Melepasnya

“Nak, kamu mau jadi apa? Professor atau koki?” Bisik saya padanya yang ada di perut.

Perbedaan dari hari-hari biasanya adalah saya merasakan keinginan yang berlipat ganda untuk memasak. Padahal biasanya pisang goreng aja saya beli di abang gorengan. Enak toh, tinggal masuk mulut. Mengurangi tumpukan cucian piring. Tapi kali ini beda. Tiba-tiba saya masak ikan, tumis kulit melinjo, oseng jamur, dan sebagainya.

Dan saya jadi ingat. Keinginan berlipat untuk pencarian sekolah di luar itu jangan-jangan juga karena faktor si bayi ini! Jangankan nyari nama kampusnya, nyari jurusan aja selama ini saya nggak berani! Udah gitu, baru aja seminggu lalu saya tiba-tiba memutuskan untuk kepikiran ngikut konferensi pengamat burung. Oalah, Nduuk… Nduuk…

Lalu tiba-tiba hari kamis itu kami tersentak saat ada flek yang keluar. Pikiran saya tak karuan. Di tengah gerimis yang semakin menjelma menjadi hujan kami melaju menuju klinik.

Dokter melakukan USG dan saya tercengang menanggapi diagnosanya yang melihat penampakan pada layar bahwa tidak ada penambahan ukuran pada rahim. Lalu ia mulai menjelaskan bahwa ini kecil sekali kemungkinan untuk tumbuh. Kita hanya bisa menunggu dua minggu lagi. Itupun kalau sang janin kuat. Karena jika tidak maka ia akan luruh dengan sendirinya.

Saya termangu saat itu. Terutama di saat kami sudah terlanjur membayangkan tentang hari-hari selanjutnya. Terutama di saat saya sempat membisikkan bahwa kali ini saya siap setelah 3 tahun lalu pernah mengalami baby blues dan mungkin (hampir) post partum depression.

Dan terutama saat A sudah sangat responsif dengan adik bayi di perut. Tidak ada satupun kalimat yang keluar dari dirinya yang tidak disangkutpautkan dengan kata “Ade”.

Jika saya mengajaknya mandi, maka ia akan balik bertanya, “Ade udah mandi belum? Ade bau acem.”

Jika saya mengajaknya makan, maka ia akan bertanya, “Ade udah makan belum?”

“Ade udah bobo? Ade udah bangun? Ade, ini dikasi robot. Ade, ini mobilan dipinjemin ya. Ade, ini buku cerita.”

Lalu perut saya penuh dengan boneka, robot, mobil-mobilan, buku, dan selimut.

Saya pikir flek itu akan berhenti selepas kami pulang dari dokter. Nyatanya hingga malam malah semakin banyak yang keluar. Sama seperti saat sedang haid. Dan saya tak kuasa harus memberitahunya. Tapi tetap saja A harus diberitahu.

“A, kalau ternyata adeknya balik lagi ke Allah nggak papa ya?” Tanya saya hati-hati.

“Kenapa?” Bukan A namanya kalau tidak mengajukan hingga 10 pertanyaan. “Emang tadi kata bu dokter adenya kenapa?”

“Katanya adeknya ukurannya kecil banget. Kita belum tahu tapi kita berdoa aja yah. Supaya A dikasi adek lagi di perut Ama.”

“Yaaah, ade jangan pergi. Di perut Ama aja.”

Aah, saya berusaha kuat menahan air mata.

“Kita lihat nanti ya. Berdoa aja ya biar adeknya sehat-sehat.”

Lalu ia menatap wajahnya sendiri di cermin dengan tatapan sendu yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Kira-kira sekian menit lamanya. Lalu ia kembali menoleh pada saya. Wajah kecil dan matanya menatap saya. Ia kemudian bertanya dengan perlahan dan setiap kata yang ia keluarkan satu per satu diberi jeda.

“Ama, tadi di Rumah Sakit keluar air mata kenapa?”

Detik itu saya sudah tak bisa lagi menahan tangisan saya sendiri. Bahwa, ia dengan usianya yang baru akan 3 tahun berusaha menanyakan sesuatu dengan sangat hati-hati, seolah mengerti apa yang saya rasakan.

Nak, semoga kamu, Ama, dan Aba dikuatkan ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *