Menyapih dengan Weaning With Love

Ini postingan telat tentang fase menyapih A yang dijalankan bulan Desember 2016 lalu tepat di hari lahirnya. Meski dibantu dengan susu formula, saya tetap harus bangga karena berhasil menyusui A hingga pas 2 tahun. Ini mengingat dulu ketika A baru lahir, ada seseorang yang minta dikeplak bilang kalo ASI saya dipompa juga nggak bakalan sampai 10 ml. Juga mengingat banyak sekali hambatannya. Pasca melahirkan, Ummi mertua pun sempat kekeuh melarang saya selalu pumping karena khawatir ASI saya malah berkurang karenanya. Bahkan meski sudah saya tunjukkan buku tentang ASI, larangan tersebut kerap hadir dalam telepon hingga jujur saja sempat membuat saya semakin baby blues. Ini pelajaran untuk selanjutnya. Ajaklah keluarga (ibu, ibu mertua, hingga ART juga kalau perlu) untuk menghadiri seminar atau konsultasi laktasi.

Maka saya lega sekaligus mellow juga saat akhirnya berhasil menyusui A hingga 2 tahun.

Saya dan Abang sepakat untuk menggunakan metode WWL atau Weaning With Love untuk menyapih A. Dan kami sepakat  menyusui hingga usia 2 tahun saja. Namun entahlah apakah yang kami lakukan ini memang sangat sesuai dengan metode WWL atau versi ala kami. Yang jelas, kami mengenali A adalah tipe anak yang membutuhkan adaptasi lebih lama untuk setiap hal. Baik kondisi, lingkungan, hingga barang yang baru. Maka dengan bercerita ini bukan berarti kami merasa bahwa metode ini adalah yang paling benar, silakan disesuaikan dengan kondisi anak masing-masing.

Karena A butuh adaptasi itulah, kami pun mulai menggaungkan tentang menyapih ini sejak tiga bulan sebelum hari lahirnya di bulan Desember. Setiap hari dan setiap A menyusu, kami berkata, “Nanti kalau sudah 2 tahun nggak mimik Mamah lagi ya. Nanti boboknya tetap dipeluk kok, diusap-usap punggungnya. Tapi nggak mimik Mamah.”

A awalnya diam tak mengerti tapi lama kelamaan selalu menggeleng sambil tertawa setiap kami ucapkan kalimat tersebut. Lalu gelengannya malah berubah menjadi sikap, “menyusu setiap waktu.”

Sepertinya ia sudah mengerti kalimat itu sehingga malah seolah puas-puasin dulu sebelum dilarang. Maka ia ogah makan. Pokoknya kalo lapar maunya nyusu terus! A pun selalu menyahut, “Nggak ah. Mau mimik Mamah aja” setiap kami ucapkan kalimat sakti menyapih.  Ini godaan juga buat saya untuk nggak menyapihnya di waktu sekarang, tapi kata Abang yang penting ibunya harus yakin dulu aja.

Kemudian waktu berjalan menjadi H-2 bulan, H-1 bulan. Hingga suatu hari saat sedang bermain ia berkata, “A bukan dede bayi. Ndak mimik Mamah lagi.” Hoaaa saya tercengang mendengarnya. Hingga saya tanyakan ulang, dan kalimatnya tetap sama. Yaitu kalau sudah umur 2 tahun nggak mimik Mamah lagi. Namun ketika tiba waktu lapar, ia tetap gencar menyusu.

Hingga akhirnya tinggal beberapa minggu dan beberapa hari lagi lalu tibalah hari lahirnya. Saya masih nggak tega untuk melarangnya, hingga di hari lahirnya itu saya tetap biarkan ia menyusu. Tapi tetap saya bisikan di telinganya perihal tidak menyusu lagi. Malamnya, Abang berkata pada A untuk tidak menyusu. A menangis kencang tapi tidak sampai tantrum. Saya hampir saja luluh tapi tetap bertahan. Saya katakan kalau ia bisa tidur dipeluk saya dan sambil saya usap-usap punggungnya. Detik kemudian saya kembali takjub karena ia tetap menangis tapi menurut untuk tidur di perut saya. Sambil saya usap-usap punggungnya dan tak lama ia tertidur. That’s it.

Hingga 3 hari berikutnya ia tetap menangis dan kekeuh minta menyusu. Tapi saya berusaha untuk bertahan dan siklusnya sama. Ia menangis tapi menurut untuk tidak menyusu. Lalu hari ke-4 ia sudah tak menangis lagi baik saat tidur siang maupun malam.

Hari ke-7 saya yang menangis saat menyadari kini ia sudah bisa tertidur tanpa menyusu pada saya. Tentu ada yang hilang setelah selama dua tahun ia selalu tertidur sambil menyusu. A mengerti betul tulang punggung saya tak boleh membawa beban berat maka setiap tidur (sejak bayi) ia tak wajib di-indung-indung. Letakan saja di kasur sambil menyusu dan kipasin, lengkapi dengan alunan Laa ilaahailla Allah niscaya ia akan tertidur. Saya pun hanya menatap apron menyusui yang kini tergantung di dinding. Ke manapun saya pergi, apron itu selalu dibawa dan menjadi sahabat favorit kami. Pergi kondangan, naik angkot, bus, hingga di dalam kereta di Taipei atau ketika saya sedang sharing buku indie saya ke sebuah komunitas.

Kupu-kupu yang nemplok di apron saat sedang menyusui
Kupu-kupu yang nemplok di apron saat sedang menyusui

Hari ke-10, payudara saya penuh karena ASI tak dikeluarkan. Meski produksinya menurun, namun tetap saja masih tersisa ASI. Hingga akhirnya tengah malam saat A terbangun, ia sempat mengigau dan menangis, saya memberinya ASI kembali. Terkesan tak konsisten memang, namun saat itu feeling saya mengatakan bahwa saya harus memberikan ASI untuknya malam itu. Lalu segera setelah malam itu, nyaris tak ada produksi ASI lagi.

Pola tidur A pun berganti dengan “wajib memegang siku” milik saya setiap akan tertidur. Dan sudah. Itu saja. Hingga sekarang ketika berusia 2 tahun 6 bulan, A masih suka meledek ingin menyusu. Ia pun meminta digendong seperti bayi. Tapi ketika ditanya apakah ingin menyusu beneran, ia malah menjawab, “Nggak ah. Ata udah gede, udah bisa lompat tinggi!”

P_20170122_124318

4 thoughts on “Menyapih dengan Weaning With Love

  • August 10, 2017 at 8:04 am
    Permalink

    aaah pasti mellow rasanya ya mba saat anak sudah bisa disapih, nggak ada lagi momen ketiduran bareng anak yang juga tidur sambil ngenyot pd hihi.

    salam kenal ya mba, saya Enny yang komen di grup fb KEB minta link untuk saling BW

    Reply
    • August 10, 2017 at 12:15 pm
      Permalink

      Bangeeeet Mbak. Makasi sudah blogwalking ke sini. Salam kenal juga yaa ^^

      Reply
  • August 11, 2017 at 4:35 am
    Permalink

    “Pola tidur A pun berganti dengan “wajib memegang siku” milik saya setiap akan tertidur”

    Wah sama dgn anak saya.. habis disapih, sekarang polanya setiap mau tidur harus cium lengan saya dulu haha.. entah kenapa ya mbak.

    Masa masa menyapih emang berat banget.. ya ampun tiap anak nangis minta asi, saya juga nangis. Selama seminggu kayanya penuh berurai air mata hahaha..

    Reply
    • August 16, 2017 at 4:29 am
      Permalink

      Haha iya ya kenapa ya harus pegang lengan gitu. Berurai air mata bangeet. Padahal ini baru fase awal yaa, belum yang selanjutnya lagi qiqiqiqiqi

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *