Cerita awal kehamilan ketiga: minggu ke-4

Pada pertengahan bulan Maret saya merasa ada yang aneh lagi dengan perut saya. Tapi saat itu masih menunda testpack dan menunggu hingga telat haid saja. Nah, saat 16 Maret 2018 itu pagi-pagi saya coba testpack dan ternyata hasilnya benar: positif!

Satu garis terlihat samar seperti sebelumnya namun kali ini lama kelamaan semakin terang.

P_20180316_062151

Alhamdulillah, doa A diijabah oleh Allah setelah 3 bulan lalu saya keguguran.

A sempat pada tahap tidak menerima-menerima-tidak menerima kalau calon adik bayinya kembali ke Allah.

Selama kurun waktu bulan Januari, ia kembali menolak jika kami katakan bahwa sudah tidak ada calon adik bayi lagi di perut saya. Ia kekeuh menolak hal tersebut padahal sebelumnya sudah bisa menerima. Ia kembali menciumi perut saya dan menceritakan banyak hal pada si perut. Ya sudah toh kami tidak mau memaksanya dan membiarkannya saja. Anggap saja ia sedang berdoa ingin adik lagi. Alhamdulillah doa A tersebut benar dikabulkan.

Pagi-pagi itu saya sudah mengambil nomor antrian di puskesmas kelurahan dekat rumah, namun ternyata hari Jumat itu bidan puskesmas tidak ada jadwal. Saya kembali pulang ke rumah dan berniat untuk ke pergi ke RSIA. Namun belum juga siap-siap, ternyata berita duka datang dari sekitar rumah. Mbah yang tinggal di depan rumah meninggal dunia setelah sekian hari berada di RS. Saya akhirnya membatalkan untuk pergi periksa kandungan pagi itu.

Pagi itu sedih sekali rasanya. Masih terbayang Mbah yang selalu menanyakan jika A terdengar menangis terus menerus. Sejak kepindahan kami dan di masa transisi di rumah baru, A memang kerap menangis dan kami pun baru menyadari banyak hal yang membuatnya tak nyaman. Maka sering sekali A terdengar menangis meski itu hanya sekedar kakinya terkena air di kamar mandi.

Namun meski sering meledek A karena sering menangis, Mbah juga kerap memuji A yang sering berceloteh riang dan shalawatan dengan nyaring. Semoga Mbah dilapangkan kuburnya, diterima semua amal ibadahnya, dan diampuni dosa-dosanya. Aamiin.

Setelah prosesi melayat dan pemakaman selesai, sore hari area depan rumah sudah mulai sepi dan akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke RSIA naik ojek online. Abang sudah berangkat kuliah sementara A di rumah bersama ibu.

Antrian tidak banyak hari itu, setelah ditimbang dan diukur tekanan darahnya saya pun bertemu dengan konsultan kehamilan dulu sebelum bertemu dokter kandungan. Mungkin ini yang membuat biayanya semakin mahal. Katanya ia yang akan mendampingi hingga melahirkan nantinya jika saya melakukan persalinan di RS tersebut. Setelah selesai konsultasi sejenak dan karena bingung juga mau nanya apa, toh saya juga datang karena baru mau periksa hamil atau tidak, akhirnya saya keluar lagi dari ruangan dan mengantri untuk masuk ke dokter kandungan.

Tidak berapa lama nama saya dipanggil dan mulailah diperiksa melalui USG transvaginal karena usia kandungan yang diperkirakan masih sangat kecil.

Alhamdulillah setelah diperiksa, kantong rahim sudah benar terlihat meski janin masih sangat kecil.

P_20180316_160047

Hal yang bikin miris selanjutnya adalah uang saya kurang haha. RS itu rupanya sudah diakusisi dan berganti manajemen. Biayanya pun menjadi berlipat ganda. Berbeda jauh dibandingkan saat dulu awal kehamilan pertama saya sempat periksa di RS tersebut.

Total biaya konsultasi, periksa ke dokter kandungan, beserta USG 3 dimensi Rp700.000, biaya vitamin kalau tidak salah Rp 600.000 dan itupun saya sudah meminta ditebus di luar RS tersebut saja.

Buat yang lain mungkin biaya segitu masih wajar, buat saya mahaaaal haha. Jauh di luar perkiraan saya yang sekitar Rp 350.000 paling maksimal. Fix ini mah pindah RS haha.

Di akhir bulan Maret selanjutnya saya pun menuju puskesmas dengan BPJS. Ceritanya menyusul yaps.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *