Piknik singkat di Monas

Ide untuk piknik singkat ini lagi-lagi muncul secara dadakan. Selepas Subuh langsung saja saya mengirimkan pesan WA ke kakak saya, apakah ia dan Mas D mau ikut jalan-jalan ke Monas. Dengan catatan: jam 7 sudah berangkat supaya nggak kepanasan.

Akhirnya kami pun langsung berangkat dengan menggunakan kereta. Tidak lupa saya membawa kamera dan tikar piknik.

Kami turun di stasiun Juanda dan berjalan kaki menuju Monas dengan melewati Masjid Istiqlal terlebih dulu. Dari situ melewati es krim Ragusa yang legendaris dan masih tutup. Tugu Monas pun sudah terlihat.

DSCN2639

Tugu Monas sebagai ikon Jakarta didirikan pada tahun 1959 dan diresmikan pada tahun 1961. Rancangannya dibuat oleh arsitek Indonesia yaitu Soedarsono, Frederich Silaban, dan Ir. Rooseno.

Rupanya rute jalan kaki terbilang cukup jauh menurut Mas D, sehingga berulang kali ia mengeluh capek dan minta gendong. Setelah bundanya gempor, akhirnya Abang deh yang gendong hihi.

Pintu masuk menuju Monas rupanya bukan yang dekat dengan rute setelah Masjid Istiqlal, alhasil kami masih harus memutar lagi menuju pintu masuk satu lagi. Kata Mas: tapeee deh!

DSCN2648

Akhirnya sampai di dalam kami cukup cari spot yang enak buat duduk-duduk. Taman kota di sekitaran Monas ini dulunya dikenal dengan nama Lapangan Gambir, kemudian berubah menjadi Lapangan Ikada, dan sekarang menjadi Taman Monas.

Saya pun melipir mencari keberadaan burung-burung untuk dijepret. Di pohon di atas kepala saya tampak burung punai gading yang sayangnya ketutupan daun terus dan nggak bisa dijepret. Akhirnya saya berjalan berkeliling mencari burung takur ungkut-ungkut yang kedengeran suaranya aja. Bocah-bocah pada ngikutin dan malah sengaja berisik di dekat saya biar semua burung terbang kalo saya dateng huhu teganya kalian. Mereka juga kadang sengaja nginjekin rumput meski emak-emaknya udah pada bilangin berulang kali.

DSCN2745

Kami berasa teduh dan adem ayem aja di bawah pohon hingga akhirnya ajakan pulang dilontarkan dan Mas menolak mentah-mentah untuk pulang. Ia kekeuh mau masuk ke dalam Monas. Doh! Masalahnya diliat dari jauh aja kayanya tuh Monas udah rame beuts.

DSCN2739

Apalagi ngantri dan panasnya itu lho! Sementara matahari udah naik dan kami harus jalan kaki lagi menuju Monas. Karena bocah kekeuh minta masuk ya udah deh tanggung, kasian juga sih kalo penasaran.

Akhirnya kami nanya sama bapak petugas di dekat pintu masuk. Si bapak kayanya bete banget ditanya berulang hehe. Dari tampilannya sih beliau bukan petugas yang biasa bertatap muka sama banyak pertanyaan dari pengunjung berulang-ulang, jadinya bete gitu. Yaah abis kita nanyanya sama sapa lagi donk heu.

Ternyata menurut si bapak petugas, di area pintu masuk yang ada di bawah sudah banyak pengunjung sehingga diberlakukan jam masuk supaya pengunjung yang masih di luar pintu kaya kami nggak berdesakan di loket bawah.

Setengah jam kemudian pagar baru dibuka dan kami pun menuruni tangga menuju loket pintu masuk Monas. Ternyata memang benar, sudah ramai orang. Beberapa di antaranya adalah wisatawan asing.

Untuk masuk ke dalam kita menggunakan kartu Jakcard. Kartu tersebut bisa digunakan untuk naik TransJakarta dan ke tempat wisata lain seperti Ragunan. Namun jangan khawatir jika tidak punya, kita juga bisa membeli kartu di loket dan mengisinya secara langsung.

Sumber: www.reg-jakarta.com/2015/06/tugu-monas.html

Setelah itu kami berjalan menelusuri lorong menuju bagian tengah Monas. Nggak tahu ya kapan terakhir saya ke sini tapi kayanya dulu lorongnya belum seperti itu.

DSCN2754

Dan sampailah kami di Museum Sejarah Nasional yang merupakan lantai dasar tugu Monas.

P_20170122_123350

Di Museum Sejarah Nasional ini terdapat miniatur monas dan maket peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Indonesia. Pengunjung banyak yang melihat-lihat meski banyak juga yang sekedar duduk-duduk saja di tengah ruangan.

P_20170122_122857

P_20170122_122946

P_20170122_123204

Habis itu barulah kami naik tangga lagi. Syukur bocah nggak tahu kalo ada bagian Monas paling atas yang bisa dikunjungi pake lift, jadi mereka ya puas-puas aja sampai bagian cawan ini hahaha. Lihat aja antrian panjang buat naik lift ini, saya mah tobat deh.

P_20170122_123636

P_20170122_123527
Sampe sini aja udah seneng kok. Alhamdulillah.

Lalu mulailah lagi drama ngejar-ngejar mereka yang naik turun tangga. Nggak sih, nggak saya pegangin seutuhnya. Biar pada latian keseimbangan. Syukur Utinya nggak lihat mereka wara-wiri naik-turun tangga yah…

P_20170122_124318

 

P_20170122_124740

Sudah puas lari-larian, kami pun keluar dari situ. Daaaan masih ada request lagii! Yaitu, naik kereta! Huee… ya udah apa aja deh, demi anak. Akhirnya kami pun ngantri panas-panas buat naik kereta wisata.

P_20170122_131115

P_20170122_130114

Setelah setengah jam, akhirnya dateng juga. Dan selamatlah kami dari sengatan matahari siang.

P_20170122_131711

P_20170122_131952

Habis itu kami makan siang dulu di kantin yang tersedia. Harga makannya standar dan nggak terlalu mahal. Di dekat situ juga tersedia mushola, toilet, dan tempat wudhu yang cukup luas.

P_20170122_141049

Tips jalan-jalan di Monas:

  1. Jangan lupa bawa topi atau payung ya.
  2. Bawa bekal makan dan usahakan menggunakan kemasan yang ramah lingkungan
  3. Tidak menginjak rumput dan membuang sampah sembarangan
  4. Hindari datang saat liburan sekolah jika tidak ingin suasana terlalu ramai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *