11 Fakta tentang kota Taipei

Selama lima hari kami berada di kota Taipei, kami menyadari bahwa ada banyak kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang di Taipei yang saya rasa tidak dibangun dalam waktu sebentar. Kebiasaan-kebiasaan tersebut bersifat positif dan layak kita tiru. Berikut adalah beberapa contohnya.

1. Tetap Tertib Antri Saat Menunggu Bus

Ketika sedang melaju dalam mobil, saya menoleh mengamati antrian di tepi jalan. Orang-orang berbaris berjajar ke belakang dengan sangat rapi. Ternyata mereka sedang menunggu bus yang saat itu belum datang. Tidak ada pagar pembatas di sana namun antrian tersebut sangat rapi sekali. Ketika bus datang pun tidak ada yang berebut naik, semua calon penumpang naik satu-satu dengan tertib.

2. Mengantri di Dalam Garis Ketika Berada di Peron Stasiun Kereta

Jadi rupanya mengantri di peron pun ada aturannya. Kalau tadi mengantri di pemberhentian bus cukup berjajar ke belakang, yang ini agak belok dikit gitu. Ngikutin garis!

wp-1471877999895.jpeg

wp-1462617509520.jpeg

Garis antrian di peron ini sudah diatur sedemikian rupa supaya ketika calon penumpang berdiri tidak akan menghalangi penumpang yang akan turun. Jadi keretanya juga berhentinya pas banget, nggak meleset meskipun nggak ada masinisnya.

Sehingga calon penumpang semuanya tertib mendahulukan penumpang yang akan turun lebih dulu. Jadi nggak ada adegan ngejungkel gara-gara mau turun ke peron eh diserobot yang berebutan mau naik.

3. Selalu Berdiri di Eskalator pada Lajur Sebelah Kanan

Ini berlaku buat yang hanya berdiri saja di eskalator sambil melihat-lihat sekeliling, atau mengobrol. Jadi meskipun mengobrol ya nggak boleh berdiri berdua di anak tangga yang sama. Harus depan belakang! Pokoknya lajur kiri itu HARUS kosong! Karena buat orang lain yang sedang terburu-buru.

wp-1462618091671.jpeg

4. Peminjaman Payung Gratis

Beneran deh, ide ini sebenarnya seru sekali. Jadi saya melihat sebuah keranjang besi di pojok sebuah stasiun. Pas saya lihat tulisan di atasnya ternyata keranjang besi itu tempat meletakan payung. Jadi ketika hujan, ada payung gratis yang tersedia di stasiun dan boleh dipinjam secara bebas ketika kita tidak membawa payung agar tidak kehujanan. Dengan catatan, setelah selesai dipakai wajib mengembalikannya lagi ke tempatnya karena ada orang lain yang juga membutuhkan.

Jpeg
Jpeg

5. Accessibility for All!

Di semua tempat publik yang ada di Taipei, pasti selalu ada tiga atau empat tipe toilet. Satu untuk laki-laki, satu untuk perempuan, satu untuk difabel, satu lagi untuk ibu yang membawa anak. Tapi di beberapa tempat, toilet untuk difabel dan untuk ibu yang membawa anak dijadikan satu ataupun berdampingan.

Jpeg
Jpeg

Dudukan toiletnya dibuat lebih rendah, terdapat pegangan di dindingnya, tidak ada undakan supaya kursi roda pun bisa masuk dengan mudah, lalu tersedia meja dengan ketinggian yang kira-kira pas untuk tempat mengganti popok bayi.

Semuanya bersih? BERSIH.

wp-1462617323425.jpeg

Nggak cuma toilet, tapi juga antrian loket. Ada antrian khusus untuk difabel sehingga tidak perlu mengantri lama dengan yang lain. Kalau menggendong anak ya sudah pasti antriannya juga beda! Begitu juga lansia.

Sewaktu kami baru tiba di Bandara Internasional Taoyuan, Taiwan kami sudah bersiap melewati antrian pemeriksaan paspor seperti yang lain. Ternyata kami malah disuruh ke loket paling kanan. Rupanya antrian itu khusus bagi orangtua yang membawa anak, difabel, maupun khusus lansia.

Maka nggak heran kalau saat di jalan raya kita bertemu penyandang difabel yang melaju sendiri di kursi rodanya. Nyeberang jalan juga aman, naik kereta juga hayuk!

Jpeg
Jpeg

6. Pejalan Kaki Adalah RAJA

Huaaa… saya girang banget waktu lihat trotoar sak gede-gede gaban begitu. Mau glundang-glundung kalo nggak malu juga boleh. Waktu itu saya sama Abang malah gegayaan bikin vlog kami yang lagi muter-muter di trotoar, udah diliatin orang-orang eh sayang filenya hilang sekarang. KZL. Meski kalo diupload malu juga sih heu.

Pokoknya nggak ada ceritanya kita lagi jalan di trotoar trus diklakson suruh minggir. Padahal udah mepet ke got, ke pagar, eh masih juga diklakson!

IMG_20160504_143007

wp-1469589742357.jpeg

wp-1462624944258.jpeg

Bukan cuma pejalan kaki, pesepeda juga berjaya! Di tepi jalan atau tempat-tempat publik pasti ada tempat parkir sepeda ataupun peminjaman sepeda.

wp-1462618141432.jpeg

Jpeg
Jpeg

7. Toilet otomatis

Jadi… Jadi… Jadi… Saya nggak tahu kalo penyiram toiletnya otomatis. Waktu di stasiun toiletnya jongkok kok! Yes! Lalu saya bingung, heboh sendiri celingukan nyari tuas penyiramnya. Lha wong cebok aja kami bawa wadah sendiri. Trus ini nyiramnya gimanah?! Ada tombol merah di depan saya, hampir aja saya pencet. Apa udah dipencet tapi nggak kenceng ya jadi nggak ngaruh apa-apa. Begitu bangun ternyata pake sensor cyiiin! Langsung kesiram otomatis.

Pas keluar dari kamar mandi dan cerita kata si Tante untung aja itu tombol nggak kepencet. Itu tombol bantuan misalnya orang yang di kamar mandi jatoh, kejeblos, atau sakit tiba-tiba di dalam kamar mandi. Nanti bunyi nguiing nguiing lho disamperin petugas banyak yang mau nolongin. Hueee.. Hampir aja.

8. Tempat Sampah Minim

Iyes, jaraaaaang banget saya ketemu sama tempat sampah. Meski begitu, kesadaran akan kebersihan sangat tinggi. Jalan raya, pinggir got, taman, stasiun, semuanya bersih!

9. Gerbong yang sunyi

Jarang sekali kami menemukan orang-orang Taipei yang ramai mengobrol di dalam kereta atau bahkan menelepon di dalam kereta. Semuanya diam atau membaca buku. Hanya beberapa kali ada obrolan penumpang yang itupun karena membawa anak. Pokoknya nggak ada yang heboh hahahihi cekikikan gitu.

10. Banyak TKI dan TKW

Saya tidak tahu kalau banyak TKI yang bekerja di sana. Saya pikir banyak di Malaysia, Singapura, dan Hongkong saja. Ternyata buanyak sekali! Sewaktu berangkat naik pesawat, hampir satu pesawat isinya TKI semua. Ketika kami turun di bandara, ada barisan-barisan para tenaga kerja yang sepertinya baru kali itu menginjakkan kaki di Taiwan dan sedang mendapat instruksi dari institusinya.

Saya berkenalan dengan Mbak D yang sudah bekerja di rumah majikannya selama 10 tahun. Kami bertemu saat shalat jumat di Masjid Agung. Majikan Mbak D, yaitu seorang nenek yang sudah sangat sepuh dan sehari-harinya duduk di kursi roda tersebut juga beragama Islam dan rutin datang ke masjid pada hari Jumat.

Selain itu saya juga berkenalan dengan Mbak X saat shalat di stasiun. Karena banyaknya warga Indonesia yang bekerja di daerah tersebut sehingga akhirnya disediakan ruangan kecil di sudut stasiun tersebut untuk shalat.

Semoga para tenaga kerja itu semuanya diberi kesehatan dan keberkahan dalam kerjanya. Aamiin.

Selain itu saat akhir pekan tiba atau ketika berjalan-jalan saja cukup mudah menemui TKW berjilbab. Pada saat pulang saya juga dikira TKW dan anak saya dikira lahir di Taipei hahaha.

11. Banyak Taman Kota

Jujur saja, spot wisata di Taiwan tidak banyak dan nggak memukau banget kaya di Indonesia. Bagus tapi masih biasa aja gitu. Nggak sampe take a deep breathe kaya kalau lihat matahari terbit di Penanjakan.

Tapiiiii orang-orang di Taiwan bisa membangun, mengelola, dan khususnya lagi bisaaa menjaganya. Jadi tempat-tempat yang biasa aja gitu bisa jadi keren. Dan terutama banyaaak sekali taman-taman kota juga tempat bermain yang (lagi-lagi) ramah keluarga. Bukan di mall, tapi di ruang terbuka dan dapat mudah diakses, gratis pula!

Jpeg
Jpeg

IMG_20160506_094359

^^^^^^^^^

Itu dia beberapa fakta yang ada di Taipei, Taiwan yang bikin saya pengin balik lagi. Kalau ditanya kekurangannya, ya saya mau jawab kekurangannya adalah pas lagi sepedahan di sana nggak ada tukang nasi goreng atau tukang siomay huee. Kan jadinya saya yang pengin jualan.

IMG_20160504_091038

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *