Intro: menuju pulau Rambut

Sewaktu menapaki Terminal Kalideres, sebagai tempat titik kumpul peserta yang akan berangkat ke Pulau Rambut, tiba-tiba saya teringat masa 8 tahun lalu. Ketika saya terjatuh saat hendak berangkat menuju sebuah sekolah dalam event rutin sosialisasi mangrove.

Segera sesudahnya yang ada di dalam pikiran adalah saya tak diridhoi meski jalan yang saya pilih saya anggap baik. Yaitu memilih untuk ikut menyuarakan pentingnya menjaga lingkungan dengan bolak-balik ke hutan mangrove alih-alih ke mall yang saat itu marak dilakukan oleh kawan-kawan lain seusia saya.

Katanya saya berbeda. Katanya saya payah. Semua karena seolah memilih jalan tersebut dan bukannya apa yang jamak dilakukan oleh arus. Yaitu lulus kuliah, mencari kerja dengan mendapat gaji sekian-sekian, di dalam ruangan, dan bukannya mondar-mandir dari satu sekolah ke sekolah lain seperti yang saya lakukan.

Padahal dengan berada di sana, rasa percaya diri saya meningkat setelah sebelumnya merosot tajam. Dengan berada di sana, saya belajar untuk berani mengungkapkan pendapat setelah bullying yang terjadi bertahun-tahun sebelumnya. Dengan berada di sana, saya belajar untuk menerima bahwa sebenarnya saya bisa melakukan sesuatu. Bukan tidak bisa seperti yang selama ini dikatakan.

Tapi segera sesudahnya saya memutuskan untuk kembali diam dan mengikuti arus. Segera sesudahnya, saya mensyukuri pekerjaan yang didapat dengan cara tidak menuntut cuti yang seharusnya bisa diambil. Toh jumlah jam kerja harian saya sudah banyak berkurang karena saya sering izin bolak balik ke dokter.

Mengejar bus setiap hari dan menempuh kemacetan panjang rupanya kembali memberi penyakit tersendiri untuk saya. Padahal sebelumnya jantung dan tulang punggung saya baik-baik saja menempuh jarak jauh dari sekolah tempat acara sosialisasi mangrove menuju rumah sepupu yang hendak les bahasa Inggris dengan saya dalam waktu 1 hari yaitu: Cengkareng-Cimanggis.

Ketika berada di terminal kemarin, menggendong ransel dengan tripod dan matras di masing-masing sisinya seolah saya mengulang kembali adegan-adegan saat itu. Apalagi kali ini pun kejadiannya serupa. Telepon bertubi-tubi, sms masuk berulang, segala omelan dan rasa kesal dalam suara yang bukan hanya dilakukan oleh satu orang, ditumpahkan ke saya bahkan hingga 1 hari sebelum keberangkatan.

Bahwa pergi ke pulau sendiri saja saya sudah menempuh suatu kesalahan, apalagi dengan membawa anak berusia 2 tahun!

Dulu saya tak mengerti kenapa saya hendak memilih perjalanan sebagai sebuah proses untuk lebih mengenal diri sendiri. Karena selama ini seolah selalu salah saya lah bahwa saya menyukai traveling dan semacamnya. Salah saya lah kenapa saya memasukan keliling nusantara, mendirikan perpustakaan di berbagai tempat, dan menjadi travel blogger ke dalam daftar mimpi yang ingin diwujudkan.

“Memangnya bisa? Kamu tidak bisa.”

Selalu saja itu yang diungkapkan.

Dan lambat laun saya menuruti saja, diam. Melewatkan banyak kesempatan untuk melakukan perjalanan.

Hingga beberapa minggu lalu, saya berbincang dengan Kakung. Saat itu kami mengobrol di tempat favoritnya. Di bagian paling belakang rumah, lorong kecil yang diisi bangku kayu dan beratapkan langit. Ia bertanya burung apa saja yang saya lihat di Pulau Rambut. Dari situlah pembicaraan kemudian berlanjut dan saya baru tahu bahwa duluuu sekali saat Kakung masih kecil, di kampung kami dulu di Jawa Tengah ada banyak sekali burung kuntul yang berkeliaran di mana-mana. Saya membayangkan mungkin seperti di Desa Ketingan. Namun saat itu jumlah burungnya bahkan mencapai ribuan.

Orang-orang lain selalu bilang Kakung keras kepala dan tak bisa dimengerti. Tapi sejak dulu saya selalu berpikir bahwa Kakung terlalu idealis dan orang-orang lah yang tak mengerti idealisme yang ada dalam kepala Kakung.

“Coba bayangkan. Pada waktu itu mana ada lagi yang mau jalan kaki dari Jawa Timur ke rumah di Jakarta sini.” Celoteh Kakung lagi.

Saya tertawa, mengingat cerita beberapa tahun silam saat seisi rumah Kakung di Jakarta geger karena Kakung kabarnya sudah pulang dari Blitar, mengunjungi makam Bung Karno, tapi tak kunjung sampai di rumah.

Rupanya Kakung berjalan kaki menuju Jakarta! Tidur di mushola dan emperan toko.

Tak akan ada yang mengerti untuk apa Kakung melakukan itu semua?!

“Nyusahin anaknya aja!” Begitu katanya.

Tapi saya ingat, beberapa tahun lalu saya pernah mencoba ingin jalan kaki dari Pancoran ke Pasar Festival, Kuningan. Meski kemudian dibatalkan karena saya sudah ngap-ngapan.

Untuk apa?

Karena saya suka berjalan kaki, sebagai bagian dari titik awal mula perpindahan seseorang dari satu tempat ke tempat lain.

Dan sama seperti Kakung yang juga mengingat bahwa kakeknya alias kakek canggah saya pernah berjalan kaki melintasi hutan dan gunung dari sebuah daerah di Jawa Tengah menuju Bandung karena dikejar penjajah.

“Kakung bukan sekedar silaturahim dengan orang lain, tapi juga dengan alam. Kita sudah diberi banyak oleh alam.”

Lalu segera, saya seperti melihat diri saya sendiri. Bedanya, saya tak idealis seperti Kakung.

Maka ketika informasi mengenai Jakarta Bird Walk yang dilakukan di Pulau Rambut saya terima dari Mbak Shanty, saya memberitahukan pada Abang. Dan ketika ia setuju, hal pertama yang saya lakukan adalah bertanya pada koordinator apakah boleh membawa anak 2 tahun. Karena jawabannya adalah boleh, maka segera kami merinci apa saja yang harus dibutuhkan selama perjalanan pertama A menuju pulau yang juga dengan perahu pertamanya ini.

Meski kemudian ide ini ditolak mentah-mentah oleh mereka yang mendengarnya. A seharusnya tidak usah ikut, dititipkan saja. Katanya.

Lalu omelan datang. Saya seolah tak becus jadi ibu, apalagi ditambah dengan komentar-komentar di belakang tentang betapa berantakannya rumah saya selama ini, bahwa saya tak pandai mengurus rumah dan sebagainya.

Saya tak ingin sekali mengulangi siklus yang ada selama ini, dengan berkata “Kamu tidak bisa” pada A yang sedang kekeuh berusaha melakukan sesuatu sehingga mematikan potensinya. Meski pada beberapa kasus, sulit sekali memutuskan siklus tersebut karena tidak semudah berkata “Lupakan saja” pada memori-memori yang sudah tertanam.

P_20170415_085544

Ketika kemudian bertemu dengan banyak kawan-kawan baru dalam perjalanan, terlonjak-lonjak di dalam bus menuju pelabuhan dengan A tertidur pulas di pangkuan, saya deg-degan sekaligus excited selama di perjalanan.

Bahwa tujuan kami semoga dengan perjalanan ini A tumbuh dengan mengeskplorasi alam sekitar dan mencintai lingkungan, meningkatkan rasa percaya diri, dan terutama bagi saya adalah untuk menerima dan memaafkan. Tidak hanya orang lain, namun juga menerima dan memaafkan diri sendiri atas apa yang sudah terjadi.

P_20170415_111219

Pulau Rambut, Kepulauan Seribu. 15-16 April 2017. Kembali lagi setelah 8 tahun. 

#WritingIsHealing

One thought on “Intro: menuju pulau Rambut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *