Periksa kehamilan ke-2 di puskesmas

Pada kehamilan pertama tahun 2014 lalu saya sempat satu kali melakukan pemeriksaan kehamilan di puskesmas kelurahan dengan BPJS yang waktu itu masih baru keluar. Saat itu sempat menerima komplen dari bidan puskesmas karena saya datang untuk periksa pertama kali di puskesmas saat usia kehamilan sudah 8 bulan.

Pada akhirnya saat itu juga pemeriksaan lanjutan di RS yang sudah dipilih puskesmas tidak saya lakukan karena keburu puyeng ngebayangin antriannya 😌.

Waktu itu harusnya saya ke RS Fatmawati. Dan emang nggak saya terusin lagi karena toh udah periksa dan rencana lahiran di RSIA Harapan Kita.

Nah, saat kehamilan ke-2 bulan November 2017 lalu saya menuju puskesmas tingkat kecamatan. Idenya dadakan karena bidan puskesmas kelurahan nggak ada, jadinya kami datang kesiangan gitu ke puskesmas kecamatan. Ini juga karena sudah bertanya via telepon dulu apakah boleh ke puskesmas kecamatan dengan BPJS meski faskes saya tingkat kelurahan. Karena katanya bisa jadi kami langsung menuju ke sana.  (Di tahun 2018 peraturan ini berubah). Sampai sana daftar ke loket sudah jam setengah 8.

Sampai di sana dikasi tau kalau hari itu kami masih beruntung karena masih bisa mendaftar. Biasanya kuota sudah penuh. “Lain kali ibu datang pagi-pagi sekali ya.” Pesan petugas di loket.

Di sana ngantri lamaaaaa bangets karena ya saya dapat nomor paling belakang. Semua bangku hampir selalu terisi penuh. A sudah nggak betah jadinya ia pulang sama Abang dan saya menanti sendiri.

Di bagian luar ruangan ada dua perawat yang bertugas memanggil pasien dan menanyakan beberapa hal dulu pada ibu hamil. Misalnya kapan haid terakhir, sudah pernah periksa atau belum, kehamilan ke berapa, dan pasien juga diukur tensi darah serta berat badan.

Setelah itu baru bertemu bidan di dalam ruangan. Waktu itu saya sampaikan mengenai riwayat MVP jantung dan bagaimana nantinya prosedur persalinan saya. Saat itu bidan menyarankan untuk nantinya saya dibuat rujukan ke poli umum di puskesmas dulu untuk tahu tindakan selanjutnya. Maksudnya karena riwayat saya itu apakah saya boleh aja melahirkan di bidan atau harus di RS yang ada dokter jantungnya.

Namun karena usia kandungan masih kecil yaitu 4 minggu, hari itu saya belum bisa diperiksa apa-apa, hanya diberi surat untuk cek darah dan urine di lab saja.

Puskesmas kecamatan itu cukup lengkap karena memiliki laboratorium sendiri. Jadilah saya mengantri lagi untuk ke lab. Lalu menunggu hasilnya jadi antara setengah hingga 1 jam. Maksimal sih 1 jam tapi ternyata setengah jam sudah jadi. Hasilnya saya bawa pulang untuk dibaca di pemeriksaan selanjutnya.

Oh iya, baik di puskesmas kelurahan maupun kecamatan tidak ada fasilitas USG 3D. Adanya yang usg suara jantung saja. Setelah itu karena saya masih penasaran belum lihat penampakan kantong rahim jadi masih bertanya ini beneran hamil apa nggak ya heu. Jadilah besoknya ke klinik bersalin juga buat USG.

Namun, seperti yang pernah diceritakan. Pemeriksaan ini pun tidak berlanjut karena saya keguguran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *