Melepas Cunda

Rabu, 21 Februari kemarin cuaca cerah sekali saat pagi hari. Setelah minggu-minggu sebelumnya Jakarta dihiasi dengan mendung dan hujan besar hingga petir, hari itu seolah kami sudah memasuki musim kemarau meski terkadang beberapa hari sebelumnya masih turun hujan ringan di sore hari.

Saya ingin banget hari itu kami jalan ke museum, tapi di mana lagi ya yang rutenya tidak padat? Karena itu adalah weekday yang berarti pagi hari kereta arah jakarta semuanya penuh.

Sayang kalau cerah nggak keluar rumah. Begitu selalu pikir saya. Sehingga akhirnya saya “mengusir” Abang untuk jogging. A ternyata mau ikut juga, akhirnya mereka jogging di taman berdua dan saya bilang mau menyusul nantinya.

Pukul 9 saya buka wa dulu dan kaget membaca berita duka bahwa Cunda, anak dari Mbak Nai kawan saya itu berpulang. Usianya baru 5 tahun.

Ah, tak terkira perasaan saat itu. Saya memang tidak sering bertemu dengannya lagi. Dulu, saya dan Mbak Nai memang bertemu saat saya ikut komunitas mangrove. Selepas kerja hingga sekarang saya jarang sekali mengikuti berbagai kegiatan karena waktunya seringkali bentrok.

Terakhir kami bertemu adalah bulan Februari tahun 2016 di restoran di Bogor. Saat itu akhirnya kami bertemu lagi bersama A juga.

Cunda yang baju merah
Cunda yang baju merah

Frekuensi pertemuan kami memang sudah tak sebanyak dulu saat tahun 2008-2009. Waktu tahun 2009 dulu itu lahirlah kakak Cunda yang bernama Rimang. Lalu tak lama sesudahnya saya diterima bekerja kantoran hingga tak rutin lagi ikut komunitas.

Tahun 2011 saya bertemu kembali dengan Mbak Nai, Mas Edy, juga kedua anak mereka. Itu adalah pertemuan saya pertama kalinya dengan Cunda yang baru berusia beberapa bulan.

Pertemuan itu begitu membekas buat saya karena saat itu baru beberapa waktu saya mengenakan brace untuk skoliosis dan saya masih di tahap menerima diri sendiri serta merasa khawatir apakah nantinya saya bisa hamil, menggendong anak, dan kekhawatiran-kekhawatiran lain yang saat itu sangat mengganggu.

Pada pertemuan itu saya memberanikan diri memangku Cunda meski agak takut. Saya khawatir ia terganggu dengan brace saya. Namun rupanya tidak. Ia sama sekali tidak merasa terganggu meski saya mengenakan brace yang keras itu.

Pulangnya Mbak Nai juga menguatkan dan terus memberi rasa optimis, katanya Cunda juga sama kaya saya: ada kelainan di jantungnya.

And that was 5 years ago.

Desember tahun 2017 lalu, Cunda menjalani operasi karena ada kebocoran di jantungnya. Sesudah itu katanya semua baik-baik saja.

Hari rabu pagi, mereka melakukan aktivitas seperti biasa bahkan masih sempat video call dengan ayah Edy yang bertugas di luar pulau. Lalu tiba-tiba Cunda tak sadarkan diri dan dibawa ke RS lalu katanya ia sudah pergi.

Begitu saja. Secara tiba-tiba.

Rabu siang sekitar pukul setengah 3 ia dimakamkan setelah menanti kedatangan ayahnya dari bandara. Cuaca yang terik lalu berubah jadi sedikit teduh saat kami tiba di pemakaman. Selepas membaca doa dan berpamitan, lalu rombongan takziah bubar, gerimis mulai turun.

Selamaat jalan Cunda. Semoga langkahmu di surga menjadi penerang dan penuntun jalan surga untuk kedua orangtuamu kelak.

Terima kasih untuk kenangan manis darimu.

Love.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *