Pengamatan burung di Hutan Lindung Mangrove Angke

Sabtu, 13 Januari 2018 kami berniat mengikuti kegiatan pengamatan burung (birdwatching) bersama Jakarta Bird Walk di Hutan Lindung mangrove Angke. Dalam event ini juga sekalian dilakukan penghitungan burung air se-Asia alias Asian Waterbird Cencus (AWC) yang memang dilaksanakan setiap tahunnya di bulan Januari.

Saya pertama kali mengikuti kegiatan AWC ini saat tahun 2008. Saat itu adalah benar-benar kali pertama saya mengenal yang namanya birdwatching. Dulu biasanya lokasinya adalah di Suaka Margasatwa Muara Angke. Meski sempat juga beberapa kali terbagi kelompok antara suaka margasatwa, hutan lindung, dan taman wisata. Namun karena jembatan kayu yang biasa dilalui kini tidak lagi dalam kondisi baik maka kali ini pengamatan hanya dilakukan di Hutan Lindung.

Baca juga: Mengenal mangrove terakhir di Jakarta

Sembilan tahun berselang, kini saya akan mengikuti kegiatan bersama A dan Abang. Kakak dan keluarganya juga kabarnya hendak ikut.

Kami sempat memutuskan akan naik bus Transjakarta. Namun karena rute yang berputar dan akses dari rumah yang lebih memakan waktu maka kami pun memutuskan untuk naik kereta saja hingga stasiun Kota lalu dilanjutkan naik Bus Terintegrasi Transjakarta jurusan PIK.

Sayangnya perjalanan kereta diiringi banyak sekali gangguan. Kereta banyak sekali berhenti di beberapa titik dalam waktu cukup lama yaitu sekitar 15-20 menit bukan hanya sekadar menurunkan dan menaikan penumpang. Waktu tempuh pun jadi molorrr. Kami baru tiba di stasiun Kota setelah pukul 9.

Sampai di lokasi sudah pukul 10 siang. Papan petunjuk di depan hutan lindung yang memberi tahu keberadaan buaya rupanya mengejutkan kami saya hingga saya sempat mau ngajak pulang lagi hihi.

Saya jadi ingat sejak kemarin A tak hentinya berkeliling di dalam rumah sambil menenteng binokuler dan mengajak saya berangkat ke hutan mangrove sore itu juga. Kini kakak sepupunya malah bercerita buaya dan A pun sempat menolak untuk masuk ke hutan lindung.

Pada akhirnya kami sudah tertinggal rombongan yang sudah masuk lebih dulu sejak pagi. Anak-anak dan ibunya pun sudah lapar karena perjalanan yang lama sehingga kami banyak berhenti.

Sepanjang menelusuri jembatan di antara mangrove, A tak henti-hentinya bertanya kenapa jembatannya rusak? Kenapa nggak dibetulin? Kenapa pohon mangrove akarnya di atas, bukan di tanah kaya yang di gunung? Kenapa airnya hitam? Kenapa banyak sampah? Kenapa pada buang sampah sembarangan?

DSCN6222

DSCN6189
Sang kakak sepupu

Kami berhenti di hampir setiap bird hide untuk istirahat dan makan kue. Hari itu saya hanya lihat kareo padi yang gagal dijepret dan pecuk yang sedang terbang.

Kami membaca buku tentang burung yang memang sengaja dibawa dari rumah. Saya menjelaskan sedikit tentang burung air yang saat itu tidak bisa kami lihat, tentang sampah yang masuk ke lokasi mangrove, dan tentang pentingnya mengurangi penggunaan plastik untuk membantu meminimalisir sampah meski kegiatan ini masih kerap terlupa.

IMG-20180114-WA0003

Saya sempat berpikir mereka tak menyukai pengamatan kali ini. Ini memang bukan pengamatan burung yang pertama buat sang kakak sepupu. Ia pernah mengikuti saya di taman belakang rumah dulu saat kami masih sama-sama tinggal di rumah ibu saya, juga pernah bersama-sama A berteriak-teriak di bawah pohon agar burung betet yang saya incar di Monas melesat kabur. Namun tetap saja, berada di kawasan hutan lindung dengan kondisi jembatan yang rusak dan banyak sampah bukan hal yang tentu mereka inginkan. Tapi dua anak ini tetap melanjutkan kegiatan tanpa rengekan yang berarti. Sesekali mengeluh capek and that’s all. Tidak sampai ngambek.

DSCN6219

Menjelang pulang saya melihat raja udang terbang melesat. Lalu di luar gerbang, saya menangkap binar di mata sang kakak sepupu yang berkata, “Wiiih…pengamatan burung itu seru banget!” Ia menatap menyelidik kembali ke dalam area hutan mangrove.

Mereka lalu malah jadi asyik main tanah dan ranting pohon sambil memerhatikan monyet ekor panjang yang hilir mudik.

Baca juga Mangrove Angke setelah 2 tahun

Semoga perjalanan kali ini meski banyak hambatan tapi tetap bermanfaat buat kami, terutama A dan kakak sepupunya. Juga menyadarkan kami semua bahwa kesadaran pentingnya mangrove di kota besar ini masih sangat minim.

Bahwa di balik perumahan mewah, juga warung makan dan tempat nongkrong modern yang dibangun dengan sangat megah itu, ada denyut nafas dari akar-akar mangrove yang sebenarnya sudah sangat enggan menghirup sampah yang terus mengalir masuk. Tapi pepohonan itu terus memberi oksigen, menjadi benteng dari gelombang laut, dan setia menjadi tempat tinggal para burung air. Mereka jelas tak layak diabaikan.

DSCN6179

DSCN6226

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *