Event bicara gizi “Waspada Berat Kurang Pada Anak” bersama Nutrisi untuk Bangsa

Event Bicara Gizi ini diselenggarakan oleh Nutrisi untuk Bangsa dari Nutricia Sari Husada. Awalnya sewaktu mendaftar melalui KEB, saya masuk sebagai waiting list no. 2. Hihi telat terus kalau daftar acara. Kurang gercep nih.

Namun ternyata pada H-1 ada peserta yang membatalkan. Dan pas di-summon sama Mak Puh Indah Juli siapa saja para waiting list-er yang bisa hadir, eh saya pas lagi online! Jadinya komen duluan deh. Alhamdulillah rezeki ya setelah sekian lama daftar nggak dapat-dapat kuota hadir :’).

Sampai di acara ternyata belum terlalu banyak peserta yang datang. Saya berkenalan dengan Mbak Shifa dan Mbak Ayu yang juga dari KEB.

Kami menikmati kue dan teh yang sudah tersedia. Karena perut saya lapar bingits jadi ketika yang lain sudah mulai ngetwit saya mah masih aja sibuk makan. Jadi yang lain blogger live tweet saya blogger cemil-cemil heuheuu. Sampe pas udah abis saya baru inget: Ya Allah itu kue bukannya dibawa pulang buat anak malah di lep semua =_=.

Oiya sambil menunggu acara dimulai kita bisa foto di photobooth yang sudah tersedia dan dicetak langsung.

P_20170503_090532

Peserta juga bisa mencoba melakukan checking terkait ideal atau tidaknya berat anak melalui situs yang akan diluncurkan oleh Nutricia Sari Husada. Untuk trial ini nyobanya di laptop dan dibantu mbak petugas.

P_20170503_090307

Greenkustik pun menemani kami dengan lagu-lagunya yang ciamik. Ketika pukul 10 barulah MC yaitu Mbak Tia membuka acara.

P_20170503_091803

Kemudian diputarlah video mengenai tanggapan orangtua terhadap berat badan anak. Rata-rata para ibu di video tersebut tidak mengetahui atau tidak memantau berapa berat anaknya saat itu. Dan cenderung menilai kurus tidaknya si anak dibanding kawan-kawannya yang lain.

Mbak Tia pun menghadirkan pembicara hari itu yaitu dr. Yoga Devaera Sp.A (k).

Menurut dr. Yoga tumbuh kembang dapat diartikan dari aspek fisik yaitu berat badan anak, tinggi atau bisa disebut panjang badan, dan lingkar kepala. Sementara dari segi non fisik bisa dilihat dari motorik, bahasa, juga sosial dan kemandirian.

Pertumbuhan anak di awal tahun atau masa emas sangatlah penting. Misalnya saja di awal-awal pertumbuhan kenaikan lingkar kepala seorang anak akan sangat cepat dan harus diperhatikan. Karena kalau sudah tertinggal tidak bisa lagi dikejar.

Sementara untuk komposisi tubuh lain yaitu berat dan tinggi pun harus juga selalu dipantau.

Setiap bulan, berat seorang anak akan naik begitu juga dengan tinggi badan.
Namun ada masa di mana BMI atau (body mass index) alias indeks masa tubuh seorang anak akan mencapai puncak di 8 bulan dan setelah 2 tahun, juga 4-6 tahun menurun. Jadi massa lemak memang akan berkurang. Sehingga dalam usia tersebut tidak usah khawatir kalau anak terlihat ramping dibanding kawannya yang lain selama kita tetap memantau pertumbuhannya.

Ada berbagai faktor berat anak lebih rendah dari yang lain. Yaitu faktor nutrisi, aktivitas fisik, feeding style, menu makan tidak variatif, frekuensi makan, dan genetik.

Jika seorang anak mengalami kurang gizi di awal pembentukan janin dan bayi, maka efek jangka pendeknya yaitu pertumbuhan tidak bagus. Sementara efek jangka panjangnya yaitu perkembangan otak tidak maksimal, gizi buruk, dan resiko menderita penyakit akan lebih besar. Di kemudian hari, anak tersebut akan gampang terkena penyakit tidak menular (jantung, diabetes, stroke, dan hipertensi).

Ada dua hal yang juga wajib dicatat. Yaitu status gizi yang dilihat dari proporsi berat badan dengan tinggi. Jadi Lihat beratnya bukan dari umur tapi dengan tinggi badan.

Jadi berat ideal = diukur dari tinggi badan.

Yang kedua yaitu pertumbuhan. Kita bisa memantau pertumbuhan anak melalui KMS (Kartu Menuju Sehat) yang didapat sejak anak lahir. Setiap bulannya bisa terlihat bagaimana perkembangan berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala anak.

P_20170503_101943

Jika sekarang gizi anak baik tapi jika kenaikannya tiap bulan tidak baik maka bisa saja jangka panjangnya tidak baik.

Hueee ini PR banget buat saya karena berat A nggak naik-naik huhuhu. Si A ini memang beratnya lebih rendah dari kawannya tapi kalau dilihat dari tingginya ia termasuk ideal.

Maka bu ibu wajib melakukan pemantauan pertumbuhan dengan mengukur berat, tinggi atau panjang badan, dan lingkar kepala di setiap bulannya jika anak kurang dari usia 1 th. Sementara untuk anak usia 1-5 tahun pemantauan pertumbuhan ini bisa dilakukan 3 bulan sekali.

Hayooo siapa yang belum nimbaang?

Sayaaah.

PR satu lagi buat sayah karena A termasuk yang nangis jejeritan dan berontak kabur kalo disuruh nimbang, apalagi posyandu dekat rumah pakai timbangan ayun-ayun. Makin berontak kabur lah dia kaya mau roboh gitu timbangannya. Ya Allah, Nak. Ini kan cuma nimbang, bukan disuruh megang kecoa terbang. (Kalo ini mah baru Ama yang kabur ngibrit).

Nah, jika kenaikan pada anak tidak bertambah maka harus segera konsultasi ke pelayanan kesehatan ya.

Karena ada beberapa penyebab pertumbuhan anak tidak baik, yaitu:

1. Kesalahan pengukuran (misalnya nimbang bayi pakai diapers itu ternyata nggak boleh, lho. Padahal biasanya kan nanti kira-kira aja dikurangi berat diapersnya. Tapi nggak boleh menurut dr. Yoga. Karena tidak akurat. Begitu juga dengan “ya udah nimbangnya digendong ibunya aja. Nanti dikurangi berat ibunya.” Ini pun juga nggak boleee.

2. Kesalahan plot pada grafik (misalnya si ibu di posyandu karena ngantuk jadi ngasih titiknya tuh melenceng hehe).

3. Asupan nutrisi tidak cukup.

4. Masalah medis (infeksi kronik, malabsorbsi, neurologis, dll)

5. Genetik atau keturunan. Tapi menurut ibu dokter ini jarang terjadi.

Terus gimana donk biar anak cukup nutrisi?

Nah, dimulai dari MPASI.

Memberi makan anak itu harus bertahap. Ketika MPASI ia pun harus dilatih mengunyah, bertahap dikenalkan pada makanan bertekstur lebih kasar. Pada usia 10 bulan harus sudah dikenalkan dengan makanan kasar.

Setelah 1 tahun harus sudah mulai makanan keluarga. Bila perlu harus dicincang atau disaring kasar.

Jangan sampai sudah usia 2 atau 3 tahun si anak masih makan dengan nasi yang diblender. Karena selanjutnya akan sulit sekali jika anak tidak dilatih untuk mengunyah.

Lalu apa saja makanan yang harus diberikan?

# Mengandung karbohidrat dan lemak sbg sumber energi (susu, keju, telur)
# Mengandung protein hewani
# Mengandung mineral dan vitamin, zat besi, seng, vit. A)
# Mengandung kalori

Hal yang perlu diperhatikan saat anak makan:

*Sabar. Melakukan pengenalan berkali-kali. Jangan pantang menyerah (kaya saya hueeee. Ujung-ujungnya si anak makan rotiii).
*Membuat jadwal makan dan masakan yang teratur
*Jangan paksa anak makan
*Perhatikan tanda lapar dan kenyang
*Kebersihan dalam mengolah, menyiapkan, dan memberikan mpasi

Nah, ibu wajib waspada dan harus konsultasi jika:

Berat badan anak turun, berat badan anak tidak naik, dan kenaikan berat badan tidak sesuai harapan.

Maka setiap orangtua (bukan hanya ibu ya tapi juga ayah) wajib memantau berat anak secara teratur dan memerhatikan asupan harian si kecil terutama kalori harian.

Nah, kesalahan saya adalah saya nggak bikin jadwal masak! A maunya telur ceplok ya udah ceplok lagi ceplok lagi. Menu makan nggak variatif deh!

Sebagai emak yang ke dapur buat masak air sama mie (buat diri sendiri tentunya), saya kebanyakan riweuh kalo mau masak huhuhu.

Setelah itu ada sepatah dua patah dari Ibu Anggie Morika Septie selaku Growth Care Manager PT Sari Husada.

Sari Husada mengkampanyekan tentang pentingnya memantau pertumbuhan anak via video edukasi (lewat media sosial), PR activity (blogger gathering, radio talkshow, media workshop), livechat, writing and photo competition.

Satu lagi yang lebih penting adalah membuat microsite untuk memantau pertumbuhan anak dan bisa mudah diakses. Event hari itu juga sekaligus menjadi momen peluncuran microsite yang tentunya diharapkan bermanfaat bagi semua pihak.

Microsite tersebut adalaaah jreeeng jreeeng:

www.cekberatanak.id.

IMG_20170504_102242_286

Ibu Anggie dan ibu dr. Yoga pun menekan tombol sebagai peresmian peluncuran microsite.

P_20170503_105803

Screenshot_2017-05-04-20-18-58

Langkah-langkahnya adalah:

1. Timbang dulu dan ukur dulu si anak

2. Akses microsite tersebut lewat browser. Lalu masukan data ibu dan data anak, terutama rincian pengukuran anak tadi ya.

3. Dapatkan grafik pertumbuhan dan yang lebih seru adalah grafik tersebut juga bisa kita print untuk memantau pertumbuhan anak.

4. Konsultasi ke pelayanan kesehatan seperti posyandu, puskesmas, dan rumah sakit jika terdapat kendala dalam pertumbuhan anak.

Waah seru dan keren ya kampanyenya. Habis itu peserta dibagi menjadi 4 kelompok untuk bermain games ular tangga. Pertanyaannya tentu saja seputar informasi yang sudah diberikan.

P_20170503_112301

Habis itu makaan siaang, yeay! Sambil diiringi greenkustik lagi tentunya.

Seluruh peserta pun mendapat bunga mawar dan goodie bag.

P_20170503_125521

Aah, saya senang sekali sama acara hari itu yang luar biasa informatif. Semakin menyadarkan saya pentingnya membuat dan mengatur jadwal menu agar variatif dan asupan kalori A terpenuhi dengan baik. Juga agar bisa membedakan laos dengan lengkuas.

Terima kasih untuk Nutrisi untuk Bangsa Nutricia Sari Husada dan KEB hari itu saya sudah diperkenankan hadir dan mengikuti acara. It really means a lot!

P_20170503_093614

 

P_20170504_111626

4 comments Add yours
  1. anakku dulu kurus , banyak yang bilang kurang gzi padahal anakku gak pernah susah makan, ke dokter juga sehat2 saja. Mungkin krn genetika ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *