Pelajaran dari berkunjung ke EHEF (European Higher Education Fair) 2017

Berusaha memadamkan mimpi-mimpi masa kecil rupanya tak jauh beda dengan berusaha menghilangkan kenangan buruk: sama-sama susah!

Saya sudah berusaha hingga akhirnya nekat memutuskan putar balik saja dari cita-cita yang satu itu ke arah yang lain.

Baca juga: You’re not falling behind, it’s just not your time.

Sayangnya alih-alih melaju dengan kecepatan tinggi untuk berusaha membangun mimpi baru, saya malah masih saja berjalan dengan diiringi mimpi lama.

Btw, ini mau cerita EHEF apa mau curhat lagi?

Sek, sek. Sing sabar. Mau cerita EHEF sambil curhat juga nggak masalah donk. Kan ini gunanya blog gueeh. (Jangan jadi sewot, plis.)

Beberapa bulan lalu, sewaktu habis memutuskan untuk bikin mimpi-mimpi baru, lha saya malah ketemu Vidy yang cerita tentang usahanya untuk kuliah di Swedia juga. Bedanya Vidy pergerakannya udah maju banget, sampai sudah pada tahap isi formulir dan mendaftarkan diri. Lha saya? Nyari kampus di kota mana aja juga nggak. Kepengin thok!

Pasca ketemuan dengan Vidy saat itu saya jadi galau lagi. Bukan mau ikut-ikutan, tapi saya beneran belum bisa rupanya melepaskan mimpi kuliah lagi itu. Meski saya tahu banget it’s really not my time now. Dan saya tahu banget kemampuan mengeluarkan pendapat saya secara verbal itu terjun bebas banget dari dulu. Dan terutama adalah saya takut tidak adanya izin lagi dari orangtua seperti biasanya.

Kemudian saya membaca blog Mbak SanSan (http://sandiaprimeia.wordpress.com).

Ia adalah salah satu teman Abang juga dan saat ini sedang menjalankan studi S3 di Jepang bersama dua anak dan suaminya. Sewaktu wawancara LPDP ia bahkan sedang hamil anak ke-2 sehingga ketika keberangkatan semua diboyong ke negeri matahari terbit itu. Saya tergugah dan terharu sekali kalau membaca blognya yang penuh dengan nada optimis.

Lalu entah seperti digerakkan, saya kemudian mencari-cari program yang ditawarkan beserta kampusnya sekalian. And i felt like guilty. What the hell am i doing? Kata saya sambil mencatat rincian program studi, lama masa studi, dan nama kampusnya.

Informasi event EHEF saya dapat lagi dari Vidy. Dan saya semakin gencar mencatat dan melakukan pencarian. Rata-rata Irlandia dan Finlandia membolehkan program master alias S2 hanya jika programnya masih berhubungan dengan apa yang sudah dipelajari di S1. Untuk Finlandia program master seluruhnya direncanakan 2 tahun, sementara untuk Irlandia program master lebih banyak 1 tahun. Yang paling banyak saya catat ternyata memang Swedia. Program studinya lebih mendetail dan cukup banyak program studi baru yang membolehkan mahasiswa lintas mata kuliah.

Hari Sabtu, 4 November 2017 akhirnya kami datang ke Balai Kartini. Waktu itu saya sempat khawatir gimana kalau pas kami di sana lalu tiba-tiba ibu saya telepon. Kata Abang ya tinggal dijawab aja lagi di pameran beasiswa nih, udah siap-siap berangkat ke Finlandia 😅.

Eh ternyata beneran ditelepon pas mau berangkat. Waktu saya bilang mau ke pameran kampus, ibu saya bilang; “Lihat doank kan?”. Maksudnya secara tersirat mau bilang: “Lihat doank kan, nggak daftar?!” Heu…

Begitu sampai di lobi Kartika Expo Center, terlihat ada kerumunan di bagian depannya. Ternyata untuk bisa masuk kita harus registrasi dulu via web barulah mendapatkan QR code di email yang nantinya akan di-scan oleh panitia. Berfungsi sebagai tiket masuk. Pengunjung lain banyak yang luput juga sehingga mereka sibuk mendaftar via web. Termasuk kami juga.

Duh, kenapa dari kemaren nggak ngeh ya kalo harus registrasi. Kzl deh, kebiasaan nih 😅.

IMG-20171103-WA0000

Yang jadi masalah adalah di dalam gedung sama sekali nggak ada sinyal sehingga nggak bisa buka web. Akhirnya keluar lagi, sholat dzuhur dulu, baru masuk lagi.

Syukurlah sekarang A sudah nggak jejeritan kalau masuk ke dalam gedung yang berisi banyak orang. Kami sudah bilang juga padanya sebelum berangkat bahwa kami bertiga akan ke pameran sekolahan dulu. Sampai di lokasi ia celingukan tapi menikmati saja apa yang ada.

“Gih, sana tanya.” Kata Abang. Mendorong saya untuk berkeliling saja sesuka hati.

Tapi yang ada saya malah speechless. Bingung mau tanya apa dan ke booth yang mana huhu. Program studi yang dicari memang sudah saya catat dan lalu saya bingung pas udah di depan mereka😬.

Awalnya saya pikir kami akan kebanjiran brosur, tiap lewat dikasi brosur gitu. Ternyata nggak. That’s too old. Mereka mencetak secara terbatas dan kalau mau ya kita bertanya atau konsultasi dulu ke setiap booth. Syukurlah saya udah cari-cari jurusan dan kampusnya jadi seenggaknya ada bayangan. Itupun masih bingung mau nanya apaan, tangan keringet dingin, gimana kalau saya nggak ada persiapan dan nanya dadakan?!

20171104_122905

Pada akhirnya saya memberanikan diri datang ke booth dan bertanya. Mereka menunjukkan website resmi kampus dan memberi tahu detail program studi yang saya tanyakan, juga menunjukan lokasi kampus, dan beberapa booth memberi tahu secara kasar rincian biaya hidup per bulan.

Well, i will not apply now or in the next year. Karena Abang baru saja memulai perkuliahan hingga kira-kira 2 tahun ke depan. Insyaa Allah. Aamiin.

Tapi dengan berani hadirnya saya di EHEF maka itu berarti setidaknya saya berani memulai pergerakan dari impian masa kecil yang selama ini selalu saya pendam.

Entah nantinya kapan dan bagaimana caranya. But, thanks for letting me having a big dream now and then. I realize now that it’s really really ok to have a big dream. 

P_20171104_130506

20171104_133259

Thanks also Vidy and Mbak SanSan for waking me up. 

“Tanpa mimpi-mimpi, orang macam kita ini bisa mati.” ~ Arai.

IMG-20171106-WA0007