Kehamilan ketiga: menjelang 12 minggu

Yup, meski kehamilan bulan November lalu sempat keguguran di usia kandungan baru 5 minggu, tapi tentunya tetap dihitung, kan ya? Jadinya yang ini adalah kehamilan ke-3. Saya memang belum cerita semuanya di blog mengingat di minggu-minggu awal sempat parno berlebihan hingga rasanya mau ke dokter kandungan dan minta di-USG tiap minggu aja saking takutnya dan ingin tahu bahwa rahim benar-benar bertambah ukurannya, tidak seperti insiden sebelumnya. Sampai Abang sempat marah karena merasa itu tidak perlu. Ya keles tiap minggu minta di-USG. Pada akhirnya saya menenangkan diri sendiri bahwa bismillah saja, jika memang tidak ada keluhan atau flek yang keluar seperti kemarin berarti insyaa Allah janin dan rahim akan berkembang.

Alhamdulillah pada awal bulan April dan kontrol ke-2 saat itu rahim terlihat sudah berkembang ukurannya, janin pun sudah terlihat lebih besar. Nah, harusnya awal minggu ini sudah kontrol lagi, namun belum juga sampai ke dokter kandungan. Saya juga masih ada PR terkait periksa ke dokter jantung lagi, apakah masih harus cek jantung dan melahirkan di RS yang ada perlengkapan medis khusus untuk jantung seperti proses persalinan pertama dulu atau cukup melahirkan di bidan saja.

Perbedaan antara kehamilan sebelumnya dan sekarang di trisemester pertama rasanya nggak jauh beda. Bedanya waktu itu masih kerja dan saya muntah-muntah di toilet kantor. Jadi kerjaannya bolak-balik toilet saja setiap habis makan untuk memuntahkan lagi semuanya. Kalau yang sekarang setidaknya sehari muntah 1-2 kali di rumah. Syukurnya juga, Abang kan sedang tugas belajar sehingga kalau nggak kuliah ya bisa di rumah ikut menjaga A. Ia juga bahkan mencuci tumpukan piring, mencuci baju di mesin cuci, hingga menjemurnya. Karena nyuci dan jemur memang di lantai atas sehingga nyaris saya nggak pernah nyuci atau jemur naik tangga kecuali memang ia sudah nggak keburu.

Parahnya lagi, saya nggak kuat tiap nyium wangi nasi sama masakan. Sama deh, kaya waktu hamil A dulu: nggak bisa makan nasi. Tiap hari makannya roti bakar saja. Kalau sekarang bisanya makan kebab hueeeee…. Karena nyium masakan atau minyak panas di wajan juga muntah-muntah jadinya dapur nggak ngebul hihi, beli aja yak makanannya. Nyium rendang pun yang biasanya masakan favorit dari jaman TK tuh macam mabok gitu. Malah hoek-hoek…

A biasanya ikut lari ke kamar mandi kalau saya mau muntah lalu nanyain: “Ama, muntah apaaan?” Maksudnya makanan apa lagi yang keluar gitu. Habis itu dia lari lagi ke Abang sambil laporan atau ngajak nemenin saya di kamar mandi huhuhu. Makasi ya, Nak.

Pernah juga dia kayanya sedih gitu liat saya muntah-muntah heboh, trus langsung peluk dan cium perut sambil bilang, “Dede, sehat-sehat ya… jangan muntah-muntah terus.”

Ah, ai lop yu A!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *