Bermimpi besar

Hari ini saya membaca lagi tulisan tentang seseorang yang mendapat beasiswa.

“Ketika harapan masih ada…” Katanya.

Saya tak tahu apalagi yang harus saya katakan terkait hal tersebut. Saya jadi ingat guntingan majalah bergambar menara Eiffel besar-besar yang saya tempel di kamar saat SMA. Gambar tersebut kemudian saya turunkan bertahun-tahun kemudian dan tak saya pasang lagi. Itu justru terjadi selepas saya lulus kuliah.

Saya melepas banyak cita-cita, tak melakukan banyak hal dan sekarang sudah masuk usia 30. Saya bertanya-tanya apakah ada lagi yang seperti saya?

Melewatkan banyak hal, bertahun-tahun sesudahnya hanya menyaksikan orang-orang lain melakukan apa yang dulu menjadi cita-citanya.

Pelajaran yang didapat dari masa lalu yaitu tak perlu bermimpi besar. Tak usahlah punya cita-cita kuliah di luar negeri, tak usah juga susah-susah bikin taman baca di rumah apalagi di pelosok-pelosok, tak usah resign dari kerjaan sehari-hari hanya untuk merawat anak. Tak usah, kau tak kan bisa melakukan itu. Apalagi mau kuliah lagi setelah jadi ibu rumah tangga yang punya anak. Kau tak bisa kuliah sambil mengasuh!

Ikuti saja jalur biasa: lulus, kerja kantoran, punya gaji, pensiun. Sudah.

Tak usah ambil yang berbeda dari orang-orang. Apalagi jadi relawan yang ke hutan mangrove, bikin acara di panti asuhan. Tak usah! Tak usah juga ajak anak-anak panti asuhan itu outing. Mereka kan lari-larian, nggak akan bisa megangin mereka!

Dan lalu nantinya saya bilang sama A:

Bermimpi yang besar, Nak. Ikuti mimpi-mimpimu. Tempuh apa yang kau yakini. Selama tak melanggar agama dan norma, ibu dukung.

Allah, kuatkanlah… Kuatkanlah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *