Libur lebaran ke Pulau Weh bareng Cheria Halal Holiday

Pulau Weh. Pulau di hampir bagian barat nusantara yang masih saja membuat saya penasaran.

Empat tahun lalu setelah melangsungkan pernikahan, saya dan Abang terbang ke bumi swarnadwipa. Sayangnya, rencana utama kami untuk snorkeling di Iboih, Pulau Weh selepas dari Banda Aceh, gagal total sewaktu orangtua saya mengetahui rencana itu. Katanya ada pantangan dalam adat Jawa bagi pengantin baru untuk turun ke laut.

Kami memutuskan honeymoon di Nangroe Aceh Darussalam karena tempat tersebut merupakan kampung halaman orangtua Abang yang memang asli dari Aceh. Pada akhirnya saat empat tahun lalu itu, kami akhirnya memutuskan untuk tetap pergi ke pulau Weh di hari kedua honeymoon meski tanpa snorkeling yang sungguh menggoda hati saya yang memang sangat menyukai keindahan bawah laut. Saat itu kami seolah hanya sekedar icip-icip cuci kaki di pantai Gapang lalu pulang hiks..

Dengan keindahan bawah lautnya yang memesona dan pengalaman saya dan Abang empat tahun lalu itu yang menginap di penginapan seadanya karena itin yang harus disusun ulang, hingga harus meminjam motor pemilik warung karena kami kelaparan dan mencari tukang nasi goreng di tengah amukan angin dan pohon yang meliuk di tengah malam, maka sudah pasti Pulau Weh tetap saya masukkan sebagai daftar tempat yang ingin dikunjungi kembali suatu hari nanti.

dsc_0875_wm

Selain panoramanya yang mengagumkan, Sabang, sebagai pusat dari Pulau Weh, pun sempat memiliki peran penting sebagai titik persinggahan lalu lintas perdagangan dunia. Pada masa pendudukan Jepang, tentara Jepang bahkan mendirikan bunker dan benteng di sepanjang garis pantai.

Panorama alam yang indah, bawah laut yang tidak bisa diragukan keanekaragaman hayatinya, juga kaya akan sejarah. Lengkap lah sudah semua alasan untuk wajib mengunjungi Pulau Weh.

Hmm… bagaimana kalau pergi ke Pulau Weh saat libur lebaran atau akhir tahun? Jadi mungkin bisa sekalian bareng sama Ummi mertua yang mudik ke Aceh kemudian bersama-sama menyeberang ke Pulau Weh. Meski asli dari Aceh, namun entah berapa puluh tahun yang lalu terakhir kalinya Ummi mengunjungi Pulau Weh.

TEMPAT WISATA DI PULAU WEH

Ini beberapa lokasi yang menjadi incaran ketika berkunjung ke Pulau Weh:

1. Kota Sabang dan tugu Nol kilometer

Meski ujung paling barat Indonesia berada di Pulau Rondo, namun karena pulau tersebut tak berpenghuni maka tugu nol kilometer dibangun di Kota Sabang. Sepanjang jalan menuju tugu kilometer kita akan disuguhi pemandangan kota Sabang, jalan yang berkelok-kelok dan naik turun, juga monyet ekor panjang.

DSC_1098

2. Pantai Iboih, Pantai Sumur Tiga, dan Pantai Gapang

Karena memiliki garis pantai yang banyak, ada sekian jumlah pantai di Pulau Weh ini. Dan seluruhnya luar biasa menakjubkan. Dari pantai Iboih kita bahkan bisa menyeberang 15 menit ke Pulau Rubiah, yang pada saat honeymoon itu hanya bisa saya lihat dari kejauhan. Pulau Rubiah dulu sempat menjadi pulau tempat singgah para jamaah haji sebelum berangkat ke tanah suci dan berlayar selama 3 bulan.

Menariknya, ada hiu paus atau whale shark yang bisa dijumpai di sini pada bulan-bulan tertentu. Hiu paus dengan nama latin Rhincodon typus ini mengambil rute migrasi salah satunya melewati perairan Pulau Weh. Namun, pasca tsunami 2004 ikan berukuran besar ini tidak lagi terlihat hingga akhirnya muncul 10 tahun kemudian atau pada tahun 2014. Saya jadi penasaran sama alasannya. Apakah selama kurun waktu 10 tahun pasca tsunami, pakan hiu paus yang berupa plankton menghilang ya sehingga ia enggan mampir?

Eits, tapi kalau kamu berhasil menjumpai whale sharks saat sedang snorkeling atau diving ada etikanya lho ya. Meski hiu paus jinak tapi tidak boleh pegang-pegang apalagi memeluknya. Mendekat dengan perahu bermotor pun sangat dilarang.

Saya jadi geregetan ingin menunjukkan hiu paus pada anak kami, A, yang sedang belajar bereksplorasi dengan alam sekitar.

DSC_0890 iboih 2
Iboih, 2013

3. Air terjun Pria Laot

Selama ini saya hanya tahu secuil Pulau Weh dengan pantai dan lautnya. Padahal masih ada lho lokasi lain di pulau Weh yang tidak berbentuk pantai. Tempat ini adalah kawasan wisata air terjun Pria Laot yang berjarak sekitar 12 km dari Sabang atau sekitar 30 menit berkendara dari Pelabuhan Balohan. Lokasi ini terletak di tengah kerindangan hutan dan udara yang sejuk. Hmm… siapa tahu ya saya sekalian bisa pengamatan burung alias birdwatching di area ini. Kan seru tuh!

Sumber foto: acehtourism.info

Sumber foto: acehtourism.info

4. Danau Aneuk Laot

Danau ini terletak di tengah kota Sabang. Arti kata dari Aneuk Laot adalah Anak Laut. Air terjun Pria Laot yang sudah disebutkan di atas nantinya bermuara di danau ini. Dari danau yang menjadi sumber air tawar bagi penduduk Pulau Weh ini pula kita bisa menyaksikan panorama matahari terbenam dengan indahnya.

Sumber foto: pulauwehaceh.com
Sumber foto: pulauwehaceh.com

5. Pemandian air panas Jaboi

Ternyata di Pulau Weh ada pemandian air panas jugaa. Sumbernya dari mata air dari gunung berapi aktif Jaboi yang ada di tengah pulau.

6. Situs benteng Jepang Anoi Itam

Pada masa pendudukan, para tentara dari negeri matahari terbit menjadikan Pulau Weh sebagai perlindungan dari tentara sekutu dan membangun benteng dalam waktu singkat. Mengunjungi situs sejarah semacam ini bisa menambah wawasan akan masa lalu bangsa ini yang pernah dijajah Jepang selama 3.5 tahun.

WISATA HALAL

Di tengah euforia wisata yang sedang gegap gempita ini, kita wajib memerhatikan berbagai aspek selama melangsungkan sebuah perjalanan. Baik aspek dampak lingkungan yang ditimbulkan ketika kita berkunjung, juga aspek pendukung wisata tersebut. Misalnya saja memerhatikan kehalalan dari keseluruhan perjalanan agar berdampak baik bagi diri kita. Dimulai dari makanan apa saja yang akan kita makan selama perjalanan wisata hingga memerhatikan waktu dan tempat untuk shalat ketika dalam perjalanan.

Wisata halal penting dong ya. Karena tujuan untuk berwisata bagi saya adalah untuk mengagumi indahnya ciptaan Sang Pencipta dan tentunya juga harus diiringi dengan rencana perjalanan yang penuh berkah.

MUI pun sudah mengeluarkan fatwa terkait wisata halal ini. Yaitu Fatwa MUI no 108/DSN-MUI tentang pedoman penyelenggaraan pariwisata berdasarkan prinsip syariah. Kurang lebih isinya mencakup penyelenggaraan wisata yang berpegang pada syariat Islam, mulai dari akomodasi, makanan, minuman, fasilitas ibadah, dan aspek lainnya. Lebih lengkapnya bisa dilihat di sini. 

Nah, ternyata Cheria Travel punya program paket wisata halal yang disebut Cheria Halal Holiday. Program ini ditujukan untuk paket wisata dalam dan luar negeri.

Waah saya jadi ingat sewaktu di Taipei, setiap bepergian kami selalu membawa bekal makan dari rumah karena sulitnya mencari rumah makan yang memiliki makanan dan minuman halal.

Karena saat itu kami membawa pasukan bocah jadi bekal makan selalu diutamakan untuk anak-anak, sementara untuk yang dewasa yaa ganjal perut dulu lah dengan ubi bakar yang dijual di Sevel yang ada di stasiun atau tempat wisata hehe. Sementara untuk mencicipi mie sapi yang halal, kami harus menuju sebuah mall yang letaknya cukup jauh. Mie sapi ini cukup terkenal di Taiwan sehingga kami merasa harus mencicipinya. Sementara di lain kesempatan saat pergi ke pasar malam di Taipei, saya mencicipi sate bakso gurita tanpa saya tahu ternyata ada kandungan minyak babi dalam makanan tersebut. Pun begitu juga dengan kuas yang digunakan untuk melumuri bumbu huhuhu.

Maka penting sekali pengetahuan kehalalan dalam sebuah perjalanan. Juga rencana yang sebaiknya tidak terlalu dadakan seperti sewaktu kami honeymoon supaya tidak ada lagi peristiwa hampir kejungkel dari motor karena tertiup angin saat mencari nasi goreng hehe. Apalagi kini sudah ada A di tengah kami. Jika punya dana mencukupi maka akan lebih baik jika perjalanan yang cukup jauh diserahkan kepada pihak travel.

Selain dalam negeri, ternyata Cheria Travel juga punya paket wisata halal luar negeri. Misalnya saja Paket Wisata Halal Jepang dan Paket Wisata Halal Eropa. Negara-negara tersebut memang menjadi impian saya hehe nggak papa kan ya mimpi dulu.

Untuk sekarang kita bikin rencana ke Pulau Weh saja dulu. Semoga kapan-kapan beneran bisa balik ke Pulau Weh itu yaa. Aamiin.

Asiknyaaa kalau menelusuri pantai-pantai berpasir lembut dan menjumpai beraneka biota laut di Pulau Weh bareng Cheria Halal Holiday!

12 comments Add yours
  1. love your post, this surely will inspired others to go there. <3 smoga bisa kesampaian yaa kembali lagi kesana sekeluarga, with the better itinerary and condition, of course! 😀

  2. Jadi tau deh tempat-tempat keren di Aceh.. Kapan-kapan ajak dong yuull.. Tp jangan ke tempat yang banyak monyetnya ya

    1. Hehe oh iyaa shel. Monyetnya cuma di jalan arah tugu nol kilometer kok. Di pantainya nggak ada. Hayuuuk rame-rame ke sana 😀

  3. “Katanya ada pantangan dalam adat Jawa bagi pengantin baru untuk turun ke laut.”
    Sesungguhnya baru tau ttg ini, apa kabarnya sayah yang setipe liburannya sama Yulia+Julbe waktu itu.. XD

    “Semoga kapan-kapan beneran bisa balik ke Pulau Weh itu yaa. Aamiin.”
    Aamiin.. ya robbal’alamiin.. semoga bisa bareng liburan ke sanaa..

    1. Apa kabarnya juga yg sekarang kalo honeymoon pada ngaburnya ke maldives yah? Haha. Sampe sekarang juga nggak tau alasannya kenapah. Mboten ngertos :3

  4. jadi begitu ya pulau weh.. aamiin semoga bisa balik lagi ya kesana! ajak aku ya A, ke Aceh, ke Taipei, ke Jepang juga boleh 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *