Birdwatching di Hutan-Kota UI

Setelah pengamatan di Pulau Rambut bulan April lalu, season terbaru Jakarta Bird Walk pun dimulai kembali. Jadwal pertama sesi selanjutnya ini digelar di Hutan-Kota Universitas Indonesia (UI) pada hari Sabtu, tanggal 22 Juli 2017.

Saya melewatkan banyak sekali kesempatan dalam kurun waktu 6 tahun untuk bisa ikut pengamatan di Hutan-kota UI ini. Sehingga ketika mengetahui informasi terkait JBW bulan Juli, saya langsung mengajukan izin pada Abang untuk bisa ikut pengamatan. Abang menjawab boleh saja, tapi ia sendiri tak bisa ikutan karena ingin membeli ikan untuk aquarium miliknya.

Maka sejak lima hari sebelum hari Sabtu, kami bertanya pada A apakah nantinya akan ikut saya pengamatan atau ikut Aba membeli ikan. Di luar dugaan ia menjawab bahwa ia tak mau ikut saya, maunya pergi ke pasar saja membeli ikan hias.

Saya, rupanya terjebak antara sedih atau senang mendengarnya haha. Selama ini A selalu ikut ke mana saja saya pergi. Sementara saya sendiri bertahun-tahun menantikan bisa ikut kegiatan pengamatan burung. Harusnya, bisa mengamati burung tanpa mengalami tripod digoyang-goyang bocah menjadi kesenangan tersendiri buat saya. Harusnya saya senang karena bisa me-time sejenak. Apalagi me-timenya di hutan-kota. Tapi kok malah jadi mellow ya menanggapi bahwa ia rupanya tumbuh sangat cepat dan sekarang sudah mengerti mau memilih apa.

Berhari-hari kami menanyainya untuk memastikan kemantapannya. Karena A tipe anak yang tidak bisa berpindah kegiatan atau berpindah tempat dengan cepat maka penting sekali baginya untuk mengetahui jadwal kegiatan atau jadwal bepergian berhari-hari sebelumnya.

Malam Sabtu, rupanya jawaban A berubah. Ia memilih untuk ikut saya. Ditanya berulang jawabannya tetap sama. Maka saya pun ngebut memasukan persiapan miliknya ke dalam tas (baju ganti, jas hujan, hingga gendongan boba air). A meminta membawa tas sendiri dan ingin membawa teropong.

Saya kemudian merubah rencana untuk mengenakan brace sepanjang kegiatan menjadi mengenakan korset lumbal saja. Beberapa minggu sebelumnya, tulang di bawah punuk pada punggung saya yang skoliosis mengalami sakit luar biasa hingga saya memutuskan mengenakan brace kembali saat bepergian. Namun jika hanya pergi berdua A saja, maka tidak mungkin saya mengenakan brace di punggung sambil menggendongnya jika sewaktu-waktu ia minta digendong.

Pagi harinya, kami terlambat dan jam 7 masih berada di kereta. Saya sempat was-was karena A bertanya di jalan: “Aba ke mana? Kok nggak naik kereta?”. Meski kami sudah memberi tahunya bahwa A hanya akan pergi berdua saya, namun A masih bingung di perjalanan. Bahkan ia menolak jalan kaki setelah sudah sampai di stasiun UI. Saya pun menggendongnya dan terpaksa menggunakan ojek untuk tiba di Wisma makara UI tempat peserta berkumpul.

Tiba di halte, hanya ada dua mahasiswi yang sedang mengobrol. Saya sempat berdiri celingukan bersama A hingga ada seorang bapak yang memberi tahu kalau rombongan pengamatan baru saja masuk ke bagian dalam hutan-kota. Kalau ketinggalan semoga nggak nyasar karena saya terakhir masuk ke hutan-kota Wales ini sekitar Desember tahun 2010. Sambil menyuapi A dengan lontong isi kesukaan, saya akhirnya memutuskan untuk jalan pelan-pelan saja ke arah pintu masuk hutan-kota. Kami pun akhirnya berbarengan dengan tiga orang mahasiswi. Lalu tak lama munculah seorang bapak dan ibu dengan dua anaknya berusia kira-kira 3 tahun dan 1 tahun.

Baca juga: Survey di Hutan-Kota UI

DSCN3789

A mulai merasa asing dengan perjalanan sehingga menjelang pintu masuk malah mengeluh capek dan minta digendong. Saya berusaha membujuknya namun ia hanya bergerak beberapa langkah lalu meminta digendong lagi. Alhasil kami pun memasuki hutan-kota dengan saya mengemblok tas, tas kamera, menenteng tas A di tangan kiri, dan menggendongnya di pinggang kanan.

Beberapa kali semua barang bawaan dan A sendiri merosot dari tubuh saya. Gempor rupanya hahah. Inilah sebabnya kalo mau kemping di gunung mending sewa porter aja sekalian.

A bertanya berulang di gendongan mengenai jalur yang kami lalui dan keberadaan burung-burung di pohon, juga treking di dalam hutan-kota yang sesekali dilintasi para pesepeda. Syukurlah, setidaknya dengan ngoceh berarti ia tetap merasa nyaman dengan kondisi saat itu hanya saja meminta digendong.

Tiba di satu titik, kami akhirnya bertemu rombongan seluruh peserta dan ternyataaaa anak kecil yang ikut buanyaaaak. Selain dari kelompok #AmatiJakarta yang diajak Kaysan, anak-anak yang lain rupanya berasal dari kelompok belajar Home Schooling Depok.

IMG_20170722_141315_480

Anak-anak menyebar dan sedang mengamati pepohonan, cengcorang, semut, hingga katak.

DSCN3732

A rupanya senang dengan banyaknya peserta cilik yang ikut hingga akhirnya ia meminta turun dari gendongan dan meminta membawa teropong sendiri. Ia pun melangkah dengan mantap dan percaya diri. Sesekali mengintip batu dan pohon dengan teropongnya, lalu ikut memerhatikan katak yang berada di got bersama kakak-kakak cilik lainnya.

DSCN3739

Kami menemukan sarang burung di pohon yang tidak terlalu tinggi. Sayangnya sarang burung tersebut kosong. Semoga saja anak-anak burungnya memang sudah terbang.

IMG_20170723_145903_293

 

DSCN3724

Dari situ kami berbelok lagi dan menjumpai semak yang cukup rapat. A tetap melangkah di depan namun meminta berpegangan tangan.

Baca juga: Masuk lebih jauh ke Hutan-Kota UI

IMG_20170723_145018_961

DSCN3747

Kami sesekali mendengar suara burung betet-biasa namun tak menjumpainya. Dari jalur tersebut kami akhirnya keluar dari hutan-kota dan beristirahat sejenak di pinggir jalan raya yang rupanya ditutup untuk jalur kendaraan bermotor sehingga anak-anak bisa puas berlari.

DSCN3758

A masih semangat sekali untuk mencari burung. Di tempat yang cukup tinggi kami menjumpai seekor laba-laba yang cukup besar sedang memakan serangga.

DSCN3768

DSCN3786_1

Di tempat yang jaraknya dekat sekalipun, A menggunakan teropong untuk mengintip setiap keunikan yang ditemuinya.

DSCN3760

IMG_20170723_145731_479

A kemudian berhenti di depan pos pemadam kebakaran. Selama ini ia memang takjub pada mobil dan petugas pemadam. Sehingga ia berhenti cukup lama untuk mengamati mobil pemadam kebakaran dan sudah berjalan namun balik lagi sampai akhirnya kami menjadi orang terakhir di rombongan. Salah satu mahasiswa, Bisma, mengawal kami dari belakang.

DSCN3766

DSCN3795

DSCN3793

A berlari terus menerus seolah energinya masih banyak meski sudah cukup jauh berjalan. Ia rupanya menikmati pengamatan burung ini. Kami pun tiba kembali di wisma makara dan menuju kantin untuk berkumpul. Di sana, anak-anak kelompok Kaysan bermain board game bergambarkan burung yang dibuat Kaysan sendiri. Permainan tersebut Kaysan adaptasi dari permainan di luar negeri, namun ia membuat kartu sendiri dengan bergambarkan burung-burung lokal. Beberapa foto merupakan jepretan dari pengamat burung lain.

P_20170722_094815

P_20170722_094900

Sementara anak-anak yang lebih kecil asyik bermain kembali di area terbuka. A men-charge diri dengan jus alpukat untuk kemudian kembali berlari mencari ranting dan mengamati katak di dekat pohon.

P_20170722_095921

Sesudahnya seluruh peserta mendiskusikan burung-burung yang sempat terlihat, meski tidak terlalu banyak namun hari itu cukup seru dengan banyaknya peserta cilik baru yang hadir dan semoga menambah kecintaan terhadap alam sekitar.

P_20170722_100302

P_20170722_102601

Foto: Mbak Shanty
Foto: Mbak Shanty

Saya dan A kemudian kembali ke stasiun dengan menaiki Bikun. Ia masih saja berceloteh dan bercerita pada Abang ketika kami dijemput di stasiun bahwa ia senang dan mau ikut pengamatan burung lagi esok hari.

2 thoughts on “Birdwatching di Hutan-Kota UI

  • July 28, 2017 at 11:03 am
    Permalink

    semacam kegiatan parenting impian bangeet ini kaak. hehe 😀

    Reply
    • August 3, 2017 at 1:16 pm
      Permalink

      Didoakeun biar dimudahkan parentingnya bareng pasangan impian ehehehe. Aamiin

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *