Mimpi 10 tahun silam

10 tahun saya menanti dimulainya hari-hari semacam ini, setelah banyak pergolakan yang berarti.

P_20180309_161137

Memulai sebuah perpustakaan yang bisa dibagikan manfaatnya kepada orang lain sungguh tidak mudah. Saat ide tersebut dicetuskan 9 atau 10 tahun silam, untuk kesekian kalinya kalimat “kamu tidak akan bisa” kembali ditujukan untuk diri saya. Saya akhirnya menyimpan ide itu kembali, kemudian memutuskan untuk melesat dari satu toko buku bekas di pinggir stasiun kampus dan tepi jalan lalu pergi lagi ke terminal bus untuk mencari buku-buku bekas yang bisa dibagikan manfaatnya beberapa tahun ke depan.

Pada waktu itu buku-buku tersebut akhirnya saya bacakan untuk adik-adik sepupu untuk kemudian kembali saya simpan.

Beberapa bulan sesudahnya saya pergi ke sebuah yayasan panti asuhan dengan membawa buku-buku bacaan. Anak-anak itu duduk dengan senang hati dan membaca buku dengan girang. Lalu saya putuskan untuk membuat perpustakaan di yayasan tersebut dengan mengajak kawan-kawan lain jika memang di rumah saya sendiri belum ditakdirkan.

Satu tahun, dua tahun, donasi buku-buku bacaan berdatangan dan kegiatan terus berjalan meski frekuensinya maju-mundur. Sayangnya kalimat “kamu tidak akan bisa” masih terus dilontarkan hingga akhirnya berulang kali tak ada yang tahu jika saya mengadakan kegiatan di yayasan, kecuali teman-teman sendiri dan salah satu Bulik saya yang setia mendengarkan segala ocehan dan mimpi-mimpi yang saya lontarkan. Selebihnya saya menyimpannya sendiri.

Sayangnya, perbedaan manajemen di dalam yayasan tersebut berimbas pada dipindahkannya buku-buku yang sudah kami kumpulkan selama 4 tahun ke tempat lain lalu hilang terbawa banjir. Saya menyerah saat itu dan waktu yang semakin sulit dibagi juga membuat frekuensi kedatangan ke yayasan berkurang. Bersama teman-teman komunitas, kami akhirnya sudah merasa cukup dengan mengirimkan buku-buku bacaan ke berbagai daerah. Karena hanya itu yang bisa saya lakukan.

Lalu rencana menikah pun datang. Saya mengajukan salah satu syarat, yaitu bahwa tolong jangan minta saya untuk menghilangkan cita-cita membuat perpustakaan karena sudah banyak cita-cita lain yang tak mampu lagi saya lakukan. Sang calon saat itu menyanggupi. Setelah menikah saya bekerja seperti biasa dan mengumpulkan tabungan untuk mimpi yang satu itu.

Lima bulan pasca menikah, bulik (satu-satunya yang setia mendengarkan ocehan saya dengan optimis) pergi menghadapNya. Saya kini hanya punya Abang yang mendengarkan dan terus meyakinkan bahwa saya mampu.

Dua tahun sesudah menikah semua mimpi kembali harus ditata, terutama saat pasca melahirkan dan didera baby blues hingga mungkin hampir post partum depression.

Saya kemudian memutuskan resign dari kerjaan rutin dengan alasan ingin mengurus anak secara mandiri. Telepon pun datang dari rumah saat menjelang resign meminta saya untuk membatalkan keputusan. Saya akhirnya berkata bahwa dengan berada di rumah saya ingin kembali pada mimpi-mimpi yang dulu: membuat sebuah perpustakaan. Dan yang kembali diucapkan pada ibu-baru ini saat itu adalah, “Kamu tidak akan bisa.”

Menjadi juri lomba gambar dengan peserta 10 orang anak katanya saya tidak akan bisa. Memilih buah-buahan yang bagus di pasar katanya saya tidak akan bisa. Kuliah di luar negeri saat belum menikah katanya saya tidak akan bisa. Membuat perpustakaan di rumah dan apalagi di desa-desa juga tidak akan bisa. Membereskan rumah, saya tidak bisa. Kuliah lagi setelah punya anak, apalagi. Tidak akan bisa. Dan seterusnya dan seterusnya.

Lalu saya bisanya apa?

Maka yang terus berputar di kepala adalah saya tidak bisa apa-apa. Entah berapa kali kepercayaan diri saya merosot tajam. Tapi Abang dan A selalu menyemangati hingga saya berani untuk mengikuti seminar, event, dan kegiatan lain yang nyaris tanpa absennya rasa minder.

Berulang kali ide membuat perpustakaan kembali melintas. Buku-buku sudah tertata, A pun sudah hafal semua isi buku meski belum bisa membaca karena terus menerus dibacakan buku, tantrum-nya pun sudah jauh berkurang. Buku-buku yang A nikmati sejak usia 1 tahun adalah buku-buku yang saya kumpulkan bertahun-tahun silam dari toko buku bekas seperti cerita di atas.

Berulang kali saya menghubungi para pegiat literasi yang lima hingga tujuh tahun lalu memulai taman baca dengan kondisi buku-buku terbatas. Saya melihat mereka terus tumbuh dan berkembang ke desa lain atau mendapat bantuan motor untuk dijadikan perpustakaan keliling. Dan tujuh tahun kemudian saya masih berdiri saja, tak melakukan apa-apa.

Beberapa kali kami membawa buku-buku ke taman dan menggelarnya di atas alas piknik tapi saya tak berani mengajak keramaian anak-anak di taman untuk singgah dan membaca buku kami.

Buku-buku sudah tertata di rumah meski tidak banyak, rak sudah tersedia, teras rumah sudah disapu, tapi yang saya tidak punya adalah rasa percaya diri.

Beberapa hari sebelum ini, saya menulis sebuah postingan in a very desperate situation. Kekecewaan yang kembali datang karena tidak mungkinnya saya melanjutkan kuliah. Lalu Allah membuktikan kalimatnya.

“Bersama kesulitan ada kemudahan.”

Dua hari sesudah tulisan dibuat, dua anak mengajak A bercanda dalam perjalanan kami pulang dari mushola tempat A mengaji. Mereka terus mengikuti hingga saya mengajak mereka main ke rumah untuk membaca buku.

Dua anak itu malu-malu saat menelusuri rak, menggumamkan judul buku yang ditemui, lalu kegirangan melahap buku demi buku. Mereka kecewa ketika hujan besar datang dan saya menyiapkan  payung untuk mengantar mereka pulang ke rumah masing-masing.

Esok harinya mereka datang bertiga, lalu datang lagi dua anak. Dan hari ini sudah hari ketiga, lima anak tersebut kembali datang. Kemarin, mereka malah ketagihan saat saya membacakan buku dengan keras (read-a-loud). Lima anak itu duduk di depan saya, terpaku dan serius sekali mendengarkan padahal saya tak punya kemampuan mendongeng. Mereka menyodorkan buku lagi dan lagi untuk dibacakan lalu  kembali kecewa karena saya suruh pulang menjelang adzan Maghrib.

Saya belum membuka secara resmi perpustakaan di rumah ini, namun setidaknya ini nantinya semakin membuktikan pada A bahwa ia diperkenankan untuk bercita-cita besar dan mengejar mimpi-mimpinya.

Dream big, Dear. Because you have the right to do so. 

P_20180309_155632_NT

2 thoughts on “Mimpi 10 tahun silam

  • March 13, 2018 at 7:53 am
    Permalink

    *mata berbinar-binar*

    Senangnyaaaa.. tau banget rasanya gimana kalo dimintain baca buku sama bocah..

    Kapan-kapan A yang kecil di mari juga mau main ke sana yaa..

    Reply
    • March 20, 2018 at 5:27 am
      Permalink

      Boleeeh bangets

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *