Akhirnya dapat rujukan (tahap 2): bertemu dokter kandungan

Selasa, 12 Juni 2018

Hari itu akhirnya kami bertiga ngebut ke RSUD setelah menanti sejak pagi untuk dapat rujukan dari puskesmas.

Sampai di RS kami menuju poli kandungan di lantai 2. Saya pun hendak menemui perawat di meja dekat ruang tunggu, sementara Abang menemani A bermain perosotan. Akhirnya A mau juga masuk ke dalam RS setelah tadi menolak mentah-mentah bahkan untuk sekadar masuk ke lobby.

Saya menanti cukup lama di meja perawat yang kosong. Di dekat situ ada ruang tunggu pasien yang diisi hampir seluruhnya oleh ibu hamil dan keluarganya. Setelah perawat datang, ia meminta saya naik ke timbangan dan mengukur tekanan darah saya.

Perawat memeriksa buku kehamilan saya dan menyadari bahwa hari itu pertama kalinya saya akan periksa di RS. Ia mengajukan pertanyaan tentang kenapa saya dirujuk ke RS dan tidak di puskesmas saja. Saya bercerita mengenai riwayat MVP dan perawat pun mulai memberikan saran.

“Kalau ibu mau, ibu bisa dengan dokter B saja, bukan dengan dokter A seperti hari ini. Kalau menurut saya, dokter B punya pengalaman dengan pasien yang kasusnya mirip dengan ibu. Tidak sama tapi juga bermasalah jantungnya. Nah, tapi kalau ibu mau sama dokter B itu hari ini sudah penuh dan baru ada lagi hari Kamis besok. Nantinya kalau ibu mau berganti dokter sekarang ya ibu tidak bisa berubah lagi besok-besok.”

Saya akhirnya berdiskusi sejenak dengan Abang. Hingga akhirnya diputuskan bahwa kami akan kembali hari Kamis untuk bertemu dokter B, tepat 1 hari sebelum hari raya Idulfitri. Saya pun membatalkan nomor antrian hari itu dan melakukan perjanjian untuk hari Kamis.

14 Juni 2018

Kami datang pukul delapan kurang sekian menit. Hal pertama yang harus dilakukan adalah verifikasi kehadiran terlebih dulu. Kami lalu menuju poli kandungan dan melakukan timbang badan, tensi, dan memberikan buku kehamilan pada perawat. Setelah itu saya menanti di bangku ruang tunggu.

Dokter ternyata belum datang saat itu. Kemudian terdengar info bahwa ia sudah datang tapi sedang melakukan tindakan operasi caesar sebanyak tiga pasien.

Para ibu hamil dan keluarganya sudah gelisah. Beberapa mengeluh dan ada juga yang meninggalkan ruang tunggu. Sekitar pukul setengah sebelas barulah nama saya dipanggil paling pertama.

Saya terpaksa masuk sendiri karena A tidak mau masuk. Begitu masuk ke dalam ruangan saya sudah dag dig dug sambil bercerita bahwa dulu pernah memiliki riwayat MVP.

Saya kemudian diminta berbaring oleh perawat. Dokter lelaki itu kemudian memeriksa rahim saya dengan USG sejenak, tapi tidak menjelaskan apa-apa terkait janin ataupun apa yang terlihat di USG namun langsung menembak dengan berkata, “Ini nanti anestesinya beda dari yang lain.”

And i said, “What?!”

Saya kembali ke meja dan mulai bertanya apakah saya benar-benar tidak bisa melakukan persalinan normal? Jantung mulai dag dig dug nggak karuan.

“Maksudnya gimana ya, Dok? Harus operasi gitu?”

“Iya. Karena jantungnya cepat.”

“Jantung saya atau jantung bayinya ya?” Saya jadi mengingat-ingat ini sekarang lagi di poli jantung apa di poli kandungan ya? Tadi dokter ini juga kan nggak periksa detak jantung saya sama sekali.

“Jantung ibu.”

“Lho, tapi kan sudah menutup katupnya.” Jawab saya lagi.

“Ini lihat.” Katanya menunjukkan hasil echo saya tahun 2013 dan 2014. Ia menunjuk sejumlah angka yang dinyatakan dalam bentuk %.

“Kemampuan jantung ibu sudah menurun. Sewaktu hamil pertama hanya 69%. Kalau mau normal itu minimal 70%. Di bawah itu harus operasi. Ini hasil tahun 2014, sekarang kemungkinan besar menurun lagi kemampuannya. Lama kelamaan bisa terancam gagal jantung.”

What the hell?

images

“Tapi sebentar.” Saya mulai berargumentasi. “Yang sekarang kan belum dievaluasi lagi. Kalau hasilnya baik, masih ada kemungkinan nggak operasi kan?” Tanya saya yang sudah sangat tidak konsentrasi.

“Saya tidak menyarankan untuk itu.”

Ia kemudian menyerahkan surat rujukan ke dokter jantung di RS yang sama. Saya hendak bertanya lagi tapi baik perawat maupun dokter kandungan enggan menjawab lagi dan menyuruh saya menunggu hasil dari dokter jantung saja nantinya. Hari Senin minggu depan saya dijadwalkan bertemu dokter jantung.

Saya masih hendak bertanya tapi jawabannya tetap sama: “Nanti saja setelah hasil jantung keluar.”

Blah!

Saya keluar ruangan dengan kesal dan panik. Saya marah karena ia dengan seenaknya bilang kemampuan jantung menurun padahal ia bahkan tidak memeriksa detak jantung saya saat itu. Yang paling penting adalah hal itu bukan kapasitasnya. Karena bahkan dokter jantung saya dulu tidak pernah membahas tentang prosentase tersebut dan tahun 2014 mengeluarkan surat izin bahwa saya tidak masalah untuk melakukan persalinan normal. Jika berbahaya untuk jantung, tentu ia tidak akan mengeluarkan izin untuk itu.

Lalu ketika saya hendak bertanya dokter ini malah menyuruh saya menanti hasilnya saja. Kalau dilihat nanti saja lantas kenapa ia bahkan sampai menyebut gagal jantung duluan?!

I walk out the room and feel like:

unnamed (2)

Saya bergegas mencari A dan Abang yang sudah ada di lantai 1. Hal pertama yang saya katakan adalah, “I don’t like him. And i don’t like what he said.” Lalu saya menangis di situ.

Kami pun pulang dan sampai di rumah saya kembali menangis. Saya bercerita pada kawan yang sempat juga bersinggungan dengan dokter yang sama. Hingga sore hari jantung saya terus berdebar-debar dan saya tidak bisa melupakan apa yang ia katakan.

My anxiety is coming back.

Kemungkinan bahwa harus operasi dan terancam gagal jantung terus berputar di kepala.

Operasi caesar bukan berarti tidak baik, namun itu pilihan paling terakhir ketika semua usaha sudah dijalankan. Jika jantung tidak bermasalah dan semua kondisi ibu dan bayi mendukung untuk persalinan normal, kenapa tidak?

Niat awal untuk mencari kejelasan persalinan di hari terakhir Ramadhan justru malah berganti menjadi kepanikan. Menjelang takbir berkumandang itu saya terus mendaraskan doa supaya jantung baik-baik saja. Semoga saya dan calon bayi bisa melakukan persalinan normal nantinya dengan sehat dan selamat.

Though I still feel so shocked and terrible.

—————

Sumber gif:

Zimbio.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *