Ketika anxiety datang

Hari Sabtu kemarin kami kembali mengikuti pengamatan burung di sebuah hutan lindung.

Berbeda jauh dengan pengamatan di Batu sebelumnya, pengamatan kali ini dipenuhi banyak sandungan meski lokasinya masih di kota Jakarta.

Keluarga kakak akhirnya memutuskan untuk ikut kami. Saya pada awalnya memang agak enggan mengajak mereka. Bukan karena tidak mau. Namun lebih kepada khawatir mereka tidak suka dan tidak tertarik. Mengingat lokasi yang jauh dan hutan lindung di sana not good looking as many of us imagine as a conservation area. 

Namun karena pada pengamatan sebelumnya di hutan kota UI saya disesalkan karena tidak mengajak, akhirnya saya memberi tahu kalau kami akan pergi ke Angke.

Subuh hari Sabtu, kakak dan keluarganya pun memutuskan untuk ikut.

Ada dua cara untuk bisa sampai ke hutan lindung, dengan bus Transjakarta atau naik kereta dulu ke stasiun Kota.

Pukul setengah 7 kami sudah ada di stasiun kereta. Pilihan ini rupanya berakibat panjang karena waktu tempuh menjadi sangat lama akibat kereta berkali-kali berhenti karena ada gangguan. Kami baru sampai di stasiun Kota hampir pukul 9!

Setelah itu kami menuju koridor bus Transjakarta dan menaiki bus menuju PIK. Menurut info nantinya kami harus turun di RS PIK.

Setelah turun dari bus saya baru ingat bahwa jalan kaki dari area RS PIK menuju hutan lindung adalah super jauh. Dulu saya pernah sekali pengamatan di sana dan berjalan kaki tapi kan nggak bawa anak!

Ketika saya sedang mengontak dan mencari tahu lokasi pastinya, kawan-kawan yang di sana rupanya tidak ada yang bisa dihubungi. Sementara Abang sudah terlanjur memesan ojek online. Setelahnya baru ingat, kenapa nggak taxi online saja sekalian biar sekali angkut? Hadoh…

When you’re on the go and then anxiety comes

Ketika sampai di gerbang hutan lindung, kami mendapati sekumpulan mahasiswa yang sedang berdiri dekat area pintu masuk. Saya menelisik satu-satu apakah ada yang saya kenal dan ternyata tidak ada. Saya kembali mengontak mereka yang sudah berada di lokasi tapi lagi-lagi tidak bisa. Dan CP yang akhirnya dihubungi ternyata hari itu tidak datang karena sedang ada ujian.

Papan informasi di bagian depan memberi tahu adanya buaya muara di lokasi itu and it strikes me a lot. Geez..

Keponakan saya mulai berbicara tentang kemunculan adanya buaya dan A kemudian berubah dari excited menjadi takut dalam memasuki area tersebut.

Baiklah saya pun kemudian berubah menjadi bingung dan panik.

I feel like I’m the worst mom in the world for bringing my kids to a dangerous place. There’s a crocodile in here!

Bagaimana kalau pulang aja ya? Balik lagi. Pikir saya tiba-tiba.

Sementara itu saya tahu kalau keluarga kakak dan Abang mulai kzl karena saya malah bingung aja dan bukannya memimpin perjalanan, bertanggung jawab sebagai orang yang sudah mengajak ke tempat itu.

Akhirnya saya masuk dan bertanya pada beberapa mahasiswa. Saya bertanya tentang kawan yang hari itu ada ujian. Pertanyaan saya salah besar rupanya karena kelompok mahasiswa ini rupanya sedang mengamati monyet ekor panjang dan bukannya kelompok pengamat burung.

Ok, enough for the awkward today. I feel so stupid at that time. 

Kami berjalan melewati jembatan yang pagar pengamannya rusak dan patah-patah. We found nothing except mangrove and trash. Air laut yang datang juga luar biasa hitam. Anak-anak mulai mengeluhkan dan bertanya tentang lokasi yang tidak dalam kondisi bagus itu. Dan saya mulai menyalahkan diri sendiri.

Kan, harusnya kemarin nggak usah ngajak-ngajak.

Kami akhirnya berhenti pada satu titik. Karena semua sudah mulai kelaparan maka kami membuka tas dan mulai makan.

Sementara saya mulai merasa khawatir kembali karena dulu kami pernah dihampiri sekelompok monyet yang menunjukkan gigi taringnya pada kami lalu merebut makanan dan kami pun berlarian menuju pos.

Saya tak mau itu terjadi lagi. Terutama dengan adanya A dan kakak sepupunya di antara kami.

So, I’m starting to watch around instead of pulling out the snack out of my bag. Ok, I’m really not a good mom.

Saya merasa bahwa mengawasi sekeliling dari ancaman monyet adalah lebih penting. Jika ada monyet yang datang saya akan langsung menyimpan semua bekal makan ke dalam tas supaya kami aman.

Saya mengabaikan bahwa saya sendiri kelaparan dan bahwa di tas kami ada roti, biskuit, dan air minum. Pada akhirnya semua itu terlupa.

Setelah itu kami bertemu Mas Ady yang sudah sekian ratus kali mengamati burung di sana. Ketika kami mengobrol dan saya bertanya tentang buaya, Mas Ady berkata bahwa buayanya berukuran kecil dan takut kalau bertemu manusia. Seolah menjawab apa yang ada di pikiran saya, ia tiba-tiba berkata bahwa tidak perlu khawatir buayanya akan lompat dan menyambar karena itu hanya ada di film.

Okay. Baiklah.

Kami akhirnya memutuskan berjalan kembali menyusuri jembatan yang rusak. Pengamanan anak-anak di tempat seperti ini harus ekstra.

Kepanikan lain pun muncul ketika saya berturut-turut ditelepon 4-5 orang pengemudi ojek online yang bilang kalau mau datang ke rumah mengambil barang jualan untuk diantarkan ke pembeli.

DOH! INI APALAGI SEH?!

Padahal seharian itu saya nggak mencet akun jualan apa-apa. Penjualan di hari sebelumnya memang ada yang belum diantarkan, tapi seharusnya kalau berbeda hari semuanya sesuai apa yang penjual klik. SEHARUSNYA BUKAN OTOMATIS SEPERTI INI.

Ada pengemudi yang sudah sampai di depan rumah saya. Ada lagi yang menelepon sambil marah-marah. Setelah itu masih ada lagi yang telepon lagi dan lagi. Ampon deh.

Sementara pembatalan dari pihak saya tidak semudah semacam klik “pick up”. Akhirnya saya menemukan jalur penghentian pengiriman pada tombol bantuan “hubungi kami”.

Blah, kirain tombol “hubungi kami” berupa nomor telepon langsung.

Sambil mengamati siapa tahu ada burung air yang lewat, mengawasi bocah yang sedang main sama kakak di bird hide, sambilan juga menghubungi customer care jualan online supaya masalah lekas berhenti.

Akhirnya semua chaos itu pun berhenti 😲. Pengamatan kali ini sungguh deh bikin hati berantakan 😥.

Right. That day was really strikes me. And feel like I’m the worst mom ever.

Sesudahnya kami duduk-duduk lagi di bird hide yang reyot itu, membaca buku-buku tentang burung yang memang sengaja dibawa, lalu saya jelaskan sedikit tentang masalah sampah yang ada dan kenapa kita tidak boleh membuang sampah sembarangan, juga harus mulai mengurangi sampah plastik.

Di akhir kegiatan ketika kami melangkah keluar gerbang hutan lindung, keponakan saya menatap hutan mangrove dengan matanya yang berbinar, “Wiiih… Pengamatan burung seru bangeet!”.

Ah, saya terharu dengarnya huhu. Sampai rumah saya juga tanya A apakah besok-besok mau ikut lagi? Ia menjawab mau dengan semangat.

Terima kasih yaa, kalian sudah selalu memberi pelajaran positif dari setiap perjalanan Mamah 💕.

IMG-20180114-WA0003

One thought on “Ketika anxiety datang

  • February 23, 2018 at 11:33 am
    Permalink

    Aku semangat banget baca artikel ini. perjalanan yang sangat menyenangkan terlihat dari cerita petualangan ini

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *