4 hal yang harus diperhatikan ketika berkunjung ke Planetarium Jakarta

Kunjungan ke Planetarium yang terletak di Taman Ismail Marzuki Cikini, Jakarta Selatan ini merupakan kunjungan yang tertunda bertahun-tahun lamanya. Sejak kecil saya ingin sekali ke Planetarium, begitu juga dengan Abang. Sayangnya, sekian lama selalu saja tempat tersebut mengalami renovasi dan rencana pun tinggal rencana.

Ketika saya menghadiri event Fabelio, Abang pun berjalan-jalan ke Cikini bersama A. Mereka tiba sekitar pukul 9 dan langsung menuju planetarium. Sayangnya menurut petugas, tiket sudah habis dan tidak ada antrian selanjutnya.

Dua minggu kemudian kami bertiga akhirnya kembali ke Cikini dan tiba pukul 08.58.

Berikut adalah poin penting yang wajib diperhatikan ketika ingin berkunjung ke Planetarium Jakarta:

1. Datang pagi-pagi

Ketika kami tiba ternyata pintu bagian depan ditutup dan kami memutar lewat pintu belakang. Rupanya di sana sudah ada beberapa bus yang parkir dan di dalam planetarium terdapat banyak sekali siswa sekolah. Mungkin jumlahnya mencapai ratusan. Sementara di bagian tengah ruangan terdapat bangku-bangku berjajar yang menghadap loket. Bangku-bangku tersebut sudah penuh dengan orang-orang yang duduk untuk mengantri.

Kami pun bertanya pada bapak satpam dan ia berkata kalau tiket gelombang 1 sudah habis. Sementara antrian yang loketnya belum dibuka tersebut adalah untuk gelombang ke-2.

Hmm.. berarti setidaknya kalau mau ikut gelombang ke-1 harus datang jam 6.

Hari itu pun kami masih bersyukur mendapat gelombang ke-2, karena 2 minggu yang lalu saat Abang datang tidak ada lagi antrian yang dibuka setelah jam 9.

Kami pun pada akhirnya ikut mengantri dan menunggu loket dibuka.

P_20170319_090204

2. Bawa mainan, buku bacaan, dan cemilan

Antrian tersebut seolah tanpa kepastian karena petugas baru muncul sekitar setengah jam kemudian namun ternyata tidak langsung membuka loket melainkan menghitung pengunjung yang berada dalam antrian-duduk secara manual.

“Ibu berapa orang?”

“Tujuh orang.”

Lalu petugas mencatat dan bertanya pada bapak di antrian selanjutnya. Begitu terus hingga akhirnya petugas berkata “yak, habis di sini.” Tepat di posisi Abang duduk.

Onde mandeh. Jadi udah ngantri kehabisan tiket nih?! Kami berpandangan sementara A sudah rewel karena terlalu lama menunggu.

Petugas melihat lagi catatannya lalu menghitung ulang dan akhirnya berkata bahwa kami dan antrian selanjutnya hingga 50 orang masih bisa masuk namun tidak mendapat tiket duduk alias duduk gelosoran di bawah saja.

Baiklah, setidaknya nggak disuruh pulang lagi.

Antrian pun bergeser menuju loket. Sayangnya ketika sudah selesai dengan urusan loket dan mengantri naik tangga, petugas berkata bahwa mesin yang digunakan pada gelombang pertama masih panas dan butuh untuk didinginkan sehingga kami harus menunggu sekitar 1 jam lagi.

Hueeee…

P_20170319_102621

Saya bersikukuh bahwa kami harus keluar dulu demi menjaga A agar tidak bosan dan pusiang melihat jumlah orang ratusan itu di dalam ruangan. Sementara Abang kekeuh nggak mau ninggalin ruangan karena takut tiba-tiba dipanggil.

Akhirnya kami sepakat untuk masuk ke museum yang terletak di ruang sebelah.

P_20170319_103353

Di museum ini terdapat berbagai informasi terkait benda-benda langit dan astronomi melalui gambar dan benda-benda yang dipamerkan.

P_20170319_103517

P_20170319_103951

P_20170319_104014

P_20170319_103617

Itulah sebabnya wajib bawa mainan, cemilan, buku bacaan supaya anak nggak bosan. Menanti loket dibuka, antrian yang lama, dan alat yang perlu didinginkan adalah kombinasi lamanya waktu untuk bisa masuk ke dalam planetarium.

3. Jangan jauh-jauh dari tangga pintu masuk

P_20170319_104542

Benarlah kata Abang untuk tidak jauh-jauh dari situ, karena (Alhamdulillah) nggak sampai 1 jam, setengah jam kemudian gelombang ke-2 sudah bisa masuk. Maka antrian pun merangsek di tangga. Tapi yang dipanggil duluan yang punya tiket duduk ya. Kami yang kehabisan tiket alias gelosoran nggak pegang tiket sendiri. Tiket dipegang petugas jaga dan dituliskan nama di tiket tersebut. Petugas pun memanggil satu persatu nama yang ada di tiket.

4. Duduk dengan tertib

P_20170319_112046

Ketika sudah berada di dalam studio, petugas dengan microphone atau semacam rekaman audio membacakan tata tertib pengunjung.

Sayangnya, meski sudah diberi tahu untuk tidak menggunakan blitz, masih ada saja yang memotret keadaan di dalam studio dengan menggunakan blitz pada kamera. Ini tentunya mengganggu pengunjung lain.

Daaaan setelah menanti bertahun-tahun dan antrian super lama hingga akhirnya berada di dalam studio planetarium, A hanya bertahan 10 menit saja pasca ruangan digelapkan dan bintang-bintang bermunculan ihiks.

Ia merengek meminta keluar dan mulai menangis. Karena khawatir mengganggu yang lain saya pun menggendongnya keluar ahuhuhuhuhu.

P_20170319_115554

Semoga setelah ini Planetarium Jakarta bisa lebih baik lagi sistem antriannya. Mungkin bisa dibuat sistem online untuk booking tiket karena banyak pengunjung yang juga datang bersama rombongan keluarga dari jauh tapi harus kecewa karena kehabisan tiket masuk.

Ketika saya berada di luar dengan A malah ada berbagai keluarga yang protes karena di pintu terdapat pengumuman akan ada loket yang dibuka pukul 2 siang namun ternyata hari itu tidak ada loket antrian siang hari.

One thought on “4 hal yang harus diperhatikan ketika berkunjung ke Planetarium Jakarta

  • May 12, 2017 at 3:51 am
    Permalink

    Cara itungnya ajaib XD ampun dah..
    Mau ngajak bocah ah ke sini (belom ngerti tapi mumpung gratis XD)
    Padahal emaknya yang penasaran..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *