Ide kegiatan untuk anak usia 1-3 tahun

Anak-anak, terutama di usia dini, memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar dan cenderung aktif bergerak untuk berekspresi. Dalam usia emas 0-3 tahun penting sekali untuk memberikan rangsangan bagi otak dan motoriknya untuk berkembang dengan baik. Dan dunia yang tepat untuk merangsang otak dan motorik anak adalah tentunya melalui bermain.

Tidak harus bermain dengan alat bermain atau permainan yang mahal, berbagai permainan bahkan bisa kita buat sendiri dengan menggunakan bahan yang ada di lingkungan kita atau menggunakan alam sekitar sebagai sarana bermain. Dalam masa ini anak seperti spons yang menyerap apa saja dan meniru apapun yang dilihatnya.

Salah satu metode yang bisa digunakan adalah Montessori. Akhir-akhir ini metode tersebut menjadi ngetren karena banyak orangtua yang mempraktikan permainan ala Montessori dan mengunggahnya di media sosial.

Menurut Vidya, salah seorang praktisi dan pengajar sekolah Montessori, pada mini seminar yang pernah saya hadiri, inti sebenarnya dari Montessori adalah bukan pada alat peraga yang mahal atau sekedar seorang anak bisa melakukan permainan sehingga hasil akhirnya bisa diunggah ke media sosial. Tren yang marak dikhawatirkan malah menimbulkan salah kaprah sehingga ia mengungkapkan sedikit kekhawatirannya tersebut.

Kita tidak perlu memaksa anak melakukan sesuatu hal sesuai apa yang kita inginkan. Karena respect the child adalah inti utamanya. Bahkan meski semua alat peraga sudah kita siapkan dan si anak malah tidak minat bermain dengan semua yang sudah diusahakan itu. Biar saja. Mungkin memang ia belum siap dan belum mau melakukannya.

Follow the child” adalah inti yang selanjutnya. Namun follow the child di sini bukan berarti membiarkan si anak sesuka hati alias sebebas-bebasnya yaps!

Nah, dr. Maria Montessori awalnya menemukan bahwa anak usia dini lebih cenderung menggunakan sensoris atau inderanya untuk mengetahui segala hal.

Pada mini seminar lalu itu, Vidya mencontohkan hal ini dengan misalnya ada anak yang suka menjilati hp yang baru ia lihat, ngruwek-ngruwek tembok lalu rontokannya dimakan, mengendus-ngendus benda, dan sebagainya. Sesungguhnya mereka itu penasaran! Namun, kita sebagai orang dewasa malah memarahi dan memberi label “nakal” pada anak tersebut.

Nah, karena itulah metode Montessori berfokus pada sensoris atau panca indera seorang anak.

Sampai di sini, saya memilih dan melihat bahwa permainan sensoris semacam itu sangat cocok untuk menstimulasi A yang ternyata sensor atau inderanya sensitif pada banyak hal. Ia tidak suka pada air, debu, kotoran, tanah, becekan, adik bayi, suara keras, kerumunan orang, hingga tempat yang baru. Perilaku tidak sukanya dimulai dari menangis, menjerit, hingga tantrum. Dan itu terjadi sangat sering. Sehingga kami berulang kali menstimulasinya namun tidak menghilangkan kewaspadaan yang sudah ada pada dirinya.

Berikut adalah beberapa ide permainan atau kegiatan yang saya terapkan sejak A usia 1 hingga sekarang mendekati 3 tahun, dan beberapa di antaranya berfokus pada sensory play ala Montessori.

  1. Membaca buku secara keras (read a-loud)

Sejak awal kami memang ingin mengenalkan buku pada A sedini mungkin. Maka kami memulai dari A masih usia sekian bulan dengan menggunakan buku kain atau softbook. Lama kelamaan meningkat menjadi hardbook, hingga sekarang buku bergambar. Kami tidak selalu terpaku pada cerita yang ada di buku, namun terkadang menambahkan atau juga mengurangi cerita ketika A sudah mulai terlihat bosan atau lelah.

img1430657751165

Hingga sekarang di usia 2 tahun 8 bulan, A nyaris hafal semua buku yang sudah dibaca dan bisa menceritakannya sendiri.

Jpeg
Jpeg

Sementara, pada prinsip Montessori yaitu menggunakan benda-benda yang ramah anak atau tingginya disesuaikan dengan anak. Syukurlah, rak buku di rumah memang dibuat supaya bisa dijangkau A, bahkan ketika ia belum bisa berdiri. Sehingga A semakin merasa senang karena bisa mengambil dan meletakan buku sendiri sesuai yang ia inginkan.

P_20161014_122609

2. Menuang beras di cangkir

Permainan ini termasuk mudah untuk disiapkan. Jika merasa sayang, pilihkan saja beras yang kondisinya tidak bagus sehingga bisa digunakan untuk bermain. Bisa juga diganti dengan kacang hijau.

Permainan ini membutuhkan koordinasi mata dan tangan anak untuk bisa menuang beras dari cangkir satu ke cangkir yang lain.

Biarkan ia bereksplorasi dan indera pendengarannya juga terlatih saat mendengar bunyi beras yang berjatuhan ke cangkir.

P_20161021_083655

3. Bermain jejak di tepung terigu

A tidak suka jika ada sesuatu yang lengket dan menempel di tangan atau kakinya. Maka kami berusaha memberinya permainan yang menunjukkan bahwa hal itu tidak apa-apa dan tidak perlu sampai menjerit-jerit jika ada yang menempel di kulitnya.

Awalnya ia agak ragu memasukan jarinya ke wadah berisi tepung terigu. Saya mencontohkan sambil asyik sendiri membuat jejak di terigu sehingga A kemudian mengikuti dan bermain cukup lama. Ia malah mengajak serta dinosaurus kesukaannya untuk dilumuri tepung.

P_20161230_055644

4. Mengumpulkan daun

Membuat sate daun
Membuat sate daun

Membiarkan anak bermain kotor mungkin bukan hal yang banyak dilakukan oleh para ibu. Sehingga saya pun kerap mendapat nasihat, peringatan, ledekan, bahkan cibiran setiap A terlihat bermain yang berpotensi menimbulkan kotor semacam memungut daun atau ranting.

Namun kalau saya melarang A bermain kotor sekedar supaya saya tidak dianggap ibu yang tidak baik, maka itu berarti saya menghentikan proses eksplorasinya. So, just let him explore!

Sambil memungut daun kita bisa jelaskan berbagai bentuk daun yang jatuh dari pohon yang berbeda dan warnanya. Ketika sudah semakin besar, kita bisa juga membawa buku yang berkaitan tentang daun atau pepohonan ke luar ruangan.

Baca cerita tentang A yang mengumpulkan benda-benda dari alam di sini.

5. Membuat cap dari daun

Dari daun yang dipungut tadi, kita bisa gunakan untuk membuat kreasi cap. Baca ceritanya di sini.

6. Sensory play dengan bermain bubble wrap, pasir, atau playdough.

Dengan bermain sensory play semacam ini (juga bermain jejak tepung terigu seperti di atas), maka motorik anak akan terstimulasi dan ia belajar meraba benda dengan tekstur yang berbagai rupa.

Seperti biasa, A awalnya tidak mau menyentuh pasir. Namun lama kelamaan ia menikmatinya.

Baca cerita saat ia berhasil bermain pasir di pantai di sini.

IMG_20170416_215324_108

7. Membantu membereskan rumah (meletakan buku kembali di tempatnya, meletakan mainan, menyapu remah biskuit yang jatuh).

Follow the child berarti membebaskan anak namun tetap bertanggung jawab. Kita bisa mengajaknya turut serta dalam proses beres-beres rumah. Misalnya mengajaknya meletakan baju kotor di keranjang cucian, mengembalikan buku di rak, atau bahkan berlatih mencuci piring. Ini sebagai latihan juga bagi saya, ibunya, untuk tidak serta merta berkata, “Jangan. Kamu nggak bisa. Sini Mamah aja.” pada A yang sedang berusaha membantu.

8. Berkebun

Mengenalkan A pada berkebun saya lakukan saat usianya sekitar 1 tahun 4 bulan. Ia ikut duduk di teras dan mengaduk-ngaduk pot dan tanah. Kita bisa menyebutkan nama-nama tumbuhan dan warnanya, atau bahkan nama-nama peralatan yang digunakan saat berkebun.

9. Bermain di luar ruangan

Untuk anak yang sensornya sensitif seperti A, bermain di luar ruangan yang banyak kotornya justru semakin baik dan bermanfaat untuknya.

dscn1565

Dengan persiapan yang matang, A bisa ikut serta kemping, mengamati burung, atau bahkan sekedar trekking. Seluruh panca inderanya akan belajar hal baru selama di perjalanan.

Baca juga:

Kemping pertama A

Pengamatan burung bersama A

10. Mengenal transportasi publik

A menyukai betul mobil dan berbagai jenisnya. Maka jika di perjalanan, kami mengenalkan berbagai jenis bus dan mobil padanya. Juga kereta, pesawat dan profesi yang bekerja di baliknya. Hal ini juga bisa ditambah dengan membacakan buku bergambar mengenai transportasi.

11. Mengenal berbagai tempat

Sensor sensitif A tidak hanya terlihat pada ia yang tidak suka pada benda kotor dan lengket atau air namun juga pada tempat dan bangunan.

A tidak bisa terlalu cepat berpindah atau beralih tempat sehingga sering sekali menjerit-jerit setiap baru masuk ke gedung seperti mall, gedung pernikahan, gerbong kereta, dan sebagainya. Namun dengan sering mengajaknya lambat laun ia menjadi semakin terbiasa. Meskipun ini dilakukan berulang dalam jangka waktu yang cukup lama.

Jurus kami yaitu: memberlakukan pre-condition sebelumnya. Contohnya kami akan pergi ke bank bersama. Maka ia sudah diberi tahu sejak sehari sebelumnya bahwa ia akan pergi ke bank. Tambahkan pula cerita apa-apa saja yang bisa ia temui di dalam bank, misalnya bapak dan ibu petugas, orang lain yang juga datang ke bank, dan lain sebagainya.

12. Bermain puzzle

A senang sekali bermain puzzle dan rupanya bisa menyelesaikan puzzle rumit yang tidak saya duga. Koordinasi mata dan otak berperan besar ketika anak bermain puzzle. Sering sekali saya menahan diri untuk tidak mengoreksinya terlalu cepat ketika ia meletakan kepingan puzzle di tempat yang tidak tepat.

Cerita tentang A dan puzzlenya silakan baca di sini.

Keping puzzle stik es krim

13. Menyusun menara

Saya mencoba mengajak A membuat menara dari pot plastik yang ditumpuk. Tapi A rupanya tidak tertarik. Ia malah meletakan satu mobil-mobilan di atas setiap pot tersebut. And that’s ok.

P_20170428_092026

———————————–

Anyway, dengan saya menulis ini bukan berarti saya merasa kegiatan untuk A ini sudah paling benar ya. Silakan disesuaikan dengan anak dan kebutuhan masing-masing. Sebenarnya masih banyak lagi yang harus distimulasi dan saya pun masih suka marah-marah sama A huhuhuhu. Dan wajib diingat setiap anak berbeda perkembangannya sehingga bukan berarti ketika seorang anak lebih cepat menangkap maka itu berarti anak yang lambat tidak pintar. No. Every child is special and i’m not a perfect mother.