Stimulasi pada A yang inderanya sensitif

Sudah cukup lama saya belum bercerita lagi tentang perkembangan A. Selama ini kami memang fokus pada motorik dan eksplorasinya. Emaknya pun gegayaan masih ngejar setoran tulisan berbagai catatan perjalanan, jadilah semua itu terabaikan dirangkum di sini.

Hingga sekarang kami masih punya PR terkait indera A yang sensitif. Seiring dengan waktu, lambat laun kami menyadari banyak hal tentang ketakutan-ketakutan atau ketidaksukaan A pada banyak hal.

Bukankah biasa kalau anak batita takut sesuatu?

Mungkin iya. Tapi bagi kami muncul banyak pertanyaan tentang ketidaksukaan A pada banyak hal hingga berderet-deret.

Lambat laun kami tahu kenapa ia dulu kerap menangis setiap mandi. Dulu maksudnya ketika ia masih bayi kemudian belum bisa berbicara dan menyusun kalimat. Rupanya bukan hanya sekadar tak suka air. A menolak jika tangan dan kakinya basah.

Penyebab lain lagi adalah kenapa dulu A sempat terpaku saat melihat ada benang kusut yang berada di pojokan rumah dan menolak memegangnya ketika salah satu sepupu mengambilkan benang tersebut. Rupanya ia menolak segala benda yang berbahan bulu-bulu. Kami baru tahu hal ini ketika kami membelikan jaket bulu di usianya yang 11 bulan menjelang keberangkatan ke Ranca Upas, Bandung.

“Dikit-dikit nangis. Kok cengeng ih.”

Begitu biasanya komentar orang-orang terkait A yang kerap menangis hanya karena mandi atau bilas setelah BAB, menangis karena ada nasi yang menempel di pipi atau jarinya saat sedang makan, menangis karena kakinya terkena kotoran di aspal, menangis karena jaket bulu, menangis karena berada di keramaian orang saat kondangan, menangis dan merasa terintimidasi setiap ada anak yang usianya lebih kecil, bahkan takut saat melihat ayunan.

A juga kerap menangis ketika kami berpindah tempat atau kondisi terlalu cepat. Misalnya hanya sekadar peralihan dari kondisi bermain lalu waktunya tidur, atau beralih dari rumah orangtua kembali ke rumah kami.

Ia juga kerap menangis jika berada di antara keluarga besar. Tangisnya kemudian berubah wujud menjadi memasukan jari ke hidung setiap ia merasa tidak nyaman.

Bukan, bukan ngupil. Jarinya cuma dimasukin aja gitu ke hidung. Pernah juga dia masukin jari ke mulut dan langsung ditarik paksa sama ibu saya sehingga ia histeris dan berujung pada nangis-nangis jejeritan.

Saya tak tahu penyebab itu semua namun sempat bertanya-tanya apakah ini ada kaitannya dengan saya yang dulu sempat baby blues pasca melahirkan dan di usia 6 bulan A harus mengalami kondisi peralihan lingkungan dari rumah saya ke rumah Aba di Ciputat? Apakah ia bingung dengan peralihan itu? Entahlah.

Namun kemudian saya sempat tak sengaja membaca tentang anak yang inderanya sensitif. Sama seperti A: tidak suka kotor, debu, air, basah, bulu-bulu, keramaian, ayunan, bahkan peralihan tempat.

Nama kasus yang ada di tulisan itu adalah Sensitive Processing Disorder (SPD). Namun kasus pada anak itu juga mengarah pada autism dan keterlambatan bicara.

Tapi bukan ranah saya untuk menentukan apakah A juga tergolong SPD atau bukan karena tentunya itu harus melalui berbagai tes di tangan para ahli. Sehingga saya hanya bisa bilang bahwa indera A sensitif. That’s it.

Kenapa nggak coba dibawa untuk tes atau apa gitu?

Karena meski A sering sekali menangis namun perkembangan A terbilang baik. Ia sudah mulai tahu banyak nama benda di usia 1.5 tahun. Menjelang usia 2 tahun ia sudah bisa menyusun kalimat dan bertanya banyak hal, juga mengerti sebab akibat dan lawan kata.

Selebihnya hanya sisi sensitifnya saja yang selalu mencolok sehingga ia sering sekali menangis. Lalu kami memberikan beberapa kegiatan dan bacaan dan ternyata sensitifnya itu cukup berkurang! Meski ternyata butuh waktu yang tidak sebentar untuk melihat hasilnya.

Maka berikut adalah beberapa poin dan kegiatan yang saya utamakan untuk lakukan, yaitu:

1. Melatihnya berada di antara orang banyak

Saya tidak ingin menghilangkan kewaspadaan yang sudah ada di dirinya tentang orang yang baru dikenal, namun saya hanya ingin mengenalkan padanya bahwa tidak apa-apa berada di tengah orang banyak, bersama kami, orangtuanya.

Yang kami lakukan?

Alih-alih terus menerus berada di rumah karena takut atau malu ia bakal menangis heboh atau tantrum di keramaian, kami malah mengajaknya lebih sering ke tempat ramai.

Dengan catatan: minimal 1 hari sebelum berangkat kami akan memberitahunya tentang tujuan bepergian kami, juga apa saja yang akan ia temui nantinya.

Museum, perpustakaan, taman kota, belasan event kondangan, hingga menjenguk sepupu di Taiwan.

Saat itu usia A 1.5 tahun. Di lorong jalan kereta bawah tanah itu, A akhirnya setuju bergandengan tangan dengan om dan tante kecilnya setelah hari ke-5 beradaptasi satu rumah dengan mereka.

wp-1462617656576.jpeg

Dan setelah belasan event kondangan terlewati, akhirnya A pada usia 1 tahun 10 bulan tidak menangis saat menghadiri kondangan di bulan September tahun lalu. Sebuah kemajuan besar karena bahkan saat itu kami kondangan hanya ditemani sepupu saya. Abang tidak ada karena belum pulang dari Mekkah. Meski saat itu ia full minta digendong dan berpegangan kencang pada saya tapi tidak menangis jejeritan seperti biasanya. Ia malah bersedia digendong teman Abang dan berfoto bersama dengan kawan-kawan lainnya.

Juga ketika event pengamatan burung di UI bulan lalu saat usianya 2 tahun 7 bulan. Ternyata ada banyak peserta anak yang ikut dan A, meski awalnya ia diam dan malu-malu, namun terlihat bahwa ia menikmati event yang diikuti banyak orang tersebut. Ia malah semakin aktif berlari ke sana ke mari mengikuti anak-anak lain.

DSCN3739

2. Mengenalkan bahwa kotor sedikit tidak masalah

A menolak nyeker, menolak kakinya basah, menolak memegang atau menginjak butiran-butiran seperti pasir, dan menolak terkena debu.

Yang kami lakukan?

# Mengajaknya lebih banyak interaksi di luar ruangan (outdoor).

DSCN4621

# Membiarkannya eksplorasi di alam bebas dan tak melarangnya memegang kayu, ranting pohon, batu, bunga yang jatuh. Saya juga tak melarangnya main becek-becekan setelah hujan.

Kami malah sengaja keluar rumah dengan sepatu boots untuk bermain becekan dan ciprat-ciprat air di genangan jalan. Suatu hari, A malah senang hati bermain becekan tanpa mengenakan sepatu bootsnya alias membiarkan kakinya basah. Horray!

# Mengutamakan membacakan buku tentang alam dibandingkan mengenalkan huruf dan angka lebih dulu.

Dengan ini kami bisa mencocokan benda-benda yang kami lihat di ruang terbuka dengan yang ada di buku. Misalnya bentuk daun, pohon, kelopak bunga, bahkan kupu-kupu.

IMG_20170801_094950_674

# Bermain sensory ala Montessori

Ada beragam kegiatan dan permainan ala Montessori yang kami lakukan supaya ia tidak takut pada benda-benda yang menempel di tangan atau kakinya. Meski rasa takut itu masih belum hilang namun setidaknya sudah bisa dikurangi.

Bermain tepung
Bermain tepung
Menuang beras dari cangkir
Menuang beras dari cangkir

Untuk poin tentang eksplorasi di alam ini, seperti biasa kami mendapat banyak sekali pertentangan karena adanya perbedaan pola pengasuhan.

Iyes, emak macam apa yang membawa anak 2 tahun nyeberang pulau?

Ya emak macam saya ini!

Berkaca dari apa yang terjadi dan apa yang saya rasakan selama ini, saya tak ingin terlalu banyak melarang A dan tetap melanjutkan perjalanan sepanjang kami melakukannya untuk tujuan yang baik dan persiapan yang matang.

Maka jadilah, A mengenal udara dingin Ranca Upas, air terjun Cibereum dan kemping di kaki gunung, pergi ke pasar ikan, juga pengamatan burung di taman dan Pulau Rambut.

Dan hasil tak mengkhianati usaha.

Setelah rangkaian baca buku dan kegiatan bermain di luar ruangan selama setahun perkembangannya, A tidak jejeritan berada di tengah para mahasiswa saat kami berkumpul dan tidak histeris saat menginjak pasir pulau.

A dan barisan kakak-kakak
A dan barisan kakak-kakak

P_20170531_075243_HDR

dscn1387
Menuju curug

3. Melatihnya main air

Kenapa sih Neng, anaknya nangis terus? Sakit ya?”

Begitu kata ibu tetangga yang setiap hari sering sekali mendengar A nangis. Saya menjawab bahwa A menangis karena mandi dan saya ajak bilas setelah BAB atau ganti popok.

Dalam hati saya bersyukur si ibu bertanya sopan dan tidak menghakimi saya. Karena biasanya ada aja yang bilang si anak kelaparan sehingga menangis terus. Ada lagi yang langsung memberi label “cengeng” pada A. Hiiih geregetan.

Selain mengajak A bermain becek-becekan, kami juga kerap membaca buku tentang sungai, hujan, dan siklus air. Lalu dilanjutkan keluar rumah dengan jas hujan saat gerimis turun.

P_20170210_091744

Sesudahnya ia biasanya bertanya kenapa awan jalan? Kenapa awan yang satu jalan, yang satu diam? Kenapa hujan? Kenapa ada petir? Dan sebagainya.

Dan setelah semua usaha itu, akhirnya di usia 2 tahun 6 bulan, yaitu hari minggu kemarin tanggal 9 Juli 2017 A pertama kalinya tidak nangis jejeritan di kolam renang. Satu bulan kemudian yaitu 19 Agustus 2017 ia berani menceburkan diri ke kolam renang, melompat, dan bahkan main perosotan di kolam. Apakah ia langsung mau? Oh tidak. Kami menunggu dulu sekitar satu setengah jam baru ia bersedia beralih dari hanya duduk di tepi kolam ke bagian tengah kolam.

Alhamdulillah.

Senang kah saya?

Tentu saja. Tapi bukan hanya sekedar senang karena ia akhirnya mau menuruti apa yang sudah kami usahakan. Tapi lebih kepada bahwa ia selama 2 tahun 6 bulan ini mengajarkan pada kami bahwa segalanya butuh proses. Bahwa setiap anak berbeda-beda dan butuh pemahaman yang lebih dibandingkan hanya memberinya label cengeng atau nakal.

IMG_20170827_191350_556

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *