Kontrol jantung (pertama) di tengah kehamilan

16 Mei 2018

Jadi, mulailah saya kontrol jantung kembali di RS jantung di Jakarta. Saat itu pun sengaja tidak memilih dokter yang dahulu. Alasannya:

  1. Dokter yang dulu itu selalu bilang saya nggak kontrol lagi juga nggak pa-pa, toh udah sembuh.
  2. Karena udah nggak pernah periksa jadi nggak punya jadwal dokter terbaru.
  3. Nggak pa-pa lah ganti dokter, toh sudah 4 tahun berlalu sejak periksa terakhir.

Kami tiba sekitar pukul tujuh di RS. Karena saya tidak melalui jalur BPJS maka saya termasuk pasien mandiri namun antriannya tetap sama dengan pasien BPJS. Saat itu saya baru tahu kalau cara pengambilan nomor antrian lewat mesin juga sudah berbeda dengan 4 tahun lalu. Sekarang, jatah untuk pasien yang datang tanpa perjanjian seperti saya ini hanya 5 orang. Selebihnya sekitar 20-an orang yang datang dengan perjanjian.

Sewaktu dibantu satpam untuk mendaftar nomor antrian, tertulis bahwa slot pasien tinggal 1 orang saja. Langsung buru-buru saya pencet OK.

Ampun deh, dokter asal milih, slot tinggal satu udah nggak pake mikir lagi 😂.  Saya pun dapat nomor antrian yang lumayan jauh. A 00054 kalo nggak salah. Udah nggak ngerti lagi deh gimana urutannya, beda banget sama yang dulu. Bahkan loketnya pun sudah dipindah.

Saya bertanya sejenak pada bagian informasi kira-kira berapa lama antrian tersebut. Menurut petugas, jika saya datang tanpa perjanjian dan tiba sekitar pukul setengah delapan maka nantinya nomor antrian saya baru akan dipanggil pukul setengah sebelas. Itu baru daftar di loketnya ya, belum antrian di dokternya.

Petugas berpesan bahwa kalau di poli umum memang harus banyak bersabar. Kalau mau cepat bisa ke bagian poli eksekutif namun biayanya sekitar Rp 400.000.

Baiklah… 😥.

Saya pun menanti saja di bangku sambil memerhatikan layar yang berisi panggilan nomor antrian. Makin diliatin makin nggak ngerti. Karena ada kode huruf tertentu yang berbeda-beda dan dipanggil bersahut-sahutan dari speaker otomatis. Misalnya ZB 0006, F0017 dan seterusnya. Mbuh maksude opo.

Sementara saya menanti panggilan, A dan Bapake nongkrong dekat kolam ikan di bagian paling ujung rumah sakit. A menolak untuk berada di dalam lobi, yang ada malah rewel karena dia tak suka lihat keramaian.

Sambil duduk-duduk, mengobrol lah saya pada seorang ibu. Rupanya ibu tersebut mengambilkan nomor untuk anaknya. Sementara si anak masih di kost-an. Saya bertanya lebih lanjut berapa usia si anak kalau boleh tahu. Karena dulu, biasanya saya juga dikira mengantar orang lain untuk periksa, bukan saya yang akan diperiksa.

Si ibu bercerita bahwa anaknya usia 18 tahun, baru lulus SMA, dan tinggal di Jambi (kalau tidak salah ingat). Anaknya terdeteksi jantung bocor sejak beberapa bulan lalu dan dirujuk ke Jakarta untuk operasi. Namun, karena si anak akan ujian kelulusan sehingga mereka pun menunda pemeriksaan ke Jakarta hingga setelah rangkaian ujian selesai.

Si ibu bercerita tentang tingginya harga kost dan makanan sehari-hari yang harus ia beli setiap harinya. Ia sudah sekitar sebulan di Jakarta menanti hasil rekam medis dan bagaimana tindakan selanjutnya.

“Mahal banget ya, Dek. Seminggu buat kost kami habis Rp1.000.000, belum buat makan. Di sini Rp13.000 hanya nasi dan lauk seadanya. Kalau di rumah sih bisa banyak banget dapatnya. Habis ini kalau belum ada kepastian operasi, saya mau pulang dulu aja.” Cerita sang ibu.

Saya mendengarkan dan sesekali menimpali. Memang tetap masih ada yang bisa kita syukuri. Meski saya harus bolak-balik ke RS, setidaknya saya masih satu kota dengan RS ini. Pun dengan si ibu, meski keluar biaya banyak namun setidaknya ia masih mampu untuk membayar ongkos PP pesawat berdua anaknya, membayar kost, dan untuk kebutuhan makan. Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak punya biaya bahkan untuk ongkos ke RS sementara rumahnya jauh di pelosok?

Menjelang pukul setengah sebelas, nomor antrian pada layar bergerak ke arah 0052. Namun kode huruf di depannya tidak sama dengan nomor antrian yang saya punya. Maka saya tetap menanti. Hingga akhirnya nomor antrian berubah menjadi 54 barulah saya datang ke jalur antrian yang rupanya memang selalu mengular. Saya bertanya pada satpam lalu ia menyuruh saya langsung berdiri di antrian. Sementara orang di depan saya berkata bahwa harusnya saya antri dari tadi karena nomor saya udah lewat. Duh! Padahal nomor saya di layar baru muncul semenit yang lalu. Nggak tahu lah sistem antrian ini bagaimana.

Antrian terus mengular hingga akhirnya terbagi ke 5 petugas loket. Jadi intinya kalau seperti saya, misalnya dapat nomor 50-an, nah begitu kira-kira nomor antrian sudah merujuk pada angka 40-an langsung aja berdiri di jalur antrian, nggak perduli dengan kode hurufnya yang beda. Karena toh ketika sampai di ruangan dalam, di loket mana saja yang kosong ya kita langsung daftar di situ, berapapun kode hurufnya. Pokoknya antri dengan tertib saja.

Singkatnya setelah antrian geser-geser bangku dan akhirnya saya sampai di meja salah satu petugas, saya membayar biaya konsul hari itu sebanyak Rp 160.000. Namun, petugas tidak punya kembalian sehingga nanti siang saya disuruh balik lagi ke loket.

Yo wess, saya langsung ke ruang tunggu lagi dan bertanya pada petugas di depan ruang EKG. Sebelumnya saya pikir kalau lagi hamil nggak boleh EKG, ternyata boleh. Jadilah saya EKG lagi. Dan sesudahnya saya mulai curiga kok saya ditanya ulang tentang keluhan awal dan sebagainya. Jadi semacam observasi awal. Padahal saya kan pasien-lama. Pikir saya. Tapi ya sudahlah.

Selesai EKG dan diuku tekanan darah, saya pun menunggu di depan ruang dokter. Menjelang jam 12 saya sudah was-was karena biasanya ada jeda istirahat siang untuk dokter. Sementara saya pasien paling terakhir, kemungkinan bakal dilanjut habis dzuhur.

Tapi syukurlah ketika jam 12-an nama salah satu pasien dipanggil lalu sesudahnya nama saya. Kami duduk di dua bangku yang sudah tersedia tepat di depan pintu masuk. Rupanya sekarang pasien dipersilakan masuk ke dalam ruangan dokter satu per satu, tidak seperti dulu di mana tiga orang pasien masuk ke dalam ruang periksa sekaligus. Saat itu mungkin dilakukan untuk mempercepat antrian pasien yang demikian panjang dan perawat tidak perlu bolak-balik meneriakan nama pasien berulang-ulang sementara yang dipanggil misalnya sedang makan di kantin, ke toilet, ataupun berjalan-jalan. Namun efek lain dari tiga pasien masuk sekaligus adalah tidak ada privasi pasien di situ. Semua yang dibicarakan akan juga didengar oleh pasien lain.

Kali ini, pasien yang nomornya berurutan akan duduk di bangku yang sudah disediakan dekat pintu masuk atau dengan kata lain, “Bapak/Ibu jangan ke mana-mana, habis ini diperiksa.”

Saya mengobrol dengan pasien di sebelah saya. Kami, dua pasien yang tersisa. Mbak yang usianya juga tidak terlampau jauh dari saya itu menjalani operasi jantung sekitar 6 bulan lalu dan sekarang hendak konsultasi lagi karena beliau juga sedang hamil.

Saat si Mbak masuk dan ibu dokter sempat keluar menanyakan sesuatu hal pada perawat itulah, saya baru tahu kalau dokter yang masih sangat muda tersebut adalah dokter pengganti.

“Duh, gimana ya ini pasiennya hamil. Dokter masih rapat.” Katanya kebingungan.

Karena tidak juga kunjung menemukan solusi, akhirnya sambil menunggu saya dipersilakan masuk duluan. Saya pun bercerita tentang riwayat MVP dan menyerahkan surat pengantar dari dokter kandungan di BWCC. Sewaktu ia buka dan baca, ia menepuk jidatnya dan bilang, “Haa.. Ini hamil jugaa”.

Saya mau ngikik saat itu juga sekaligus minta maaf karena sudah bikin seorang dokter kebingungan. Dia tentunya tidak mau membuat keputusan kilat tanpa bertanya lebih dulu pada dokter senior, tapi sejak tadi bu dokter senior tak juga selesai rapatnya.

“Ibu, waktu terakhir ke sini kapan ya?” Tanya Bu dokter-muda dan perawat.

“Tahun 2014.” Jawab saya sambil agak horor menatap lembaran rekam medis saya yang cuma satu lembar yaitu EKG yang tadi pagi.

“Waduh… Pasien yang sudah 3 tahun ke atas berkasnya udah dihancurkan..” Jawab Bu dokter dan perawat sambil berpandangan dan geleng-geleng.

I was like:

Hermione gif

“ONDE MANDEH”

😱😨

Pantas saja tadi saya di-observasi ulang. Pantas saja rekam medis saya cuma 1 lembar.

TRUS NASIB GUEH GIMANAAAH? 😭

Padahal maksud memilih RS tersebut adalah karena di tempat itulah semua rekam medis sejak awal saya terdeteksi MVP berada.

Pada akhirnya dua pasien terakhir ini diminta menunggu lagi untuk nantinya dipanggil lagi, menanti saran dan keputusan dokter senior tentang ibu hamil ini. Saya menunggu sambil sebenarnya sudah kehausan tapi botol minum dibawa A dan Abang.

A diminta datang ke ruang tunggu rupanya masih menolak. Hingga akhirnya saya mau beli minum saja dari mesin di dekat lobi. Pas lihat dompet, hueee nggak ada uang. Dan lalu saya ingat di loket administrasi tadi masih ada uang kembalian saya Rp40.000.

Akhirnya saya izin ke suster untuk menyingkir dari ruang tunggu, beli minum dulu. Ketika mengambil kembalian, rupanya uangnya lembaran Rp20.000 dan tidak bisa dipakai untuk beli minum di mesin. Ya Allah, sedih banget ini ibu hamil yang kehilangan berkas malah kehausan 😭.

Akhirnya saya telpon A lagi supaya dia datang. Syukurlah A mau datang karena saya bilang ruang tunggunya sudah sepi. Saya pun menenggak air minum yang sudah dinanti-nanti sejak tadi.

Tidak lama kemudian datanglah keputusan dari bu dokter bahwa saya dan pasien hamil satu lagi diharuskan untuk echo ulang. Kami pun menuju meja perjanjian untuk menentukan jadwal echo.

Si ibu rupanya masih beruntung karena antri di depan saya dan masih mendapat slot echo di bulan Mei, sementara saya tidak. Saya baru bisa echo nanti bulan Juni. Dan dengan biaya mandiri maka biaya echo yang nantinya harus saya keluarkan adalah Rp600.000.

Doh, sumpeh gueh pusiang.

Hermione gif 1

Akhirnya kami pulang tanpa keputusan apa-apa, kecuali jadwal echo bulan depan. Habis itu kami langsung menuju warung nasi padang karena saya sungguh kelaparan! Sementara Abang dan A tadi sudah makan sambil nungguin saya.

Meski siang itu masih tanpa kepastian, namun setidaknya di siang itu juga saya sanggup menghabiskan nasi plus rendang 1 porsi. Padahal selama dua setengah bulan sebelumnya mencium aroma nasi saja mual-mual. Maka fix sesudah siang itu berarti menghilang pula rasa mual dan muntah yang mengikuti selama dua setengah bulan ini.

We’re then going home with stomach full and welcoming the blessfull of Ramadhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *