Ketidakmampuan mengident dan rasa minder

Event lomba birdwatching di TN Bromo-Tengger-Semeru rupanya menggoda saya. Kalau tahun lalu event PPBI di Lombok harus kembali saya lewatkan karena tak mungkin berangkat sendiri (sementara A masih menyusu pada saya) dan tak mungkin berangkat bertiga karena tiketnya mahaaal, kali ini siapa tahu saya bisa berangkat sendiri. Toh A sudah lulus S3 ASI dan Abang beberapa waktu pernah bilang kalo ada event ya sudah berangkat saja cari barengan.

21032840_1418133131601366_5556527748832533132_n

Karena event ini adalah lomba berkelompok maka saya mencoba mencari yang senasib sama saya alias kemampuan ngident burungnya masih di bawah rata-rata. Saya mencoba mengajak Ghali dan Mbak Hindra yang notabene dua-duanya berkecimpung di dunia biologi. Mereka sama seperti saya: skolioser. Jadi waktu itu saya berpikir mungkin saja kemampuan tulang belakang kami yang rata-rata sama, juga turut menambah nilai plus-plus bagi kami bertiga.

Namun sayangnya, mereka tak tertarik ehehehe. Birdwatching bukan minat mereka dan ditambah Mbak Hindra yang pasca operasi skoliosis katanya tak mungkin bisa menggendong carrier lagi seperti waktu masa ia kuliah dulu.

Maka jadilah lagi-lagi saya tak punya teman.

Lalu muncul lah rasa minder: kalo nanya ke panitia siapa yang belum punya tim rasanya nggak mungkin karena biasanya yang mendaftar sudah punya tim semua. Lagipula ada kah yang mau satu tim sama saya mengingat kemampuan mengident saya yang jauh di bawah rata-rata. Oh my…

Bicara tentang mengident alias mengidentifikasi apa yang kita temukan di lapangan, saya jadi ingat kesalahan saya beberapa waktu lalu.

Sewaktu masih ada situs web FOBI, saya nyaris selalu melototi situs tersebut hanya supaya tahu nama spesies kupu-kupu yang saya temukan. Lama kelamaan saya jadi lumayan hafal genus dan ciri-cirinya yang rupanya berpola dan punya kesamaan. Meski tentunya kekeliruan dan salah ident selalu terjadi. Buat saya yang memang tidak mempelajari ini saat kuliah, ini menakjubkan! Membagi mereka ke dalam genus dan spesiesnya rupanya serupa seperti ketika saya melakukan klasifikasi saat mengolah buku di perpustakaan tempat saya bekerja.

Tapi hal yang sama tidak berlaku pada burung. Berbeda dengan kupu-kupu yang bisa saya temui di halaman belakang rumah, spesies burung yang datang ke lokasi itu ya hanya kutilang, kipasan belang, burung madu, dan burung betet yang baru datang sekitar beberapa waktu belakangan.

Maka selama kurun waktu delapan tahun, kemampuan saya ya hanya itu saja. Saya sekarang tentu tidak perlu lagi mempertanyakan kondisi tentang kenapa saya tidak diizinkan ke sana ke mari meski kegiatan yang dilakukan bersifat positif bagi lingkungan.

Juga tidak lagi perlu mempertanyakan kenapa izin bepergian justru baru keluar ketika tampuk perizinan sudah beralih ke Abang.

Maka jadilah, ketika para birdwatcher sedang asyik-asyiknya bertemu dengan Javan Trogon, saya malah masih norak karena baru bertemu dengan kawanan betet-biasa yang hobi mencari makan di area rumah terdahulu.

Dan di saat kawan yang dulu sama-sama belajar mengident burung kini sudah jadi guide ke berbagai gunung, saya masih saja berkutat soal burung madu kelapa atau burung madu sriganti.

Lalu saya melakukan kesalahan. Karena sudah kadung menganggap tidak bisa dan selalu salah kalau mengident, maka saya berpikir untuk serahkan saja proses identifikasi itu pada mereka yang memang ahli. Saya pun mengunggah foto burung yang saya dapat (hanya dua waktu itu) ke sebuah grup dan bertanya perihal burung spesies apakah itu? Saya tidak mengerti saat itu kalau pertanyaan remeh ini menimbulkan arti bahwa yang bertanya malas mencari lebih dulu sementara sudah tersedia berbagai sarana untuk mengident.

Pada saat itu, hanya Pak Bas yang dengan kerendahan hati masih bersedia menjawab pertanyaan remeh terkait identifikasi burung dari saya.

Beberapa bulan kemudian, muncul sebuah tulisan terkait pertanyaan spesies burung yang didapat sebelum si penanya mencari terlebih dulu. Ah, sungguh. Saya tak tahu hal macam ini menjadi hal yang menyusahkan, merepotkan, dan merupakan dampak dari kemalasan. Maapkan.

Saya jadi ingat ucapan seorang kawan sewaktu kami bertemu kembali di sebuah acara. Ia menjadi mentor dan saya (masih) peserta. Katanya: “Yang lain aja udah jadi mentor, Yul. Nah loe masih ajaaa jadi peserta.”

Waktu itu saya cuma ketawa aja dengarnya. Tapi belakangan, kata-kata itu jadi berputar lagi setiap saya mau mengikuti acara.

“Ini sudah berbeda berapa generasi. Delapan tahun berselang sejak dulu mencoba pertama kali birdwatching. It’s not your time anymore. Rata-rata pesertanya mahasiswa. Kalaupun bukan mahasiswa, mereka membawa kamera besar dan sudah hafal burung yang ditemui. Lha, kamu? Sudah ibu-ibu dan nggak bisa membedakan burung satu dan yang lain.” Bisik hati saya.

Benarkah ini sudah terlambat? Tapi bukankah Phoebe Snetsinger justru semakin terpacu melakukan pengamatan burung ketika usia 50?

So, age doesn’t matter again in here. 

Biarlah saja delapan tahun yang sudah lewat itu. Juga dengan semua kegiatan-kegiatan yang dulu tak bisa diikuti karena tak adanya izin akibat adanya anggapan kegiatan birdwatching, penyuluhan mangrove, dan semacamnya bukanlah sebuah pekerjaan prestise yang bisa membuat orang tercengang karena gaji yang besar.

Kemarin ketika mendengar Sabtu esok Kaysan kembali mengadakan kegiatan #AmatiJakarta, rasanya senang sekali. Terutama ketika tahu lokasinya bertempat di Suaka Margasatwa Muara Angke. Sayangnya saya tak bisa ikut event esok hari tersebut.

Di sanalah, tempat dulu saya pertama kali melakukan birdwatching dan menumbuhkan rasa percaya diri saya akan banyak hal. Tempat yang dulu pertama kalinya Kaysan belajar birdwatching di usia 4 tahun, dan kini, delapan tahun kemudian, ia lah yang memimpin.

21314555_10154742978956466_4729961165781264355_n

Sungguh, dengan ini membuat saya terus belajar bahwa kita tak boleh meredam bakat dan menghilangkan potensi seorang anak hanya karena hal tersebut tidak dianggap “menghasilkan”.

Goodluck, Kaysan! Juga tim yang juga akan berangkat ke TN Bromo Tengger Semeru!

Kini giliran saya yang harus mengejar ketertinggalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *