Cek skoliosis dengan BPJS

Beberapa bulan lalu, selama sekian hari saya sulit untuk menolehkan leher dan kepala. Penyebabnya terlalu banyak menunduk karena membaca dalam waktu lama. Leher hingga punggung bagian atas saya sakit luar biasa hingga berhari-hari. Saat itu akhirnya diputuskan untuk kembali memeriksakan tulang belakang saya yang skoliosis. Terakhir kontrol adalah satu tahun lalu. Namun, kali ini kami memutuskan untuk periksa dengan menggunakan fasilitas BPJS. Ini berarti saya harus ke dokter umum puskesmas dulu untuk kemudian meminta rujukan ke dokter orthopedi di RS.

Yang pertama disiapkan adalah:

1. Kartu BPJS, yang pastinya jika kita sudah terdaftar menjadi pasien BPJS.

2. Record skoliosis sebelumnya. Misalnya hasil rontgen ataupun catatan dari dokter sebelumnya. Ini penting untuk dibawa mengingat pertama kalinya saya akan menggunakan BPJS untuk skoliosis sehingga sama saja seperti melakukan pemeriksaan dari awal lagi.

Kemudian pergilah ke fasilitas kesehatan yang sesuai dengan fasilitas BPJS anda yang sudah tercatat. Pada kasus saya yaitu puskesmas tingkat 1 alias puskesmas kelurahan.

Saya mengambil nomor pada pukul 7 pagi di puskesmas yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah. Saat itu suasana puskesmas sepi sekali, namun saya kaget ternyata ketika menekan tombol mesin pendaftaran saya malah mendapat nomor 20. Ternyata orang-orang lain mengambil nomor sejak pukul 6 pagi lalu pulang lagi hehe. Yo wess terima saja. Habis ambil nomor saya pulang dulu dan kembali lagi pukul 8-an.

Proses pendaftaran dimulai pukul setengah 8. Saya akhirnya baru dipanggil ketika pukul 9 kemudian menunjukkan kartu BPJS pada bagian pendaftaran sambil berkata bahwa saya mau ke poli umum. Setelah itu ditunggu lagi ya bu-ibuk. Pokoke nanti dipanggil sesuai antrian.

P_20170928_091005

Jam 10an baru saya dipanggil lagi ke ruangan tensi dan ditanya keluhannya apa. Sebenarnya ruangannya menyatu dengan ruang dokter umum. Biasanya habis tensi dan ditanya-tanya sedikit lalu keluar lagi dan ngantri lagi. Tapi waktu saya bilang keluhan saya beserta skoliosis, petugas agak bingung gitu sehingga saya malah disuruh langsung ke meja dokter umum. Nggak ngerti kenapa. Atau mungkin antrian saya memang sudah seharusnya menuju dokter umum.

Lalu saya cerita keluhan saya di leher dan punggung yang sakit. Sambil juga bercerita tentang riwayat saya dulu pas ketahuan skoliosis, kemudian pakai brace, dan seterusnya. Nggak tahu ya kenapa bu dokter saat itu kaya bingung gitu. Saya juga ditanya rekaman medis saya tapi saya bilang nggak megang karena kan sejak dulu disimpan di RS sebelumnya dan nggak saya bawa. Palingan yang dibawa hasil rontgen saja. Syukur saya bawa hasil rontgen, kalo nggak bisa-bisa bu dokter nggak percaya haha. Itu aja dia ngetik analisa saya di komputernya: “Mengaku skoliosis.” (((Mengaku))).

Pas saya disuruh berbalik dan bu dokter meraba tulang punggung saya dari atas ke bawah, baru deh beneran percaya 😂.

Habis itu saya disuruh tunggu lagi di luar. Katanya akan dipanggil dari bagian administrasi. Lalu saya nunggu lamaaaa sekitar 1 jam etapi kok ada yang minta surat rujukan setelah saya terus malah dapat surat duluan. Pas saya tanya ternyata kata bagian administrasi harusnya tadi saya bilang, bukan tunggu ajaah. Hueeee…

Giliran saya tunggu lagi eeeh komputernya mati. Kata petugasnya saya harus nunggu agak lama lagi atau kalau mau nanti lebih siangan balik lagi untuk mengecek apakah suratnya sudah jadi atau belum. Akhirnya saya pulang lagi aja. Sekitar jam 1an saya balik lagi untuk minta surat rujukan. Alhamdulillah sudah jadi. Sesuai dengan alur BPJS, saya dirujuk ke dokter ortho di RSUD Pasar Minggu.

Esok harinya berangkatlah kami ke RSUD. Yang harus dibawa:

1. Kartu BPJS. Siapkan juga saja fotokopinya buat jaga-jaga.

2. Surat rujukan dari puskesmas sebelumnya. Fotokopi dulu juga ya.

Di dalam surat rujukan itu, ada juga lembaran yang WAJIB diisi oleh dokter di RS rujukan tapi lembaran tersebut TIDAK boleh diberikan ke RS alias dipegang sama pasien saja. Lembaran ini nantinya berguna misalkan kita mau minta rujukan lagi ke puskesmas. Jadi sebagai bukti kalau benar kita sudah periksa ke RS beneran, bukan minta rujukan thok. Kalo kita nggak ada bukti tersebut, puskesmas nggak mau lagi ngasi rujukan.

3. Fotokopi KK. Ini saya lupa wajib banget atau nggak.

Pokoknya tiga fotokopi di atas saya siapin pas mau ke RSUD lalu diberikan di pendaftaran. Ambil nomornya pagi-pagi juga ya.

Habis itu kalau sudah daftar langsung ke poli yang dituju. Poli orthopedi di lantai 2. A waktu itu nggak nyaman dengan RS jadinya ia meminta turun dan main perosotan di taman. Sementara saya tensi dulu di ruang tengah. Tensi ini wajib ya, kalau nggak nanti nggak dipanggil-panggil ke ruangan dokter karena berkasnya nggak masuk.

Kalau sudah baru deh mengantri di depan ruang poli.

Ketika giliran saya masuk dan bercerita keluhan saya. Tanpa diduga pak dokter saat itu akhirnya merujuk saya ke RS Fatmawati. Karena katanya RS Fatmawati ada program khusus skoliosis sementara di RSUD Pasar Minggu tidak. Tapi misalkan nantinya hasil di sana baik atau saya disuruh terapi, maka saya boleh saja melakukan terapi di RSUD Pasar Minggu saja. Waduh, saya pikir cukup sampai RS ini saja bisa beres ternyata dirujuk lagi. Yo wess lah, ikuti saja.

Akhirnya dokter membuat surat rujukan untuk menuju RS Fatmawati. Tidak lupa saya memberikan surat dari puskesmas untuk ditanda tangani dokter sebagai bukti bahwa saya benar-benar merujuk ke RS, lalu suratnya saya simpan lagi.

Karena ada jeda weekend, hari Senin barulah saya ke RS Fatmawati. Di sana rupanya antrian lebiiiiiiiiih panjang lagi dan harus subuh-subuh banget. Waktu itu kami datang sudah jam 7an dan nomor urut sudah 200-an lebih. Eh, pas lagi jalan ada orang yang tiba-tiba menghampiri Abang dan menyuruhnya menggunakan nomor urut miliknya ajah yang baru 168. Alhamdulillah banget. Semoga bapaknya dan keluarga sehat selalu dan dimudahkan rezekinya. Aamiin.

P_20171002_073813

Oiya sebelum mendaftar, saya sebagai pasien baru, harus mengisi formulir pasien baru dulu. Formulir itu tersedia bebas di meja tulis dekat tangga.

Lalu langsung siapkan kartu dan atau fotokopi kartu BPJS, juga surat rujukan yang sudah ada. Siapkan semuanya karena petugas juga akan meminta cepat akibat banyaknya antrian. Di foto ini sedikit ya, tapi di belakangnya sebenarnya banyak banget sampe bangkunya penuh, dan masih banyak lagi yang antri di luar. Di dalam agak pengap soalnya karena banyak orang.

P_20171002_073908

Sesudah itu saya harus cetak kartu pasien baru dulu. Ternyata di sini bayar. Harga cetak kartu Rp 7.000.

Baru deh antri lagi di depan poli. Dan lamaaaa lagi nunggu dokternya. Sabar yaaa. Dokter orthopedi memang sering lama menanti karena kadang mereka melakukan tindakan operasi dulu.

P_20171002_083400

Sambil menunggu saya dapat teman baru yaitu Fani yang juga skolioser asal Bogor dan akhirnya bertemu Mbak Dian asal Kalimantan yang selama ini hanya berjumpa di grup WA skoliosis.

Sementara anak sayah lari-larian di luar. Lalu akhirnya dia jejeritan karena nggak mau masuk RS tapi maunya sama saya di luar heu.. Jadilah nama saya dipanggil tapi saya lagi nenangin bocah di taman.

Syukurlah habis itu masih boleh masuk. Saya pikir disuruh datang ulang besok lagi. Duh bisa semaput.

Nah, akhirnya saya masuk deh. Tapi di dalam ruangan ada dua dokter. Mungkin karena banyaknya pasien. Jadi saya hanya ke asisten dokternya saja. Lalu setelah ia melihat rontgen saya sebelumnya yang masih baik-baik saja. Katanya skoliosis saya masih tergolong ringan dan tidak perlu rontgen ulang.

Yang penting saya harus memerhatikan setiap posisi saat berkegiatan. Sambil diselingi pemanasan. Baiklah, Alhamdulillah tidak perlu terapi. Hanya diberi vitamin kalsium.

Berbeda dengan di RSUD Pasar Minggu yang semuanya sudah terkoneksi satu dengan lainnya sehingga semua data pasien dan riwayat sakitnya tersimpan dalam jaringan, bahkan dokter tidak perlu menuliskan resep di kertas tapi cukup mengetik resep obat yang kemudian akan diinput sehingga bagian farmasi tahu harus menyiapkan obat apa untuk siapa, RS Fatmawati masih menggunakan metode manual.

Sayapun mengantri untuk mengambil obat di bagian farmasi namun sebelumnya resep harus di-fotocopy dulu di bagian tengah rumah sakit.

Untuk menunggu obat sabaaaar lagi yuaaa.

Antrian fotocopy
Antrian fotocopy

P_20171002_112804

Antrian obat
Antrian obat

Sekian cerita saya melakukan kontrol skoliosis dengan BPJS mulai dari fasilitas kesehatan tingkat 1 alias kelurahan. Semoga kita sehat selalu yaps!