#46-48 Penantian bertemu raja-udang

Jauh sebelum bulan April tiba, saya sempat mengajukan “proposal” pada Abang untuk ikut Merapi Birdwatching Competition yang akan berlokasi di Klaten. Karena acaranya kompetisi maka seperti biasa, event ini dilombakan antar tim yang terdiri dari 3 orang. Tim saya? Ya tentunya bareng Abang dan A.

Saya sempat membayangkan serunya kami heboh amatiran bertiga. Saya yang heboh dengan kamera dan grasak-grusuk bikin burung kabur, A yang heboh lari-lari mungutin ranting dan batu, sementara Abang heboh bawa gembolan kami bertiga sambil kemudian anteng pasang hammock di hutan dan lalu tidur.

Rencana tinggal rencana, pertengahan Maret rupanya saya hamil! Mengingat November lalu saya mengalami keguguran padahal nggak aktivitas berat maupun naik turun-tangga, maka otomatis rencana ikut Merapi Birdwatching BUBAR JALAN!

Padahal toh sebenernya itu juga masih rencana mengajukan proposal, belum di-acc sama Abang karena menghitung pengeluaran kami bertiga nantinya, ditambah kemungkinan jajan mie di hutan. Ya syudahlah.

Lalu muncul sebuah event dari NDI Kids yang Agustus 2017 kemarin mengadakan trip ke Arca Domas. Kali ini event-nya adalah kemping dan bertualang bersama anak! Uhuyy.. ini mah kami banget. Lokasinya di Curug Nangka, Bogor. Nggak jauh, kan? Nyok ikut meski lagi hamil!

Baca juga: Trip ke Arca Domas

Beberapa minggu kemudian dimulailah gejala trismester pertama akut yaitu: MABOK.

Boro-boro makan nasi, ngeliat nasi aja saya mabok! Apalagi sambel.. iyuuuh… padahal waktu baru ketahuan hamil, maunya makan sambel terus.

Lalu bagaimana mau ikut kemping kalau sering lapar begini? Bagaimana nanti di sana makannya? Lalu yakin nggak ikut trekking ke curug, bersedia hanya gegoleran saja di tenda sementara Abang dan A hahahihi sepanjang jalur trekking?

Akhirnya rencana kemping ke Curug Nangka pun juga bubar jalan.. ihiks…

Di hari yang sama dengan event kemping di Curug Nangka, saya akhirnya mengajak Abang dan A untuk pergi ke Kebun Raya Bogor. Tujuannya: nongkrong di pinggir kali, berniat bertemu dengan raja udang yang selama ini saya nantikan.

Ternyata hari itu kakak hendak menjenguk teman di lokasi yang cukup jauh, sehingga Mas dititipkan pada kami. Maka, berempat kami pun nge-Bolang ke Bogor.

Dari Stasiun Bogor kami naik angkot dan turun di pintu 3. Harga tiket masuk adalah Rp 14.000/orang. A dan Mas pun langsung lari-larian sambil sesekali kami pegangi karena masih banyak mobil yang lalu lalang.

Rencananya saya hendak menggelar alas duduk dekat kolam teratai besar. Namun ternyata ada mempelai yang menggelar hajatan di sana. Sehingga kami menggeser tempat ke kolam yang lebih kecil. Ternyata hari itu cuaca sangat cerah dan terbilang terik, saya pun menggeser tempat kembali ke bawah pohon.

DSCN6491

Beberapa menit ketika baru sampai, saya menangkap sekilas burung yang hampir bisa dipastikan raja-udang melesat di depan kami. Melesat lalu menghilang. Lalu sambil duduk di tikar, beberapa kali saya menangkap sosok burung yang hinggap di pohon bunga dekat kolam. Saya pikir itu raja-udang, ternyata burung madu sriganti alias Olive-Backed Sunbirds. Nama Latinnya Cinnyris jugularis (Linnaeus, 1766), kadang juga disebut Nectarinia jugularis (Linnaeus, 1766).

DSCN6494

A dan Mas sudah nggak jelas bentuk lari-larinya. Kadang lompat di batu, kadang nyolek lumpur, lalu nyemplungin kaki ke aliran air. Nggak berapa lama ternyata mereka beneran tengkurep berenang-renang di aliran air. Bener-bener tengkurep sambil kecipak-kecipak! Dikira dugong?! Lha nanti mau bilas di mana?

Saya ngomel-ngomel pun percuma, toh mereka sudah basah semuanya dan cuma hahahihi saja kegirangan bisa berenang gratis. Yo wess, sakarepmu..

Akhirnya setelah puas, nggak pake mandi langsung ganti baju bersih. Hiii… nggak bilas dulu! Komentar saya sambil ngolesin minyak kayu putih biar nggak masuk angin.

Mereka kembali lari-larian, lalu nggak lama kembali dengan Mas digendong Abang sambil jejeritan, sementara A nurut saja jalan sendirian di belakangnya sambil nenteng sepatu. Ternyata kaki Mas kejepit batu gara-gara lelumpatan.

Habis itu mereka pun kapok main-main lagi dan hanya bermain di sekitaran tempat kami duduk. Karena saya nggak masak buat bekal jadinya saya harus membeli nasi kuning seharga Rp 10.000 (kalo nggak salah) dan buah potong seharga Rp 15.000.

DSCN6487

Mas saya suapin nasi kuning sementara A masih kekenyangan karena sebelumnya makan nasi uduk dalam porsi banyak. Habis itu Abang menghabiskan porsi nasi kuning yang masih ada, sementara saya mengajak Mas dan A menuju tepian kali di sudut yang berbeda. Beberapa kali saya menangkap sekelebat warna biru kecil melesat di sebelah sana.

Kami pun bermain memungut ranting dan daun di dekat kali. Lalu tiba-tiba ada satu burung yang hinggap di batu di tengah kali. Huaaaa! Itu dia!

IMG_20180415_192708_690

Sang burung menolehkan kepalanya lalu sekejap terbang lagi. Syukurlah sempat saya jepret meski masih jarak jauh. Saya pun hendak mendekat lagi ke tepi kali, namun terhalang semak belukar dan akar yang menggantung. Khawatir luput mengawasi anak-anak maka kami bergeser sekian meter ke tempat yang lebih terbuka. Saya kembali menanti sambil mengawasi anak-anak yang sedang bermain ranting. Jarak mereka cukup jauh dari kali.

Setelah beberapa kali menajamkan mata, saya menangkap lagi sosok dan suara burung raja-udang yang kali ini mulai menempel di kepala. Ia hinggap sejenak di pohon pepaya lalu melesat terbang ke arah permukaan kali, berusaha menyambar sesuatu, lalu kembali lagi ke semak-semak. Kemudian satu burung lagi datang dari arah yang berbeda.

Jika ada yang bertanya bagaimana rasanya jatuh cinta tetapi belum pernah bertemu langsung maka seperti saya dengan raja-udang meninting saat itu haha.

DSCN6504

Pertama kali mengetahui burung ini adalah sekitar tahun 2011. Ada yang bahkan berhasil menjepretnya setiap ke Ragunan karena burung ini cukup sering terlihat, ada juga yang berhasil mengabadikannya saat berada di tepi Ciliwung Condet, Pesanggrahan, dan sebagainya. Saya? Tak kunjung bertemu hingga tujuh tahun kemudian.

Alhamdulillah. Burung nomor 47.

IMG_20180415_233711_487

Lalu bocah-bocah mulai berebutan nyemplungin segala ranting ke kali hingga bahkan hampir mendorong saya. Ok, enough. Saya berdiri, tapi please satu foto lagi heu. Dan akhirnya nggak dapat haha.

Kami pun kembali ke tempat Abang menunggu, membereskan tas lalu bergerak lagi menjelajah Kebun Raya Bogor. Saat itulah satu burung kembali terbang di depan saya. Burung tersebut ternyata adalah empuloh janggut alias cucak janggut. Nomor #48.

DSCN6525

Setelah berjalan melewati jembatan merah dan Taman Meksiko yang gersang, Mas dan A masih punya tenaga buat lari-larian dan meminta difoto dekat kaktus besar. Setelah itu kami menuju pintu utama dan naik angkot untuk kembali ke Stasiun.

DSCN6531

Weleh-weleh, naik jembatan tinggi menuju Stasiun Bogor buat ibu hamil-muda ini bikin ngap-ngap-an yo. Kami pun shalat dulu di mushola stasiun, kemudian salah satu bocah mulai ngambek ketika kereta berjalan. Mereka ngantuk rupanya dan akhirnya tertidur di ketek saya.

Ok, see you again, Bogor. Kapan-kapan ketemu raja-udang meninting lagi yo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *