Mandalawangi-Pangrango oleh Soe Hok Gie

Beberapa waktu lalu ada ajakan untuk kembali ke Cibodas bersama teman-teman Abang. Bukan untuk kemping atau trekking, hanya sekedar survey penginapan sehingga tidak butuh banyak persiapan sebenarnya.

Namun perjalanan tersebut sudah mendekati bulan Ramadhan sehingga saya agak kurang sreg. Ditambah lagi kami akan menempuh dengan bus malam hari karena Abang rapat hingga senja. Pun saya cukup was-was dengan beberapa kecelakaan yang terjadi di jalur Puncak beberapa kali ini.

Pada akhirnya kami membatalkan bepergian karena kendala transportasi dan pergi menjenguk Ummi di Ciputat saja. Ketika memandang langit Ciputat yang cerah hari itu, saya bersyukur pada keputusan kami tapi tak bisa begitu saja menepis kerinduan akan memandangi puncak Pangrango dari kejauhan.

Mandalawangi-Pangrango oleh Soe Hok Gie

Senja ini, ketika matahari turun
Ke dalam jurang-jurangmu

Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
Dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan

Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan
Menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah, dan hadapilah”

Dan antara ransel-ransel kosong
Dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas-batas hutanmu

Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup

Djakarta 19-7-1966
Soe Hok Gie

Foto: Cibodas, 2014
Foto: Cibodas, 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *