Periksa kehamilan dengan BPJS tahap 2: minggu ke-13

Awal Mei 2018

Selama bulan April, bidan puskesmas turun ke lapangan untuk sosialisasi sehingga tidak ada di tempat. Maka, di hari Selasa awal bulan Mei baru saya pergi ke bidan puskesmas kelurahan.

Saya mengambil nomor sekitar pukul 6 lewat dan mendapat nomor antrian 10. Kemudian saya pulang lagi dan nantinya akan kembali lagi pukul setengah 8. Olahraga benerr ya bolak-balik, kagak papa dah. 😂

Singkat cerita habis saya balik lagi dan daftar di loket, saya dapat nomor urut 4 di poli kebidanan. Saat itu kira-kira pukul setengah 9. Bidan sudah datang namun ibu hamil di sebelah saya yang mendapat nomor urut 1 tidak kunjung dipanggil hingga pukul setengah 10-an. Rupanya sistem sedang offline.

Tiga ibu hamil pun menanti panggilan sambil bercerita kehamilan masing-masing. Ibu 1 bercerita bahwa ini kehamilan ketiganya, sudah pakai KB pil dan sama sekali tidak telat minum tapi ia memang sempat berganti pil. Eeeh ternyata malah hamil juga. Jarak antara anak ke-2 dan yang sekarang adalah 3 tahun. Ibu ke-2 bercerita bahwa ini adalah kehamilan keduanya namun jarak dengan anak pertama adalah 17 tahun! Menurutnya ia sudah lupa bagaimana rasanya hamil.

Lha saya yang baru 3 tahun aja juga udah lupa haha. (Ni makanya disuruh inget lagi kali).

Akhirnya bidan mulai memanggil. Ketika tiba giliran saya, komentar pertamanya tentu saja adalah berat yang kuraaaaaang dan lila (lingkar lengan) yang juga kuraaaang banget 😥.

Selama konsultasi dengan bidan itu, sarannya adalah:

1. Makan dengan metode double protein. Dan malah nggak disarankan banyak makan nasi. Jadi kalau makan, lauknya aja duluan yang banyak mengandung protein dengan jumlah double. Misalnya telur ceplok dua buah, ikan goreng dua ekor, dan seterusnya. Kalo masih laper makan sayur, kalo masih laper lagi baru makan nasi.

Hoo… Baiklah. Selama ini kan emang saya gampang kekenyangan gitu karena perutnya cepat penuh. Jadi harusnya justru karbohidrat belakangan. Ibu bidan sebenarnya mau kasi rujukan ke poli gizi supaya saya bisa konsultasi tapi petugas sedang turun ke lapangan sehingga hari itu belum bisa dibuat rujukan.

2. Waktu saya cerita panjang lebar tentang riwayat MVP jantung dan kehamilan, si ibu bidan jadi bingung. Ia nggak bisa serta merta kasi surat rujukan BPJS supaya saya bisa ke RS Harapan Kita. Karena itu berarti melompati faskes. Ditambah lagi faktor utama adalah rujukan TIDAK BISA DIBERIKAN HANYA BERDASARKAN OBROLAN PASIEN.

Itu saya kasi kapital biar nggak ada yang salah lagi dan kekeuh minta rujukan hehe.

Jadi maksudnya kalo cuma obrolan kita doank bahwa saya punya riwayat bla bla bla tuh nggak bisa, harus ada bukti otentiknya. Nah, kenapa kemaren saya nggak bawa? Ya karena emang nggak ada. Rekam medis EKG kan di RS Harapan Kita semua. Lagipula hari itu saya baru mau nanya doank tentang proses lahiran di puskesmas bla bla bla. Jadi kalo nggak ada indikasi medis masalah apa-apa kan boleh lahiran aja di puskesmas pakai BPJS dengan catatan:

* sudah menjadi anggota BPJS

* sudah periksa kehamilan di puskesmas (tertuang dalam buku pink ibu dan anak) sebanyak minimal 4 kali. Jadi kalo belum pernah periksa terus tiba-tiba mau lahiran di puskesmas pakai BPJS ya nggak bisa.

Ibu bidan akhirnya menyarankan saya ke RS Harapan Kita dengan berbayar dulu alias pasien mandiri. Nanti di sana baru tanya dokter jantung bagaimana dengan kehamilan dan persalinan kali ini.

Si ibu sempet bingung juga gitu waktu nyaranin saya konsul. Jadi dikiranya tuh kalo saya konsultasi ke dokter kandungan di situ sekaligus ada dokter jantungnya juga 😬. Oalaaah, pantes dari tadi nggak nyambung-nyambung. Akhirnya saya jelasin lagi kalo RSIA dan RS jantung Harapan Kita itu beda manajemen, dan bukan berarti semua yang lahiran di sana ya ada riwayat jantung juga. Baru deh si ibu bidan ngeh hihi.

3. Terapi air putih.

Jadi berdasarkan hasil urine sebelumnya dari lab puskesmas kecamatan, hasil urin saya tidak terlalu bagus. Keruh gitu warnanya dan tersisa trace entah apa saya lupa. Namun bakteri dan semacamnya negatif. Memang saat itu saya akui kurang banget minum air putih karena sedang mual-mualnya. Jadi mulai saat itu saya disuruh terapi air putih, maksudnya minum air putih sebanyak mungkin supaya nantinya diharapkan jika ulang hasil urin lagi maka hasilnya lebih baik.

4. Rujukan ke poli gigi

Bagi ibu hamil yang periksa di bidan puskesmas, selain mendapat rujukan untuk periksa darah dan urin maka juga akan mendapat rujukan untuk periksa gigi.

Selesai konsultasi saya diberi surat rujukan untuk ke poli gigi yang ruangannya terletak di sebelah. Cukup ketuk pintu saja, nggak pakai antri lagi dari ulang.

Syukurlah setelah diperiksa tidak ada masalah yang cukup besar pada gigi saya. Memang sih ada yang bolong. Namun dokter gigi hanya menyarankan untuk rajin sikat gigi saja supaya tidak sakit gigi. Ia pun membuat catatan balik untuk bidan puskesmas.

Habis itu saya balik lagi ke ruangan bidan dan dibuatlah tanggal untuk pertemuan selanjutnya sambil menanti saya konsul ke dokter jantung di Harapan Kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *