You are not falling behind, it’s just not your time.*

Beberapa minggu lalu sebuah percakapan di grup WA skolioser menyadarkan saya tentang satu hal: yaitu bahwa saya pernah merelakan salah satu mimpi saya yang boleh dibilang sebagai cita-cita yang sangat melekat. Mimpi yang kandas tersebut adalah mimpi untuk bisa menyelam atau diving. Dianggap kandas karena beberapa tahun lalu saya terdeteksi ada MVP di jantung sehingga syarat kesehatan dalam diving pastinya tak bisa dicapai karenanya. Dan saat itu butuh waktu cukup lama hingga akhirnya bisa ikhlas melepaskan mimpi menyelam tersebut.

Saya kemudian ingat pada mimpi yang lain lagi, dua hingga tiga tahun terakhir ini seolah tak mau lepas dari benak saya. Yaitu impian masa kecil untuk mencicipi pengalaman di negeri bersalju atau bisa kita katakan “kuliah di luar negeri”. Mimpi yang sempat menghilang itu justru kembali menguat selepas saya melahirkan dan memiliki anak.

Mimpi-mimpi yang berantakan

Kalau mimpi diving saja bisa saya relakan, kenapa mimpi untuk kuliah di luar negeri tidak bisa? Apa karena sudah terlanjur melekat sejak kecil?

Swedia, Belgia, Alaska, Perancis, UK. Sejak kecil saya selalu bermimpi suatu hari nanti akan menggenggam salju di negara-negara tersebut. Bahkan meski saya termasuk orang dengan alergi dingin. Pakai kipas angin saja bisa pilek hatchi…hatchi… Buku-buku masa kecil dengan latar bersalju itu selalu membuat saya kagum dan yakin suatu hari nanti saya bisa ke negeri tersebut. Saat naik kelas 4 SD dan masuk pelajaran bahasa Inggris, entah kenapa hafalan vocabulary saya berlari kencang. Pun begitu ketika SMP, saya nyaris hafal semua lagu-lagu bahasa Inggris dan mendapatkan nilai selalu di atas 8.

Karena tak memiliki uang untuk keliling dunia, tentunya saya hanya bisa menaruh harapan pada beasiswa. Sayang seribu sayang, bepergian jauh atau kuliah di luar negeri tak ada dalam kamus orangtua saya. Jangankan luar negeri, sewaktu lulus SMA dan sempat ingin mengajukan ITB sebagai kampus saja langsung ditolak mentah-mentah. Ibu tak mau anaknya yang hanya berjumlah dua jauh dari rumah. Bahkan meski jaraknya hanyalah Jakarta-Bandung.

Selepas lulus kuliah saya sempat berpikir menjadi travel blogger atau travel journalist. Lagi-lagi ini menjadi hal yang tidak mungkin karena untuk meminta izin bepergian saja saya harus membujuk sejak satu bulan sebelumnya. Saya sampai mengirimkan sebuah surat yang saya letakkan di kamar tidur orangtua berisi tentang betapa pentingnya traveling atau bepergian itu bagi saya. Seolah itu adalah dunia yang selama ini saya cari-cari. Bahwa dengan itulah saya bisa menjadi diri sendiri. Bahwa dengan bepergian saya bisa membangkitkan rasa percaya diri yang lama hilang. Ironisnya, kegiatan yang saya yakini bermanfaat itu ditolak mentah-mentah kembali. Maka travel blogger dan travel journalist pun harus dicoret. Saya pun mendaftar ke sebuah perpustakaan. Persis seperti impian banyak orang: memiliki kantor dengan bangunan fisik ber-AC dan gaji tetap setiap bulan.

Satu mimpi lagi yang masih saya simpan adalah membuat perpustakaan yang bermanfaat untuk masyarakat. Ide ini kembali ditolak karena saya dianggap tidak akan mampu mewujudkannya. Bertahun-tahun lamanya, kalimat “kamu tidak bisa” itu memang kerap terdengar dan saya memercayainya hingga saya pernah meyakini bahwa saya memang tak bisa apa-apa.

In case you don’t read my so-last-year post, setahun sebelum bekerja saya sempat terlibat di komunitas dan sempat terpilih untuk mewakili komunitas tersebut untuk mengikuti event konferensi lingkungan pemuda se-Asia. Saya terpilih tapi saya tidak bisa berangkat karena tidak keluar izin dari orangtua.

Sebagai orang yang pernah memiliki rasa percaya diri yang luar biasa rendah, dipercaya oleh sekelompok orang untuk terlibat aktif itu membuat saya merasa dibutuhkan dan meningkatkan rasa percaya diri saya.

Bertahun-tahun lamanya saya selalu merasa bahwa saya tak bisa apa-apa. Bahwa saya ceroboh, tak bisa ini dan tak bisa itu. Ketika diberikan tugas, saya biasanya bertanya balik, “Emang aku bisa? Nggak papa nih aku yang ngerjain? Kalo semua jadi kacau gimana?”.

Sayangnya penolakan keberangkatan untuk mengikuti konferensi itu berujung pada runtuhnya lagi rasa percaya diri saya dan saya tak tahu hendak ke mana. Saya terpilih karena dianggap memiliki kemampuan bahasa inggris yang lebih dari yang lain. Saya selalu senang dan bangga akan nilai-nilai bahasa Inggris saya sejak sekolah dasar yang tidak pernah buruk. Namun nyatanya bahkan semua nilai bahasa inggris yang baik tersebut tak mampu menyelamatkan saya dari penolakan keberangkatan untuk mengikuti konferensi.

Saya tahu saya harus memaafkan peristiwa delapan tahun lalu itu. Karena sebagai anak saya pun banyak sekali salahnya. Namun bahkan setelah 8 tahun, peristiwa itu masih terngiang hingga sekarang.

Pasca resign dari bekerja kantoran, saya kembali hendak menyusun rencana. Salah satunya mengajukan beasiswa kuliah. Tapi saya bingung harus mulai dari mana? Saya tidak tahu harus melangkah ke mana.

Suatu hari saya sampai mengirimkan chat pada Eries, salah satu kawan yang sempat bertemu dalam perjalanan kemping, karena saya melihat video yang Eries unggah ke instagram. Bukan, bukan tentang video Eries yang sedang asyik jalan-jalan di negeri nun jauh di sana. Tapi tentang video singkat berisi catatan 10 tahun lalu yang ia tuliskan. Isi catatan tersebut adalah tentang mimpi-mimpinya yang beberapa sudah tercapai dan sudah dalam proses dilaksanakan. Salah satunya terkait cita-citanya untuk kuliah di luar negeri. Dalam chat saya bertukar cerita pada Eries, hingga saya nangis-nangis saking desperatenya.

Apa yang Eries tuliskan dalam catatan rupanya mirip sekali dengan salah satu kawan lain yang menuliskan pengalamannya saat mendapat beasiswa, bahwa 10 tahun lalu menuliskan bahwa ia, 10 tahun kemudian, akan berada di perpustakaan universitas luar negeri. Dan benar saja, kini ia mendapat beasiswa bersama suaminya, membawa pula anaknya yang baru berusia sekitar 1 tahun.

Lalu saya? Saya ke mana saja untuk mewujudkan impian masa kecil untuk kuliah di luar negeri itu?

Saya sering melakukan scroll secara cepat ketika lini masa media sosial menunjukkan beberapa kawan ataupun keluarga yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri. Seolah ingin lekas tak memerhatikan foto-foto tersebut.

Ah, apa saya iri? Pikir saya waktu itu.

Apa yang sudah saya lakukan untuk mencapai mimpi-mimpi yang satu itu?

Jawabannya nyaris tidak ada usaha. Tidak ada yang saya lakukan.

Berdoa? Oh iya tentu saja.

Diiringi dengan mengirimkan delegasi ke berbagai penjuru dunia alias kartu pos. Bahwa untuk sekarang kartu posnya saja dulu yang melanglang buana, orangnya kapan-kapan. Someday.

P_20170408_092838
Kartu pos untuk berbagai negara

Tahap selanjutnya: mulai mencari-cari informasi dan berani mendaftarkan diri untuk ikut beasiswa?

Sama sekali tidak saya lakukan. Nihil usaha!

Saya masih juga terngiang akan mimpi masa kecil yang semakin menguat itu. Tak bisa saya lupakan tapi tak bisa juga saya mengirimkan pendaftaran mengikuti program beasiswa karena tetap akan berujung penolakan dari orangtua.

“Emang kamu bisa? Kamu nggak akan bisa kuliah sambil ngurus anak.”

Saya sudah bisa menebak arah pembicaraan ketika sempat menyinggung-nyinggung tentang adik Abang yang berangkat ke Belanda karena tembus LPDP. Dan saya tak sanggup lagi mengajukan apa-apa. Meski memang izin dari saya saat ini mutlak oleh suami alias Abang namun tetap saja, saya tak bisa kalau harus  kembali dibayang-bayangi dengan kata-kata “kamu tidak bisa.

Hingga kemudian percakapan di grup WA seperti awal cerita di atas menyadarkan saya bahwa ini bukan pertama kalinya saya mencoret sebuah mimpi-mimpi. Setidaknya untuk saat ini.

Kemudian saya menemukan sebuah kegiatan lain yang tiba-tiba saja ada ide-ide berlarian di kepala. Dengan melihat beberapa foto di instagram yang serupa saya berpikir satu hal terkait dengan bidang entrepreneur. Saatnya putar balik! Pikir saya.

“If you want something badly, let it go. If it’s comeback to you, it’s all yours forever.” ~ Blake Lively.

Selama dua tahun belakangan saya memang memiliki sebuah toko online kecil berkaitan dengan sebuah produk craft rumahan. Dan kini saya berpikir tentang produk lain berkaitan dengan dekorasi. Sebuah hal yang juga saya minati. (Tapi jangan bayangkan rumah saya punya tatanan dekorasi ala ibu-ibu instragram yang kece itu yah. Rumah saya super berantakan!). Saya berpikir untuk mengembangkan sebuah ide terkait kebun mini dan seisinya. Dan hanya dengan memikirkan itu saja rupanya dapat memunculkan sebuah harapan baru.

It feels like i’m living in someone else’s dream during this time, and now it’s time to catch my own dream!

Mungkin menempuh kuliah di luar negeri bukan waktunya untuk saya saat ini, setidaknya dengan saya yang bahkan tidak melakukan apa-apa untuk mencapainya.

Jpeg

Apakah berjualan atau bidang entrepreneur mahir dilakukan oleh saya?

Sama sekali tidak. Sejak kecil sebenarnya saya pun dilarang untuk berjualan. Mungkin berjualan lekat dengan tidak punya uang dan semacamnya dan saya pun tak pernah tahu alasan pastinya kenapa. Ketika kanak-kanak saya pernah memiliki ide untuk menjual hasil karya saya yang sayangnya ketika diungkapkan hanya muncul omelan tentang tidak bolehnya anak kecil berdagang. Sayangnya, bertahun-tahun kemudian ketika bahkan sudah hampir lulus kuliah dan hendak mencari dana untuk acara di sebuah panti asuhan, lagi-lagi saya dimarahi karena ide mencari dana dengan berjualan. Produk yang ingin dijual bukan barang-barang dari rumah yang dilarang tentu saja. Barang dagangan saya hanya 10 pcs donat yang saya buat sendiri dengan sepenuh hati. Namun sepertinya ada rasa malu dan gengsi dengan melakukan kegiatan berjualan sehingga saya dilarang habis-habisan untuk menjual donat tersebut.

“Entrepreneurship is neither a science nor an art. It is a practice.” ~ Peter Drucker.

Saya baru belajar berjualan ketika menerbitkan sendiri buku saya tiga tahun lalu. Karena merupakan buku indie, maka saya lah yang harus menentukan segala printilan, memasarkan, dan menjualnya sendiri.

Sewaktu memasuki deadline akhir penulisan, saya hampir menyerah karena khawatir jika orangtua tahu saya menulis buku maka tanggapannya akan sama seperti beberapa tahun sebelumnya saat saya mengungkapkan niat suatu hari nanti akan membuat buku foto kupu-kupu yang dijepret sendiri, yaitu “Siapa yang mau beli?” Huaaa… Mao nangis deh rasanya.

Namun pada akhirnya saya tetap menjual buku-buku tersebut tanpa bilang dulu pada orangtua. Mungkin karena nggak bisa juga dilarang wong bukunya udah jadi hehe.

Ini pelajaran bagi saya kepada A nantinya. Bahwa penting sekali mengatakan, “Kamu bisa.” Sebelum ia melakukan sesuatu sehingga memupuk rasa percaya dirinya.

So, instead of not going any single step ahead, I’m turning back (again) this time!

Bismillahirrahmanirrahim.

Jpeg
The beginning

“I know people who graduated college at 21, and didn’t get a salary job until they were 27. I know people who graduated at 25 and already had a salary job. I know people who have children and are single. I know people who are married and had to wait 8-10 years to be parents. I know people who are in a relationship and love someone else. I know people who love each other and aren’t together. There are people waiting to love and be loved. My point is, everything in life happens according to our time, our clock. You may look at your friends and some may seem to be ahead or behind you, but they’re not. They’re living according to the pace of their clock, so be patient.

You’re not falling behind, it’s just not your time.” – Julissa Loaiza

Catatan:

Saya mengagumi tulisan-tulisan mbak Fissilmi Hamida. Saya merasakan betul apa yang ia tuliskan yaitu masa-masa di-bully ketika sekolah karena fisiknya. Bedanya ia sudah sampai beasiswa di UK, saya nggak hehe. Saking kelewat terharu membaca tulisannya tentang masa lalu bullying-nya dulu itu hingga ia bisa berhasil lulus dari UK (setelah melewati berbagai kegagalan pengajuan beasiswa), saya sampai mengirimkan message di inbox padanya tentang keinginan saya untuk kuliah tapi tak bisa terwujud karena tidak adanya izin dari orangtua. Balasannya memang tak seperti yang saya harapkan hehe, hanya pesan singkat semoga saya menyukai apa yang sedang saya jalani saat ini. Tapi di tulisannya yang lain saya menemukan cerita tentang suami Mbak Mimi yang ditolak beasiswa dan ia menuliskan ini di akhir cerita yang kalimatnya sampai saya screenshoot biar ingat:

“Mari kita susun kembali balok-balok mimpi kita yang berantakan. Kelak dengan penuh kesabaran dan kerelaan, Insyaa Allah balok-balok ini bisa menjelma menjadi istana yang jauh lebih menawan dari apa yang kita inginkan. Bisa jadi Dia sedang ingin melihat sejauh mana kita bertahan sebelum nanti Dia memberikan kejutan.” ~ Fissilmi Hamida.

*judul berasal dari quote Julissa Loaiza di atas.

~ Jakarta, menjelang akhir Ramadhan.

#WritingIsHealing

One thought on “You are not falling behind, it’s just not your time.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *