya. Ketika saya yang masih berusia 3 tahun memaksa meminta digendong ketika ia sedang hamil. Dan ia menuruti. “Gendongnya di samping ya, di depan kan ada dedenya.”

Qodarullah saya masih ingat momen itu.

Merelakan. Melepaskan. Ketika hari ini terdengar kabar duka lagi bahwa guru bahasa Inggris semasa SMP pergi menghadapNya karena kanker serviks.

Sewaktu menjenguk ibu guru di RS, saya tak kuasa menangis ketika menggenggam jemarinya yang dulu ia gunakan untuk memegang kapur dan menuliskan tenses dan vocabulary di papan tulis sekolah kami yang hanya seadanya.

Jakarta. Hari Jumat. Melepas kepergian Ibu Yuni dan kali ini pun saya tak bisa mengantarnya karena A sedang sakit. Semoga Ibu Yuni dilapangkan kuburnya, diampuni dosa-dosanya, semua ilmu yang telah diberikan terus mengalir pahalanya, dan diberi tempat terbaik di sisiNya. Aamiin.

#WritingForHealing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *