Seminar Migrasi burung di UIN Ciputat dalam rangka World Migratory Bird Day 2017

Sabtu, 13 Mei 2017 saya mengikuti seminar pengamatan burung dengan tema “Protect the bird and let them free”. Seminar ini diselenggarakan dalam rangka World Migratory Bird Day 2017. Hari migrasi burung sedunia jatuh pada tanggal 10 Mei dan berbagai kegiatan serupa serempak dilakukan di sekitaran tanggal tersebut.

Seminar dilaksanakan oleh Jakarta Bird Walk dan didukung oleh Burung Nusantara, kelompok pengamat burung dari berbagai kampus seperti Bio Bird Club, KPB Nycticorax, Comata UI, KPB Nectarina. Lokasi bertempat di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat. Momennya pas sekali karena hari itu kami bertiga batal pergi ke Cibodas dan merubah jadwal ke rumah Ummi di Ciputat. Selama perjalanan kami memberitahu A kalau nanti saya akan turun duluan di tepi jalan untuk mengikuti seminar. Ia mengerti dan melambaikan tangan dengan ceria pada saya. “Ati-ati, Amaaaa.” Katanya.

Lokasi yang digunakan untuk seminar adalah auditorium Fakultas MIPA yang letaknya di belakang. Karena belum pernah masuk ke kampus tersebut, saya cukup celingukan tapi semangat bener nyelonong sendiri padahal buta arah. Mau nanya sama orang tapi nggak ketemu-ketemu hehe. Syukurlah pas lagi nengok saya melihat ada beberapa orang yang sedang memasang baliho bertema seminar burung.

Di auditorium saya bertemu Irul yang rupanya sedang hamil anak ke-2, yeay! Irul adalah kawan yang dulu sering bersama-sama mengikuti event mangrove. Kami pun memasuki auditorium setelah terlebih dulu melepas sepatu dan meletakkannya di luar auditorium.

P_20170513_114311

Seminar migrasi burung tersebut dimoderasi oleh Bapak Ferry Hasudungan. Saya bertemu beliau pertama kali tahun 2009 saat pertama kali pula saya mengikuti pengamatan burung atau birdwatching di Suaka Margasatwa Muara Angke.

Pembicara pertama adalah Bapak Zaini Rakhman dari Raptor Indonesia. Beliau menjelaskan mengenai seluk beluk detail apa itu migrasi.

Kata migrasi berasal dari “migratus”. Hewan-hewan lain pada umumnya bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain, termasuk juga burung. Migrasi pada burung berarti mengubah posisi geografis secara musiman untuk makan dan berbiak. Jadi meski pada umumnya burung bermigrasi karena negara asalnya memasuki masa winter atau musim dingin, namun alasan mereka bermigrasi adalah bukan karena suhu dinginnya. Karena burung merupakan hewan homeotermis dan hal tersebut tidak berpengaruh. Namun alasan migrasi tersebut adalah karena faktor makanan dan berkembang biak.

Sebelum burung melakukan migrasi dengan jarak tempuh yang sangat jauh, terlebih dulu mereka melakukan berbagai tahapan, yaitu:

  1. Ratusan/puluhan km yang disebut short distance migration.
  2. Ribuan km dengan mengandalkan magnet bumi dan disebut long distance migration.
  3. Lansekap dan karakteristik lingkungan yang membimbing mereka hingga ke tempat tujuan.

P_20170513_095502

Bagaimana cara burung bermigrasi?

  1. Menggunakan jam tubuh internal mereka untuk mengikuti pergerakan matahari dari ufuk timur ke ufuk barat.
  2. Menggunakan rasi bintang malam hari. Misalnya pada burung songbird kebanyakan terbang malam hari karena lebih efisien dan tenang akibat tidak adanya predator yang akan memburu burung tersebut.

Sementara burung elang, walet, swift, dan waterfowl umumnya melakukan migrasi pada siang hari dan memanfaatkan arus udara panas.

Migrasi burung ngapain aja?

Terbang terus menerus. Hebat yah, terbang jauh-jauh buat nyampe ke Indonesia.

Burung akan beristirahat dan melanjutkan perjalanan esok hari. Tempat bermalam pada burung migrasi disebut roosting.

Sementara stop over adalah istilah untuk tempat istirahat. Setelah 3-14 hari istirahat dan mencari makan, burung kemudian akan melanjutkan perjalanan.

Nah, wintering adalah tujuan migrasi. Jadi mereka akan menghabiskan masa liburan musim dingin dan nantinya akan balik lagi ke negara asal ketika musim semi.

Jarak tempuh migrasi pada burung bisa mencapai 9.000-15.000 km dengan waktu 50-70 hari. Burung muda atau yang masih kecil juga tetap akan bermigrasi sepanjang ia sudah bisa terbang. Burung-burung muda akan bermigrasi duluan dan nantinya akan kembali paling akhir. Mereka biasanya menetap 1-2 tahun dulu baru kemudian pulang.

Ada dua jenis migrasi, yaitu:

  1. Complete migrants: jumlah spesies yang bermigrasi adalah di atas 90%.
  2. Partial migrants: Jumlah spesies yang bermigrasi adalah di bawah 90%.

(saya tadinya mau tanya tentang hal ini, yaitu kenapa ada yang tidak ikut migrasi? Apakah karena faktor usia, sakit, atau apa. Tapi nggak jadi nanya huhuhu)

P_20170513_101101

Peran Indonesia dalam migrasi burung dunia

Selain memiliki hutan yang luas dan kekayaan alam yang melimpah, ternyata negara ini juga memegang peranan penting dalam siklus migrasi burung-burung dunia. Bayangkan saja, burung yang berasal dari negeri Siberia nun jauh di sana bisa sampai dan mencari makan di Indonesia! Sehingga Indonesia dikatakan sebagai wintering area bagi burung migrasi.

Presentase daerah yang dijadikan area untuk mencari makan yaitu: Sumatera < 10%, Jawa < 5%, Sulawesi  < 15%, Nusa Tenggara < 20%, dan Kalimantan < 50%. Alasan kenapa Kalimantan paling banyak mungkin karena memang faktor hutannya yang masih cukup banyak dibandingkan di Pulau Jawa. Tapi mengingat ada hutan-hutan yang dihilangkan dan berganti dengan permukiman maka akan berpengaruh pula dengan jumlah yang nantinya bisa survive dan mencari makan.

Contohnya pada burung Seriwang Jepang yang beberapa populasi lokalnya di Jepang punah pada tahun 1995. Faktor penyebabnya adalah perubahan daerah asal, pestisida, dan kerusakan habitat wintering area yaitu di Pulau Sumatera di mana hutan hujan tropis di pulau Sumatera menghilang 30-40% sehingga makanan menyusut dan si burung terancam nggak bisa pulang balik ke Jepang. Hiks..

Sayangnya lagi, peran penting negara ini belum diikuti dengan banyak kesadaran masyarakat tentang pentingnya keberadaan burung. Nah, salah satu tujuan seminar ini adalah untuk memberikan wawasan yang lebih mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan untuk tidak memburu burung-burung di sekitar kita.

Pembicara kedua yaitu Bapak Ragil Prasetyo Gumilang dari Wetlands International Indonesia. Ia menjelaskan mengenai pelibatan masyarakat dan kesepakatan lintas negara dalam konservasi burung migran. Pengetahuan mengenai burung migrasi masih hanya dipahami oleh organisasi konservasi atau kelompok pengamat burung di kampus dan pemerintah daerah yang memiliki kepentingan. Sementara bagi khalayak umum, istilah “burung migrasi” adalah hal yang sulit dimengerti dan terkesan nggak penting.

P_20170513_105349

Menurut masyarakat umum yang pernah ia tanya, burung migran adalah:

  • Burung milik orang lain
  • Pembawa flu burung
  • Sulit dipelihara
  • Enak dimakan

Berbagai tantangan mengenai burung migrasi di Indonesia adalah kurangnya data, lebih banyak informasi yang beredar di Indonesia Barat, sementara Indonesia Timur masih minim pengamat. Tantangan lain yaitu kerusakan lingkungan dan akses ke lokasi pengamatan. Sementara di ranah yang sudah tertarik tentang migrasi burung dibutuhkan peningkatan kapasitan penulisan.

Menurut bapak Ragil lagi, peran penting bagi masyarakat adalah keterlibatan warga negara dalam kegiatan penelitian ilmiah atau disebut sebagai citizen science.  Saat ini geliat citizen science mulai terlihat dari adanya kegiatan AWC (Asian Waterbird Cencus), Mobupi atau Monitoring Burung Pantai Indonesia, program Atlas Burung Indonesia, dan app tools yang dibuat untuk mendata burung yang sudah diamati yaitu app Burungnesia.

P_20170513_103347

P_20170513_103957

 

Pembicara ketiga yaitu Khaleb Yordan dari Jakarta Birder. Ia mendirikan Jakarta Birder bersama kakaknya, Boas Immanuel pada tahun 2009. Tujuannya yaitu mengumpulkan para pengamat burung di Jakarta. Kemudian secara tidak sengaja, setelah melakukan pengamatan ke Banten, mereka mengunggah salah satu foto burung ke FB. Fotonya menurut Khaleb juga tidak pro, agak blur sedikit. Namun spesies burung yang difoto menarik salah satu kawan FBnya yang merupakan warga asing. Ia kemudian bertanya-tanya mengenai burung tersebut, transportasi, dan akses menuju ke lokasi. Semenjak itu semakin banyak yang meminta dipandu untuk melakukan pengamatan di TN Gede-Pangrango, TN Halimun Salak, dan sebagainya sehingga seiring berjalannya waktu, Jakarta Birder malah menjadi bird tour untuk mengenalkan keragaman burung-burung yang ada di Indonesia kepada turis mancanegara.

P_20170513_110024

(intermezzo: Tahun 2010 adalah pertama kalinya saya bertemu Boas dan Khaleb di Angke saat AWC dan bagi saya kemampuan identifikasi mereka super! Ada burung lewat dikit langsung catat namanya, padahal saya lihat juga nggak hihihi).

Boas dan Khaleb rutin memandu turis asing ke lokasi-lokasi spesies burung yang menarik. Contohnya saja Teluk Jakarta yang menjadi habitat burung Cikalang Christmas.

Tidak hanya bertindak sebagai bird tour, namun Jakarta Birder juga memiliki peran dalam membantu konservasi dengan cara membantu perekonomian warga sekitar yang lokasinya didatangi. Misalnya dengan penyewaan perahu, menggunakan warga setempat sebagai pemandu lokal, membayar tiket masuk lokasi, dan sebagainya. Yang paling penting tentunya menunjukan pada warga setempat mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan tidak berburu burung. Beberapa warga yang sudah rutin menjadi pemandu lokal kini juga berusaha untuk menjaga burung-burung yang ada di hutan tersebut dari ancaman pemburu.

P_20170513_114301

Selesai seminar dilakukan sesi tanya jawab dan sedikit penutup dari Bapak Paskal yang datang ke lokasi acara. Pak Paskal adalah senior di bidang perburungan dan di usianya yang sekarang itu ia masih rutin melakukan pengamatan burung di Pulau Rambut, Bali, dan sebagainya.

Selesai acara peserta bisa berfoto-foto di photobooth yang sudah disediakan. Saya pun ketemu lagi sama dua mahasiswa UNTIRTA yang tempo hari ikut juga pengamatan ke Pulau Rambut. Mereka sekilas mengingat saya sambil bilang, “Ibu yang waktu ke pulau sama anaknya, kan?”

P_20170513_123135

Dan saya langsung menyahut, “Plis, jangan panggil iboooo. Panggil kakak sajaaaah”.

Pulangnya saya jalan kaki sampai rumah Ummi dan disamput bocah yang lagi maen sepeda panas-panasan.

Catatan: begitu cerita ke Abang tentang Pak Paskal, ia menyahut, “Jangan-jangan itu bapaknya Nissa.” Pas dikasi lihat fotonya, bener saja. Ternyata ayah Nissa, kawan Abang yang juga saya kenal. Duh, si bapak. Ntar kalo ke rumah Nissa lagi saya ikut juga deh, sapa tau bisa pinjem buku burung hehehe.