Shalat bareng anak

Sejak dulu saya selalu terbiasa melihat (dan ikut melakukan) adegan “mengusir” balita dari sanak famili yang sedang shalat sambil bilang “Jangan di situ, nanti mengganggu”.

Qadarullah kemudian harus berdua saja dengan A di rumah dalam kondisi A yang sejak dulu sama sekali nggak mau ditinggal juga. Jangankan ditinggal wudhu, ditinggal ngambil termos sambil dadah-dadah dari dapur aja nangisnya ampun-ampun.

Dan karena saya terbiasa apa-apa diurusin, jadinya saya merasa shock dengan kondisi yang ada: bahkan sampe harus shalat sambil gendong anak yang nangis kenceng.

Tapi sekarang malah jadi bersyukur karena melihat sendiri tahapan A yang tadinya nangis jejeritan, gegulingan di sajadah, ngamuk-ngamuk karena emaknya shalat, lalu mulai mengikuti gerakan shalat, sujud sambil tiarap, jungkir balik, mau ngikut ke Masjid dengan syarat dibolehin bawa balon sapi, shalat sambil ngomong juga sama ikan di aquarium, teriak aamiin sendirian pas orang-orang udah pada mingkem, sampai belajar qomat.

Kalau dari dulu setiap shalat saya “mengusirnya”, mungkin ceritanya beda.

Maka benarlah kata Mbak Yuria Cleopatra tempo hari di akun FBnya:

“Jika kita ingin anak-anak kita menjadi ahli shalat, jangan jauhkan mereka dari shalat.”