Menjadi pemungut benda alam

Pada hari Sabtu lalu, kami menghadiri pernikahan seorang kawan. Kawan tersebut meminta Abang menjadi saksi nikah. Dengan ini berarti kami akan melewati waktu cukup lama sejak akad nikah hingga resepsi. Saya pun menyiapkan baju ganti A dan mengajak A memasukan sendiri mainan yang ia ingin bawa ke dalam tas.

Lokasi pernikahan cukup jauh yaitu di Gedung Pertemuan Puspiptek, Serpong sehingga kami menginap di rumah Ciputat agar waktu perjalanan menjadi lebih singkat.

Di pagi hari kami mengubah rencana untuk hanya membawa tas kecil milik saya saja dan bukannya tas yang lebih besar karena baju ganti A masih bisa masuk ke dalamnya.

Saat tiba di lokasi kami baru sadar bahwa mainan A ternyata ada di dalam tas besar alias tidak terbawa! Syukurlah si anak nggak ngambek dan slow aja menanggapi mainannya ketinggalan. Ia hanya berkomentar, “Kenapa Amah? Mainan A ketinggalan? Oooh..”

Haha udah gitu aja komentarnya.

Syukurlah gedung tempat lokasi acara memiliki area Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang luas, bahkan terdapat area situ juga meski tidak terlampau besar. Beberapa warga sekitar terlihat memanfaatkan RTH tersebut untuk jogging dan bersepeda.

P_20171223_074023

Sambil menanti akad tiba, A lari-larian di rumput dan mencari batu. Setelah menemukan batu yang ia sukai, ia pun memasukannya ke dalam saku celana.

P_20171223_073428

Yap, sejak kecil ia memang suka memungut berbagai benda yang ada di alam. Kalau istilah kerennya mah nature scavanger. Iyes, scavanger = pemungut / pemulung.

P_20171223_095226

Baca juga: memungut benda dari alam di usia 1.5 tahun

Sekarang A senang banget ngumpulin batu kecil. Karena batu yang ia ambil ya hanya sekedar batu (maksudnya bukan batu pendukung misalnya sebagai bagian dari gua yang terbentuk ratusan tahun lamanya) maka saya biarkan saja. Kadang ia juga memungut ranting-ranting kecil. Jadilah tas saya penuh dengan potongan ranting dan batu. Sewaktu menjelajah Tahura Raden Soeryo di Kota Batu, A memungut ranting cukup panjang dan meminta dibawa pulang ke Jakarta. Akhirnya saya masukin ke tas tripod.

IMG_20171223_213746_762

Di RTH itu juga terdapat pohon cemara yang masih belum saya ketahui jenisnya. Awalnya saya duga sejenis pohon pinus. Biji-bijinya berukuran lebih kecil daripada cemara laut. Nah, kalau urusan biji cemara atau biji pinus, ini saya yang suka mungutin. If you know the name of this species, please let me know. 

IMG_20171223_213614_284

Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, ternyata kegemaran memungut ini dapat bermanfaat dan jangan diremehkan. Di usia yang sekarang yaitu 3 tahun dan sudah mengenali bentuk juga warna, manfaat kegiatan ini meningkat menjadi:

  1. Belajar bentuk geometri
  2. Belajar mengenali huruf hijaiyah/abjad/angka dari potongan ranting yang dibentuk
  3. Motorik kasarnya semakin terasah karena di rerumputan ia berjalan, berlarian, melompat, dan (berusaha) memanjat.
  4. Mengenal alam dan lingkungan sekitar. Misalnya sambil diajak bercerita cara pohon menyebarkan bijinya, burung-burung yang membangun sarang di pohon, kupu-kupu yang mencari madu di bunga, hingga barisan semut yang berkumpul di bawah batu.
  5. Ia belajar mengatasi masalah bahwa mainannya tertinggal dan berusaha mencari sendiri alternatif permainan lain.

Beberapa kali A dihampiri penjual balon dan mainan yang merayu untuk membeli, tapi ia berkata sendiri pada pak penjual “Ndak, Pak!”. Dan kami pun kembali balapan lari.

20171223_095133_HDR_Film2

 

5 thoughts on “Menjadi pemungut benda alam

  • January 15, 2018 at 7:32 am
    Permalink

    A, ntar ajarin Adek A jadi nature scavanger ya, biar ga minta balon terus pas liat balon…

    Reply
    • January 15, 2018 at 3:22 pm
      Permalink

      Hahaha tiap liat tukang balon minta beli ya? Kalo gw waktu itu kudu bertahan ga beli. Tega nggak tega juga sih huhu. Tapi dia malah jadi tau bahwa nggak selalu harus beli kalo ada tukang lewat

      Reply
  • February 21, 2018 at 4:56 am
    Permalink

    Abis itu penemuannya di apa? keren kayaknya bikin pajangan

    Reply
    • February 22, 2018 at 3:08 am
      Permalink

      Ada yang ditaro di toples kaca lalu dipajang.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *