Mini seminar: Lebih dekat dengan Montessori dan nostalgia kampus

17 Desember 2016

Pada hari Sabtu itu, saya, Abang, dan kakak seolah flashback ke masa-masa kami kuliah. Turun kereta, menempuh jalan setapak dengan pepohonan yang masih sama, melewati tanah yang awalnya (ketika saya dan Abang baru masuk kuliah) adalah berupa lapangan bola lalu seiring waktu berubah menjadi kandang rusa, dan sekarang kembali kosong.

Kami menyeberang jalan menuju fakultas dan memasuki area tempat kami dulu menempuh dunia kuliah. Ada gedung yang baru saya lihat karena awalnya tak ada. Gedung I masih sama seperti dulu. Bapak satpamnya saya lupa apakah masih sama atau tidak.

Kami menelusuri jalan melewati pepohonan dan area di depan gedung IX yang masih serupa. Tempat saya lari-lari kecil karena sering telat kuliah. Semua masih terasa seperti kemarin, bedanya kali ini kami kembali bersama anak-anak ini.

P_20161217_085058

P_20161217_085121

Awalnya saya berpikir acara yang akan kami ikuti akan berlokasi di auditorium. Tapi mengingat ini adalah mini seminar yang hanya diikuti sekitar 20-an peserta, rasanya tidak mungkin. Lagipula di auditorium rupanya sudah terdapat acara lain. Kami mengikuti petunjuk dan ternyata mini seminar Montessori mengambil tempat di lantai 2.

Acara bertema “Lebih dekat dengan Montessori” ini diadakan oleh Teman Setaman dan Ikatan Sastra Indonesia (IKSI) di FIB UI.

Sesuai dengan arahan sebelum acara, kami pun menuju lokasi kids corner di ruang kelas yang lebih besar. Panitia memang menyiapkan area bermain anak. Di sana sudah digelar karpet dengan berbagai mainan seperti lego, ular tangga raksasa, dan juga kakak relawan yang akan mendongeng. Sementara seminar akan digelar di kelas sebelahnya.

A malu-malu jadi duduknya jauuuuh dari yang lain

Mas Daff sudah langsung berbaur ke lokasi mainan seperti biasa. Namun, seperti biasa pula, A masih maju mundur untuk ikutan. Ia masih malu sekali kalau berada di tengah banyak orang yang tidak dikenal seperti ini. Namun karena ada Mas-nya jadinya ia mulai melangkah sedikit-sedikit untuk ikutan.

Tidak lama bermain, saya dan kakak pun menuju kelas sebelah. Sementara Abang akan tetap di kids corner bersama anak-anak. Nantinya juga akan ada games dan dongeng oleh Kak Arne dari IKSI.

Sekilas kenapa saya tertarik dengan mini seminar ini dan akhirnya mengajak kakak saya. Yaitu kalau tidak salah ingat, pertama kalinya saya mengetahui tentang adanya metode Montessori ini sekitar tahun 2012. Waktu itu malah belum nikah. Dan sampe sekarang juga lupa nemu blognya di mana. Tapi yang jelas waktu itu saya sempat angguk-angguk setuju akan beberapa poin di metode yang saya baca. Sementara akhir-akhir ini sedang marak di instagram beragam foto kegiatan bermain anak di rumah dengan berbagai alat peraga, sehingga memicu saya untuk juga googling dan sempat mencoba beberapa kegiatan untuk A. And it’s really fun! Saya nggak pakai bahan-bahan mahal dan harus beli dulu karena dananya terbatas, tapi pakai yang ada di rumah.

Beberapa kali A bahkan bisa saya tinggal untuk mencuci piring (sambil setiap beberapa menit diintip-intip) karena ia sedang duduk anteng nuang-nuang beras dari satu cangkir ke cangkir yang lain. Atau sedang asyik ngaduk-ngaduk tepung dengan jemarinya sambil ketawa-ketawa sendiri. Padahal biasanya sama sekali ia tidak rela tangannya terkena benda asing seperti butiran-butiran (pasir, nasi, atau bahkan benang) yang menempel-nempel di jarinya.

Peserta seminar hari itu rata-rata adalah orangtua dengan rentang usia yang sepertinya tidak terlampau jauh. Yah, minimal beda 5 tahun lah kaya saya sama kakak saya. Mbak Caca membuka acara dan langsung dilanjutkan oleh Vidya Dwina Paramita. Saya rupanya seperti hafal dengan Vidya dan benar saja, ia jurusan Sastra Indonesia di angkatan yang sama. Jadi meski tidak kenal namun mungkin sering melihat di fakultas. Pantes mukanya familiar.

Mini seminar pun dimulai dengan mengenal mengenai apakah Montessori itu. Dan berikut adalah kesimpulan dari mini seminar yang saya hadiri berdasarkan penjelasan di slide. Mohon dikoreksi kalau salah ya.

Maria Montessori merupakan pendidik dan psikolog asal Italia. Pembagian usia anak menurut Montessori yaitu pada usia 0 hingga 6 tahun merupakan tonggak awal kehidupan seorang manusia atau masa sensitive period. Pada masa ini anak menyerap berbagai informasi dan menirukan apa yang dilihatnya. Pada masa ini pula anak melalui masa kepekaan terhadap panca indera, lingkungan, keteraturan, benda-benda kecil, pergerakan, dan bahasa.

Vidya mencontohkan tentang anak yang memegang sebuah benda yang baru dilihatnya. Misalnya handphone. Maka ia akan cenderung memukul-mukul handphone tersebut, mengendus-ngendus, dan bahkan menjilatinya.

Saya ketawa geli dalam hati karena teringat A yang emang hobi banget nempelin segala benda ke dekat hidungnya mulai dari kayu, mainan, hingga mepet-mepet ke tembok.

Dari penjelasan Vidya, metode montessori menganut prinsip dan konsep dasar (ini tolong diralat kalau saya salah nangkep ya):

  • Guru sebagai fasilitator dan observer. Ini contohnya dengan cara tidak mengkoreksinya secara langsung ketika anak sedang bermain. Misalnya ia menggunakan sendok makan secara terbalik. Kita tidak perlu langsung mengkritisi bahwa cara memegang sendoknya terbalik. Cukup “menonton” saja dan Vidya menceritakan bahwa ternyata si anak memang sudah tahu bahwa ia terbalik memegang sendoknya tapi ia hanya sekedar mencoba kalau sendok terbalik itu tidak bisa digunakan untuk menyendok.
  • Prepared environment. Yaitu menyediakan lingkungan yang mendukung kegiatan anak dan sesuai dengan kebutuhan anak dengan aman, bersih, dan mendukung anak mengeksplorasi, juga membuat peraturan yang jelas.
  • Menyiapkan benda sungguhan berukuran anak. Contoh mudahnya yaitu dengan menyediakan fasilitas dan prasarana yang biasa digunakan oleh anak sesuai ukurannya dan bisa dijangkau olehnya. Misalnya kursi, meja, rak buku, dan mainan disesuaikan dengan tinggi anak alias berukuran kecil. Sehingga ia bisa meraihnya sendiri dan ini menumbuhkan kemandirian. Atau contoh lain memberikan gelas beling (dan bukan plastik) untuk anak namun dengan ukuran kecil.
  • Penggabungan usia. Yaitu menggabungkan anak usia kecil hingga besar (di rentang usia tertentu) dalam 1 kelas. Dengan ini maka anak yang lebih kecil akan belajar dari anak yang lebih besar.
  • Follow the child. Misalkan tidak memaksakan anak belajar menulis ketika si anak memang belum waktunya menulis dan motoriknya belum siap untuk menggenggam pensil. Tapi maksud follow the child di sini bukan berarti apa-apa maunya si anak kita turutin semua ya.
  • Respect the child. Menghargai anak sebagai individu yang unik sehingga membebaskan dengan batasan tertentu dan menghargai kemandiriannya. Misalnya berbicara dengan mata sejajar pada si anak, berbicara dengan pelan ketika si anak menangis meraung, meminta maaf ketika kita salah, dan sebagainya.

Ada jauh lebih banyak dan lebih jelas mengenai metode Montessori yang bisa di googling. Namun yang jelas, Vidya menegaskan bahwa metode yang ditemukan oleh Maria Montessori ini sebenarnya tidak identik dengan metode pendidikan yang menggunakan alat peraga mahal, fasilitas yang wah, dan sebagainya. Vidya juga beberapa kali mengungkapkan kegerahannya tentang fenomena Montessori di Instagram. Maksudnya tidak apa-apa mengabadikan tingkah anak dan keahlian mereka ketika belajar melalui foto atau video namun jangan semata-mata mengabadikan moment tersebut demi untuk mengutamakan “like” semata dan malah jadi memarahi anak ketika ia tidak melakukannya dengan baik dan tidak “indah” untuk difoto.

Karena semua kegiatan yang dilakukan bertujuan agar si anak menikmati setiap proses belajar dengan menyenangkan dan tidak hanya demi hasil akhir yang baik menurut kita sebagai orang dewasa.

Bahwa tidak apa-apa ketika kita sudah menyiapkan alat peraga di rumah dan si anak tidak tertarik. Mungkin karena memang dia belum tertarik untuk melakukannya sesuai apa yang kita inginkan atau cuma “diacak-acak doank terus ditinggal.” It’s really ok. “Mengacak-ngacak” itu juga proses kok, mungkin si anak sedang berpikir untuk merancang sesuatu yang tidak bisa kita (lagi-lagi sebagai orang dewasa) lihat sebagai sebuah hasil yang indah.

P_20161217_130038

P_20161217_130046
Duo bocah di kelas sebelah

Aaah, hari itu saya belajar banyak hal dari seminar hari itu, belajar banyaaak banget dari Vidya yang mengingatkan untuk terus respect the child, tidak membentak-bentak, memerintah, dan melarang tanpa menjelaskan kenapa hal tersebut dilarang.

Hari itu bahkan meski deg-degan saya akhirnya mengalahkan ketakutan untuk mengacungkan jari dan bertanya. Iyes, dari jaman sekolah saya nggak berani sama sekali untuk bertanya di kelas. Ini baru terjadi akhir-akhir ini saja, bahkan saya baru berani mengeluarkan pendapat dalam forum rapat antar teman seangkatan menjelang akan lulus kuliah.

Sebenarnya ada 2 pertanyaan, tapi karena waktu terbatas akhirnya saya mengajukan pertanyaan hasil diskusi bersama kakak saya yaitu bagaimana meyakinkan orangtua bahwa si anak ini bukan nakal lho, tapi memang punya energi berlebih dengan lompat sana sini, jumpalitan, dan semacamnya. Ini karena ibu saya suka shock gitu melihat dua cucunya yang bedanya 180 derajat sama saya dan kakak waktu kecil yang kalo diajak ke mana-mana cuma duduk manis di bangku. Diem aja nggak ngapa-ngapain.

Vidya menjawab bahwa meski kita membebaskan si anak untuk jumpalitan dan lari-lari tapi kita tetap juga harus membuat batasan kapan dan bagaimana anak tersebut boleh lari-larian. Jadi bebas tapi berbatas seperti konsep tadi di atas. Dan mengenai orangtua memang harus lebih sabar menghadapinya dan tidak bosan menjelaskan bahwa setiap anak adalah berbeda antar satu dan yang lainnya.

Sesudah itu kami mendapat makan siang dan kembali ke ruang tempat anak-anak bermain. Ketika saya datang A sedang tertidur di bangku. Katanya ia tadi sempat menangis karena tidak rela memberikan dadu raksasa yang sedang dipegangnya ketika anak-anak akan bermain ular tangga raksasa hihi.

Terima kasih Vidya atas ilmu yang diberikan dan panitia Mini Seminar hari itu. Saya pun akhirnya dapat hadiah atas pertanyaan yang diajukan, yeaay! Semoga akan ada event selanjutnya yang lebih kece!

IMG-20170308-WA0016

Habis itu kami ke Kansas yang makanannya bikin kangeeen! Sayang penampakannya udah berubah drastis. Tapi senangnya waktu Mas yang jual nasi ayam jamur (jangan tanya namanya, saya lupa!) di kantin ingat sama kami ini. Habis itu duo bocah puas banget lari-larian di rumput sampe bikin emaknya pada ngos-ngos-an lalu lanjut ngeliatin danau. Dan komentar mereka adalah:

A: “Waaah bagus ya danaunya!

Mas: “Kurasa itu bukan danau.”

P_20161217_135601

P_20161217_141117

P_20161217_141850

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *