Skolioser dan romantisme kota hujan

Saya, Mia, dan Dida sudah lama merencanakan untuk piknik bersama. Kami pertama kali bertemu secara terpisah di dunia maya sekitar 3 tahun lalu. Sama-sama memiliki kelainan tulang belakang bernama skoliosis dan Alhamdulillah memiliki visi misi yang juga sama untuk menyebarkan tentang kesadaran akan skoliosis sejak dini membuat kami merintis komunitas peduli skoliosis yang dinamakan Kurva.

Tiga tahun perkenalan di dunia maya yang hanya selintas tentu tidak cukup untuk berkomunikasi secara jelas. Pertemuan pertama kami terjadi di selasar Balairung UI, Depok saat saya diminta melakukan sharing tentang buku indie saya yang diterbitkan tahun 2014 lalu. Iyes, pertemuan di dunia maya akhirnya baru bisa bertemu di dunia nyata tiga tahun kemudian.

Dari pertemuan itu akhirnya kami memutuskan membentuk komunitas, yang sebelumnya memang sudah saya rintis dan dengungkan bernama Kurva dengan tagline #SadarSkoliosis. Namun saat itu saya masih mencari orang-orang yang satu tujuan. Karena jujur saja, tidak banyak yang berminat untuk memulai sesuatu dari awal terutama rela mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya sendiri.

Maka bersama Mia, Dida, dan satu orang lagi yaitu Tya yang berlokasi di Semarang, kami pun memulai Kurva yang berusaha menyebarkan tumbuhnya kesadaran akan skoliosis sejak dini di masyarakat.

Setelah kopdar pertama kami itu, akhirnya kami memutuskan untuk ketuk palu dengan melaksanakan event pertama berupa piknik skolioser. Piknik dilakukan di area Balairung UI, Depok. Kopi darat dengan skolioser hari itu berjalan lancar dengan jumlah peserta yang hadir sebanyak 16 orang.

Baca juga: Kopi darat skolioser piknik

Saya, Mia, dan Dida rencananya akan melaksanakan acara setiap 2 hingga 3 bulan sekali. Namun adanya kendala berupa waktu dan biaya yang terbatas membuat kami harus rela untuk sementara menyebarkan info scoliosis awareness dari balik layar ponsel saja. Maklum saja, dengan rumah Mia di Bogor dan hampir setiap Sabtu-Minggu ada acara craft, saya di Jakarta dan setiap weekend berkunjung ke rumah orangtua, sementara rumah Dida di Bekasi dengan jadwal kerja di Jakarta yang padat, membuat kami harus lebih ketat mengatur jadwal pertemuan.

Hingga akhirnya pertemuan kami bertiga untuk membicarakan event selanjutnya baru bisa berlangsung pada bulan Januari, di saat curah hujan tinggi dan lokasi yang kami pilih pun berada di kota hujan: Bogor.

Pilihan tempat pun jatuh pada Kebun Raya Bogor. Dengan pertimbangan: Mia ingin mencoba melakukan pengamatan burung dengan binokuler seperti saya, supaya A bisa ikut piknik dan lari-larian di rumput, dan belakangan supaya Dida tahu seperti apa rupa Kebun Raya Bogor itu karena ternyata diketahui bahwa tempat melihat rusa yang ia kunjungi waktu masih kecil sebenarnya adalah istana Bogor dan bukannya Kebun Raya.

Hari Sabtu itu hujan turun deras sejak pagi. Lama-lama mengecil dalam bentuk gerimis. Hingga akhirnya saya putuskan untuk tetap berangkat. Dalam perjalanan selama di kereta pun hujan tetap turun dan mengiringi saya, Abang, dan A tiba di stasiun Bogor yang rupanya sudah ada kemajuan. Yaitu sudah ada vending machine untuk tiket. Mengingat tiga bulan lalu saat ke Taman Ade Irma Suryani bersama kakak dan ibu, penumpang membludak dan bertumpuk antara penumpang yang mau membeli tiket di loket dan penumpang yang mau mengembalikan tiket harian. Kali ini kami bisa bernafas legaaaa….

P_20170114_112839
Enak, jadi lebih cepat!

Berdasarkan pembicaraan terbaru dengan Mia dan Dida, rute piknik dialihkan menjadi ke tempat nongkrong di Taman Topi karena cuaca yang tidak mendukung untuk piknik tapi mendukung untuk makan mie. Maka dengan menggendong A dan membawa payung, kami pun melangkah di tengah gerimis menuju Taman Topi. Di sana sudah ada Dida, yeay! Mia yang orang Bogor mana? Masih kejebak macet di angkot.

Kami pun makan mie dan roti Maryam di cafe yang juga menyediakan penyewaan buku bacaan itu. Hingga pukul 12 siang gerimis tetap konstan dan cenderung mengecil hingga mulai muncul matahari. Mia sudah sampai sementara A asyik memberi makan ikan di kolam cafe. Akhirnya kami putuskan untuk shalat dulu untuk kemudian mewujudkan rencana menuju Kebun Raya Bogor kembali karena mendung yang mulai menghilang. Ada mushola dan toilet di Taman Topi ini. Toilet terhitung bersih dan persediaan air memadai sementara mushola terbilang kecil sekali ukurannya.

Selepas shalat dan menuju Kebun Raya, hujan mulai turun lagi. Karena kami memutuskan akan masuk melalui pintu 3 alias area Kebun Raya yang terdapat danau teratai luas, maka kami pun menaiki angkot dulu. Setelah itu baru masuk melalui pintu 3 dan membayar tiket seharga Rp 15.000/ orang.

Dida asyik celingukan ke sana ke mari karena ini baru pertama kalinya ia berkunjung, sementara kami asyik saja menertawakannya. Pintu 3 ini rupanya boleh dimasuki pengunjung yang menaiki mobil jadi hati-hati ketika berjalan kaki terutama jika membawa anak kecil.

IMG-20170114-WA0004

Akhirnya kami pun sampai di area danau yang lumayan ramai oleh pengunjung. Bahkan terdapat mamang-mamang yang asyik mendekorasi pelaminan dan pintu masuk area pernikahan. Oh, today is the wedding day!

DSCN2523

DSCN2525

A tampak masih malu-malu dan masih beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Kami pun menggelar tikar piknik dan cemilan berupa pisang goreng buatan saya yang bentuk dan rasanya abstrak. Tidak lama A asyik main kejar-kejaran sama Abang. Sementara saya mengenalkan binokuler pada Mia yang penasaran dengan birdwatching. Sayangnya hari mendung itu tidak ada burung yang berhasil kami “tangkap”, bahkan dengan kamera saya yang tripodnya selalu diguncang-guncang A hehe.

Lalu tidak lama, saya, Mia, dan Dida terlupa dengan rencana kami untuk rapat membicarakan event selanjutnya. Kami asyik hahahihi dan foto-foto. What else? It’s picnic time!

DSCN2580

P_20170114_140340

P_20170114_140008
Tapi tenang aja, tidak lama kemudian (pas udah sekian jam :p), kami pun serius membicarakan tentang event selanjutnya untuk skolioser. Mohon doanya saja ya semoga lancar, bermanfaat, dan penuh berkah. Aamiin.

Karena langit semakin gelap kami akhirnya memutuskan untuk gulung tikar piknik dan cabut dari lokasi. Etapi kan sayang kalo pulang begitu aja. Jadilah kami menjelajah dan berniat akan keluar dari pintu 1. Melewati sungai berarus deras di bawah sana, pepohonan tinggi-tinggi, hingga Taman Meksiko yang banyak kaktusnya.

DSCN2610

DSCN2600

DSCN2604

Setelah betis mulai mengencang dan timbul pegal-pegal, terutama Abang yang daritadi menggendong A, kami akhirnya memutuskan untuk pulang selepas pintu 1 dan berpisah jalan dengan Mia yang naik angkot menuju rumahnya, sementara sisanya menuju stasiun Bogor lagi.

And here it is, penampakan tangan kami yang menggunakan gelang #SadarSkoliosis. Dengan ini semoga menjadi bertambahlah media kampanye terkait skoliosis di masyarakat. Aamiin.

IMG-20170114-WA0005

Do you want some of this merchandise? Come and visit Kurva!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *