Kupu-kupu Leptosia nina dan bunga songgolangit

Kita mungkin tidak menyadari pentingnya sebuah tanaman bagi keseluruhan alam. Entah karena ukurannya kecil, dianggap sebagai gulma, hanya hidup di tanah belukar, dan sebagainya. Namun jika kita mau melihat lebih jauh setiap tanaman membawa manfaat, baik secara langsung untuk manusia maupun untuk makhluk hidup lain, misalnya kupu-kupu.

Sebelum kami pindah dari rumah yang ditempati selama kurang lebih 19 tahun, rumput di halaman belakang kami biarkan tertata apa adanya. Sesekali dipotong kemudian saat musim hujan tumbuh lagi dengan cepat dan terlihat berantakan. Tapi bagi kami sekeluarga, bahkan bagi anggota yang tak terlalu menyukai alam, pemandangan hijau-hijau di belakang rumah itu meneduhkan mata.

Di sanalah biasanya saya belajar mengidentifikasi kupu-kupu yang kerap hadir. Salah satunya adalah kupu-kupu berwarna putih yang selalu terbang dan hampir tak pernah diam. Sulit sekali memotretnya bahkan saat hinggap.

Pernah sekali tertangkap kamera hp saat sedang terbang namun tentu saja blur. Difoto pada Maret 2015.

wpid-img_20150317_080147.jpg

Hingga akhirnya kupu-kupu tersebut baru bisa tertangkap dengan nikon P900 dua tahun kemudian yang tentu saja bisa saya ambil dari jarak jauh. Itulah pertama kalinya saya melihat langsung secara jelas corak kupu-kupu Psyche alias Leptosia nina.

IMG_20170825_072101_581

Kupu-kupu tersebut terlihat sedang menghisap sari bunga songgolangit alias ketumpang alias gletang alias tridax daisy alias Tridax procumbens. Bunga ini berukuran sangat kecil dan tumbuh secara liar di tempat yang banyak sinar matahari. Di Indonesia tanaman ini dianggap sebagai gulma.

Tulisan lain menyebutkan bahwa kupu-kupu Leptosia nina juga menghisap bunga-bunga semak yang berukuran rendah seperti Tapak Liman (Elephanthopus scaber). 

Cocok sekali karena kupu-kupu ini sering terlihat di halaman belakang di mana banyak sekali terdapat tumbuhan Tapak Liman di sela-sela rumputnya. Ada cerita unik mengenai Tapak Liman saat kami masih tinggal di sana. Yaitu kami tidak tahu nama dan fungsi tumbuhan tersebut. Namun suatu hari, ada sanak famili yang datang ke rumah. Ketika tak sengaja membantu ibu di dapur, ia terbelalak melihat tanaman tersebut. Katanya, ini tanaman obat yang ia cari-cari. Selama ini ia harus mengeluarkan uang yang dianggap tidak sedikit untuk membeli tanaman tersebut di pasar. Langsung saja ibu mempersilakannya mencabuti tanaman sesuka hati. Senang karena ternyata kami memiliki tanaman yang dibutuhkan orang lain untuk kesembuhan, namun ironis karena kami tak tahu sama sekali perihal tanaman Tapak Liman tersebut.

Dan kembali menjadi ironi ketika kami sudah pindah, penghuni baru menutupi rumput-rumput di halaman belakang dengan puing untuk kemudian memberi lapisan semen permanen di atasnya. Saat main ke sana, sedih sekali melihatnya lapisan semen tersebut. Saya pun juga hanya bergumam dalam hati, tentunya tidak mungkin menyampaikan keberatan pada pemilik rumah yang baru karena kami tak punya hak apa-apa lagi di sana.

Mungkin penghuni baru tak mau repot menyapu halaman dan memotong rumput. Namun nyata bahwa ada resapan air yang menghilang. Ditambah lagi kami tak lagi punya Tapak Liman, tumbuhan semak liar, dan bukan tidak mungkin kupu-kupu tak terlihat lagi di sana karena kehilangan makanannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *