Akhirnya dapat rujukan (tahap 1)

7 Juni 2018

Awal Juni itu saya kembali lagi ke bidan di puskesmas untuk ke-2 kalinya. Alhamdulillah kali ini lingkar lengan bertambah 1 cm, dan berat badan saya naik 0.8 kg. Yah lumayan lah mengingat bulan-bulan kemaren yang susah masuk makanan.

Pada kali itu, saya bercerita pada bidan tentang jadwal echo jantung yang sudah penuh di bulan Mei dan rekam medis yang sudah tak ada jejaknya lagi di RS Harapan Kita.

(In case you don’t read the whole story), dengan adanya riwayat MVP jantung bertahun-tahun sebelumnya maka saya diwajibkan meminta surat keterangan dari dokter jantung mengenai kejelasan persalinan nantinya, apakah memungkinkan dengan persalinan vaginal dan apakah wajib melakukan persalinan di RS yang harus ada dokter jantungnya atau bisa di puskesmas/klinik bersalin saja.

Meski statusnya adalah “riwayat MVP” alias kondisi jantung saya sekarang sudah baik dan menutup, namun tetap saja saya harus bertanya dulu pada dokter jantung, sama seperti waktu kehamilan A.

Karena kali ini menggunakan BPJS, maka ada rute panjang untuk mendapatkan surat rujukan dari faskes tingkat 1.

Baca juga:

Periksa kehamilan dengan BPJS

Di ruang bidan itu, saya pun memberikan hasil echo tahun 2013 dan 2014. Hasil USG jantung tersebut akhirnya berhasil saya temukan setelah bongkar-bongkar kotak di rumah. Syukurlah setidaknya masih ada yang tersisa dari semua rekam medis di RS yang katanya sudah dihancurkan karena lebih dari 3 tahun. Hasil echo memang dibawa pulang sementara hasil EKG seluruhnya ditinggal di RS. Itupun saya bawa bukti terakhir dengan was-was karena hasil echo tahun 2007 saat pertama kali divonis MVP tak jua berhasil saya temukan di rumah. Itulah bukti sah-nya, sementara hasil tahun 2013 dan 2014 adalah hasil MVP yang sudah menutup alias negatif.

Bidan sebelumnya memang berkata bahwa saya harus punya bukti setidaknya satu lembar saja mengenai MVP supaya bisa dibuat rujukan.

Baca juga: Periksa jantung saat kehamilan

Setelah membaca sekian menit dan terlihat menimbang-nimbang, bidan akhirnya berkata bahwa ia akan berkonsultasi dengan dokter di poli umum terlebih dulu.

Setelah itu bidan mengeluarkan alat USG dua dimensi yang bisa mendeteksi suara detak jantung. Sayang sekali hari itu tidak terdengar jelas, suaranya bercampur dengan gerakan usus saya sehingga sangat bising.

Saya diminta untuk bertemu petugas kesehatan di poli gizi lantai 1 untuk berkonsultasi tentang masalah underweight, namun sayang sekali ketika datang ke ruangan ternyata petugas gizi baru saja keluar puskesmas untuk tugas lapangan. Saya akhirnya naik lagi ke ruang bidan untuk laporan. Kami akhirnya bersama-sama turun ke poli dokter umum untuk mengetahui kelanjutan rujukan saja.

Kasus ibu hamil dengan MVP macam saya rupanya sangat jarang sehingga petugas, bidan, dan dokter terlihat cukup bingung dengan kode beraneka diagnosa yang ada pada sistem komputer. Saya menanti sambil terus memandangi mereka yang berdiskusi serius membahas ibu hamil dan MVP.

Di pertemuan sebelumnya, bidan pun sempat bingung apakah harus merujuk saya ke poli jantung atau ke poli kandungan. Namun hari itu akhirnya diputuskan bahwa saya akan mendapat rujukan ke poli kandungan di faskes tingkat selanjutnya.

Saya kembali diminta menunggu di luar ruangan karena sistem sedang offline. Petugas kemudian membuat surat rujukan dan memberikannya pada saya. Alhamdulillah setidaknya mulai ada titik terang sedikit mengenai di mana saya boleh melakukan persalinan. Saya pun pulang dengan riang karena akhirnya memiliki surat rujukan.

Sampai di rumah, saya takjub pada A yang menanti dengan sabar. Selama kurang lebih 2 jam ia bermain sendiri. Ia bermain lego, membaca buku sendiri, dan bermain role play sendiri. Rupanya Abang masih terlelap dan ngantuk luar biasa.

Siang harinya, ada telepon kembali dari puskesmas bahwa ada kesalahan sedikit pada surat rujukan dan saya diminta kembali ke puskesmas. Namun, karena hari sudah siang dan saya pikir tidak harus terburu-buru hari itu juga jadi saya mengurungkan datang di hari yang sama.

^^^^^^^^^^

Dua hari kemudian, Abang mengeluhkan sakit kepala dan berniat ke puskesmas. Saya pun menitipkan lembaran surat rujukan yang katanya salah pada Abang supaya sekalian diurus.

Siangnya, ketika sudah pulang Abang bercerita bahwa tidak bisa menggabungkan dua hal sekaligus dalam satu nomor antrian. Maksudnya dengan nomor antrian yang sama digunakan untuk Abang berobat dan juga mengurus surat saya.

Jadi ternyata nomor antrian yang pertama digunakan untuk Abang berobat, lalu Abang keluar poli umum dan kembali mengambil nomor antrian di mesin (yang pastinya sudah nomor urut sekian puluh), lalu menanti lagi untuk dipanggil demi surat rujukan saya yang katanya salah itu. Ternyata katanya sistem saat itu masih juga offline.  Baiklah, yang penting sudah ada rujukan dan esok hari kami berniat ke RS lanjutan.

^^^^^^^^^

Esok harinya, saya iseng bertanya pada kawan yang bekerja di RS dan mengerti surat rujukan. Ternyata menurut kawan saya itu, surat yang saya punya tidak bisa digunakan karena tidak menggunakan format BPJS. Memang sistem sedang offline namun tetap saja formulir yang digunakan haruslah berformat BPJS sementara yang saya punya hanyalah lembaran biasa. Karena jika tidak ya saya nantinya akan dianggap pasien Non BPJS. Waduh, kalo kaya gitu buat apa donk minta rujukan.

12 Juni 2018

Akhirnya pagi-pagi saya ngibrit lagi ke puskesmas. Syukurlah sepertinya sudah banyak pasien yang mudik, karena saya datang setengah 7 pagi dan mendapat nomor antrian pertama.

Pukul setengah 8 saya pun kembali lagi. Pasien yang surat rujukannya bermasalah rupanya tidak hanya saya tapi masih ada juga beberapa pasien lain. Ketika nomor urut 1 dipanggil, saya pun bertanya tentang surat rujukan berformat BPJS yang dimaksud. Petugas berkata bahwa sistem sedang offline dan di bagian bawah surat sudah dituliskan keterangan offline tersebut sehingga seharusnya tidak menjadi masalah. Mereka juga berkata bahwa mereka tidak memiliki surat rujukan yang berformat BPJS. Setelah diyakinkan tidak akan ditolak akhirnya saya pulang kembali ke rumah dan bersiap ke RS.

Baru 5 menit tiba di rumah dan menyantap sahur sarapan pagi, saya dapat telepon lagi dari puskesmas bahwa 5 menit setelah saya pulang, mereka mendapat telepon dari pihak BPJS bahwa rujukan dengan lembaran manual sudah tidak berlaku lagi per pagi itu. Sehingga surat rujukan diharuskan yang berformat BPJS. Petugas berkata bahwa mereka sedang dikirimkan format manualnya dan akan diperbanyak terlebih dulu. Nantinya saya pun diminta kembali ke puskesmas. Mendengar nada suara saya yang sedikit keberatan, petugas di telepon berkata bahwa toh rujukannya manual dan ditulis tangan sehingga tidak akan lama. Okeh deh. Saya ngomongnya di telepon sambil ngunyah-ngunyah gitu, ketahuan deh nggak puasa, laper berat, Cyiin…

Sekitar pukul 9 kurang saya datang lagi ke puskesmas. Syukurlah nggak usah ambil antrian lagi, pan ini bukan salah gueh 😭.  Saya laporan aja ke petugas loket bahwa saya yang tadi ditelepon.

Tunggu punya tunggu. Ternyata kertas formulir masih diperbanyak. Saya terus menanti hingga pukul 10 dengan juga bolak balik ke petugas loket.

Ada keluarga pasien lain juga yang tadi saya tahu mendapat nomor antrian 2 (sesudah saya) dan sedang berdiskusi bagaimana baiknya. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi karena sudah berada di puskesmas sejak setengah tujuh untuk surat rujukan orangtuanya yang belum juga jadi. Petugas berkata bahwa sistem masih juga offline sehingga masih mencoba untuk diperbaiki. Keluarga pasien tersebut berkata lagi bahwa tadi petugas kan berkata bahwa surat rujukan akan dibuat manual sehingga tidak harus menunggu sistem toh? Lho, lho..  Saya baru ngeh jadi dari tadi bukan nunggu lembaran diperbanyak tapi nungguin sistem? Hueee tadi di telepon saya juga kan dibilang nggak akan lama karena toh cuma tulis tangan.

Nek aku mboten masalah lho pake rujukan manual juga. Sing penting aku ke RS hari itu 😭. Rupanya petugas yang tadi berkata di telepon dengan petugas yang menunggu sistem menyala adalah dua orang yang berbeda.

Akhirnya saya tanya lagi ke petugas dan menegaskan bahwa saya butuh format manualnya saja juga nggak masalah, karena saat itu sudah hampir jam setengah 11. Mau dapat antrian di RS jam berapa? 😥

Petugas pun membuatkan surat rujukan manual. Ditunggu lagi sekitar lima belas menit dan barulah saya ngebut kelilingan naik sepeda cari fotocopy yang buka. Mboten enten! Tutup kabeh!

Setelah pulang dengan surat rujukan-baru yang belum di fotocopy, langsung kami pesan taxi online ke RS. Syukurlah masih keburu.

Namun, jangan senang dulu. Masih ada drama lagi di bagian perawat sebelum saya menghadap dokter kandungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *