Senin yang diiringi gerimis

Liburan Idulfitri 1439 H katanya sudah selesai. ((Katanya)).

Karena saya nggak kenal tanggal merah. Abang juga lagi nggak kerja kantoran, jadilah kami semua lupa hari. Lupa tanggal merah. Lupa liburan.

Setelah kemarin mudik ke Ciputat dan Cimanggis, akhirnya kami balik lagi juga di rumah selama tiga hari terakhir ini. Dengan tumpukan cucian yang belum dilipat dan disetrika, rak buku anak yang belum digeser lagi, dan bahkan toples-toples kue lebaran yang belum dibuka.

Lalu saya berinisiatif menambah kekacauan rumah dengan menggelar kasur di ruang tamu, memboyong bed cover, dan bantal kecil supaya kami bertiga bisa tidur berdesak-desakan di sana. Dan hingga tulisan ini ditulis pukul tujuh pagi di hari Senin ini, kasur belum dibawa balik ke kamar, bed cover belum dilipat, dan mainan lego berserakan di mana-mana karena A sudah bermain lego sejak pukul empat Subuh tadi. Hal tersebut tak akan mungkin terwujud kalau dilihat ibu saya.

Dan sejak pukul empat subuh tadi itu juga, gerimis mulai turun. Syukurlah, karena tanaman-tanaman di luar sempat mengering akibat kami tinggal kelamaan. Pun setelah dua hari disiram, masih ada yang belum pulih dari kekeringan.

Sejak pukul setengah enam tadi pula, A membuka pintu depan dan membiarkan udara yang dibawa gerimis masuk ke ruang tamu tempat kami menggelar kasur. Sejuknya mengingatkan saya pada udara saat kemping. Dan saya malah makin semangat untuk kemulan di bawah selimut sambil menghadap pintu. Hingga akhirnya A membangunkan saya berulang-ulang dan berkata ia mau kue putri salju.

Kami akhirnya menyeduh teh berdua, menyesapnya di antara kekacauan di ruang tamu. Dan sekarang saat hendak menggoreng pisang, A menawarkan diri untuk membantu saya mengaduk tepung terigu dan telur.

Selamat hari Senin, disertai hujan saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *