Akhirnya dapat rujukan (tahap 3): bertemu dokter jantung

Senin, 18 Juni 2018

Hari itu kami mendaftar ke poli jantung pagi-pagi. Setelah melewati hari raya Idulfitri dengan semua rendang dan ketupat, berusaha melupakan rasa was was, bertemu sanak famili, dan bercerita pada dua orang sepupu tentang peristiwa di dokter kandungan sebelumnya, setidaknya saya sedikit lebih lega.

Baca cerita tentang vonis dini dari dokter kandungan di sini.

Seperti biasa, sesudah mendapat nomor antrian, saya menuju nurse station terlebih dulu untuk dilakukan pemeriksaan tekanan darah. Setelah itu barulah menunggu di deretan ruang tunggu depan poli jantung.

Tidak berapa lama, nama saya dipanggil. Rupanya pasien yang baru pertama kali datang ke poli akan dilakukan observasi sederhana oleh perawat. Saya hanya bercerita mengenai riwayat MVP dan kehamilan. Suster lalu meminta fotocopy surat rujukan dari dokter kandungan. Setelah itu dengan ramah ia meminta saya menunggu lagi di luar. Hari itu A tidak ikut.

Pukul 9 lewat, dokter sudah datang dan pasien mulai dipanggil. Perawat mengabsen nama pasien satu per satu. “Bapak X nanti nomor 1 ya. Ibu H nomor 2.” Dan seterusnya.

Jadi supaya setiap pasien bersiap dan tidak pergi dari ruang tunggu. Setiap satu pasien selesai diperiksa dan keluar ruangan, pasien selanjutnya sudah bersiap untuk masuk.

Sebelum tiba giliran saya. Saya mengintip-ngintip setiap pintu terbuka dan pasien keluar-masuk, lalu berkata pada Abang, “Dokternya cowok? Perasaan namanya cewek deh.”

Ternyata nama dokter laki-laki tersebut belum dipasang di papan nama di tembok. Saya sibuk menebak bagaimana dokter yang satu ini. Lalu mengingat Plan A dan Plan B. Yaitu jika hasil rujukan ini tidak jelas juga, maka dengan terpaksa saya akan kembali ke RS jantung dan bertemu dokter lama kembali meski dengan biaya yang tinggi karena ia berada di poli eksekutif. Bongkar tabungan deh.

Ketika tiba giliran saya, kami masuk dan mulai bercerita tentang riwayat MVP dan apa yang disampaikan di dokter kandungan sebelumnya.

Dokter hanya ketawa-ketiwi sambil meminta hasil echo tahun 2014. Ia tertawa melihat apa yang tertulis di situ dan menangkap kekhawatiran saya.

“Saya stress kemaren, Dok. Dibilang kaya gitu.” Ucap saya.

“Jangan stress, Bu. Kalo kebawa pikiran kasian bayinya.” Timpal suster dengan lembut.

Ini kok beda banget sama suster yang kemaren ya 😖.

“Aah, orang ini nggak kenapa-kenapa kok. Jangankan 69%, 56% aja juga masih bisa persalinan normal kok.” Katanya sambil tertawa. “Ini tapi kita tetap lihat yang terbaru ya. Jadi ibu echo ulang. Tapi untuk jadwalnya saya tidak tahu pasti karena biasanya BPJS penuh jadwalnya. Coba tanya ke petugas di ruang echo dulu ya.”

“Tapi berarti hasil yang kemaren ini masih normal ya?”

“Normal kok. Nggak papa.”

Dokter Reza kemudian memeriksa detak saya dengan stetoskop. “Nggak ada bising atau bocor kok. Dari yang saya dengar, semuanya baik. Nanti kita evaluasi lagi habis echo ya.” Katanya sambil tetap tersenyum.

Oh, i feel like this when walking out the room. 

unnamed (3)

Kami pun menuju ruang echo yang berjarak tiga pintu. Petugas meminta surat rujukan echo dari dokter jantung dan meminta kami menunggu sebentar.

Tak sampai 5 menit, ia keluar lagi dan berkata bahwa echo bisa dilakukan saat itu juga. Alhamdulillah.

Sekitar 20 menit echo, petugas pun meminta kami menunggu lagi sambil ia menyelesaikan pekerjaan dengan pasien yang lain. Tak lama, ia keluar ruangan lagi dan berkata bahwa hasil echo bisa diambil besok sekalian dibacakan hasilnya oleh dokter. Oh, cepat sekali. Alhamdulillah.

Karena sudah ada kepastian kapan kembali maka kami pun membuat perjanjian untuk datang besok pagi ke poli jantung.

Sayangnya ketika melakukan appointment itulah, petugas meminta surat rujukan kembali. Sewaktu saya tunjukkan surat rujukan dari dokter kandungan ia berkata bahwa surat rujukan tersebut hanya berlaku 1x dan sudah terpakai saat tadi saya bertemu dokter jantung. Jika esok mau bertemu lagi maka saya harus meminta surat rujukan lagi dari puskesmas.

Apah? Puskesmas?!

Kami garuk-garuk kepala. Petugas kembali melihat berkas-berkas rujukan sebelumnya dan akhirnya berkata bahwa saya boleh ke poli kandungan untuk meminta surat rujukan kembali. Rujukan internal namanya. Jika tidak saya lakukan maka saya harus kembali ke puskesmas, katanya.

Kami balik lagi ke lantai 2 tempat poli kandungan. Bertemu lagi dengan suster jutek yang kemarin dan meminta surat rujukan. Suster berkata bahwa tidak bisa. Saya harus meminta surat rujukan ulang dari puskesmas, bukan dari poli kandungan. Kami meminta dijelaskan ulang sambil menunjukan tulisan tangan petugas di bawah terkait rujukan internal. Suster mengulangi kalimatnya bahwa kami harus kembali dari tahap puskesmas.

Hueeee….!

Kami ngibrit ke bawah untuk memesan taxi online dan bergegas secepat kilat menuju puskesmas kelurahan. Jarak yang cukup jauh mengingat kami tadi pun berangkat dari rumah ibu karena sedang menginap di sana. Kemudian saya baru ingat apakah puskesmas kelurahan hari itu buka atau tidak?

Saya menelepon nomor puskesmas dan ternyata sedang sibuk. Saya lalu menelepon nomor yang pernah digunakan bidan untuk menelepon saya. Bidan kemudian menjawab dan menasihati saya untuk tidak menelepon ke nomor hapenya. Duh, maapkan. Saya pikir bidan boleh ditelepon kapan saja heu. Saya bilang nomor puskesmas sibuk dan saya hanya ingin bertanya apakah puskesmas buka atau tidak. Bidan menjawab buka tapi hanya sampai jam 12. “Ditunggu ya, Bu.” Katanya.

Taxi online yang dipesan rupanya lama sekali sampainya. Sementara saat itu sudah jam setengah 12 siang. Saya sudah khawatir tidak keburu. Namun syukurlah masih sempat.

Begitu tiba di puskesmas dan menceritakan segala hal terkait surat rujukan, petugas menanggapi dengan heran dan bilang bahwa seharusnya saya tidak perlu bolak-balik seperti ini. Seharusnya surat rujukan internal bisa dikeluarkan dari poli kandungan. Apalagi poli kandungan dan poli jantung berada di RS yang sama.

Saya hanya menjawab bahwa petugas tidak bisa membuat surat rujukan dan mengharuskan kami kembali ke puskesmas. Petugas kemudian terlihat bingung dan akhirnya menelepon dokter, menceritakan ulang semua yang sudah saya ceritakan, berdiskusi dengan dokter dan petugas lain yang ada di situ, dan kembali menelepon dokter.

Kami terus menanti hingga akhirnya petugas menuliskan surat rujukan baru untuk ke poli jantung.

Terkait hal ini kami masih sama-sama belum tahu apakah kami memang harus meminta dari awal di puskesmas atau rujukan internal di RS. Sing penting surat rujukan wess tak pegang. 

Kami mengucapkan terima kasih banyak pada petugas puskesmas lalu mudik ke rumah Ibu kembali.

Selasa, 19 Juni 2018

Pagi hari kami melakukan verifikasi kehadiran untuk menuju poli jantung. Usai tensi, saya menuju ruang echo dan bertanya pada petugas mengenai hasil echo tersebut. Petugas meminta lembaran verifikasi dan meminta saya menunggu dipanggil menuju ruang dokter nantinya.

Sambil sesekali menunggu dengan terkantuk-kantuk dan berdoa semoga hasil echo tak ada masalah, saya sibuk ngetawain Abang yang lagi nge-dubbing iklan di TV.

Pukul 10, perawat mulai memanggil pasien. Saat tiba giliran saya, pak dokter bertanya ulang tentang keluhan dan akhirnya mengingat bahwa saya yang datang kemarin terkait MVP dan kehamilan.

Perawat mengambil hasil dan kemudian menyerahkan pada dokter bernama Reza itu. Saya mencoba mengintip hasilnya sambil sungguh deg-deg-an.

“Oooh..  Ini mah nggak pa-pa. Nggak ada masalah kok.” Katanya sambil terus tertawa riang menatap hasil echo.

Dokter Reza mengetik diagnosa saya di layar komputer dan menuliskan balasan surat rujukan. Menegaskan bahwa saya boleh melakukan persalinan vaginal dan tak masalah mau di klinik bersalin maupun puskesmas.

Alhamdulillah 😭.

“Jadi sudah nggak masalah ya, Bu.” Katanya.

Huaa… Lega sekali rasanya. Lika-liku proses panjang meminta surat rujukan, bertemu dokter kandungan yang kata-katanya sungguh bikin stress, berujung pada bertemu dokter dan perawat yang riang gembira plus yang paling penting hasil echo-nya baik sekali.

Makasi makasi makasi pak dokter dan perawat poli jantung yang baik hati.

unnamed (4)

Bismillah untuk selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *