Belajar tentang ikan hiu

Awal bulan Maret lalu, A pernah mengajukan pertanyaan, “Ikan hiu adanya di mana? Di laut aja?”  dan juga “Gimana caranya bisa ketemu ikan hiu?”.

Sebelumnya A sudah beberapa kali membaca buku mengenai laut dan apa saja yang ada di dalamnya, baik yang fiksi maupun non fiksi. Sehingga pertanyaan dari A itu biasa saja sebenarnya. Karena ia memang terbiasa mengajukan dua hingga bahkan lima pertanyaan untuk satu permasalahan. Ketika melihat ada buku non fiksi mengenai ikan hiu, saya pun lantas membeli buku bekas tersebut. Rp15.000 saja harganya.

Saat proses membacakan cerita, saya menemukan bahwa tulisan dalam buku terbilang banyak dan beberapa mengandung kalimat yang sulit dicerna. Sehingga di awal buku saya hanya fokus pada apa itu ikan hiu, di mana ia tinggal, bagaimana cara bergeraknya, dan di halaman kedua kemudian disebutkan berbagai jenis ikan hiu yang ada di lautan dunia.

Halaman selanjutnya menguraikan bagaimana hiu bertelur, berburu mangsa, permasalahan hiu di ambang kepunahan karena perburuan, penelitian ikan hiu, apa yang harus dilakukan jika seseorang tercebur di tengah laut, bagaimana sebisa mungkin menghindari serangan ikan hiu, hingga bagaimana kita bisa menyelam bersama ikan hiu.

Saya awalnya sama sekali tak mengira A kemudian tertarik betul pada ikan hiu ini. Seperti biasa, satu hingga dua kali dibacakan ia diam saja tak merespon apa-apa. Tapi setiap selesai, ia meminta dibacakan ulang lagi dan lagi. Buku tersebut akhirnya dibacakan 5-10 kali setiap harinya.

Lalu lama kelamaan ia hafal sendiri yang mana hiu putih, hiu basking, hiu penebah, hiu wobbegong, hiu martil, hiu paus, hiu lemon, hiu macan, hiu port jackson, hingga apa saja biota laut yang dimakan oleh ikan hiu.

Ia lalu mulai bertanya semakin detail tentang:

  1. Kenapa hiu tidak boleh ditangkap dan dimakan? Kenapa cumi-cumi boleh dimakan?
  2. Kenapa hiu diberi label?
  3. Ibu sama bapak sukanya hiu apa?
  4. Di mana kita bisa lihat ikan hiu?
  5. Kenapa kita nggak boleh kecipak-kecipak kalo kecebur di tengah laut?
  6. Kenapa ada orang yang suka nangkep ikan hiu?
  7. Kapan kita bisa lihat ikan hiu?
  8. Hiu bernafasnya gimana?
  9. Hiu tidur nggak?
  10. Kenapa hiu martil matanya di samping kiri kanan kepisah gitu?

Nah, itulah kira-kira daftar pertanyannya. Ngejawabnya pelan-pelan aja biar nggak ngos-ngos-an.

Nah, pertanyaan lanjutannya saat ia tahu kita bisa menjumpai ikan hiu di Sea World adalah: “Kapan kita ke Sea World?”. Untuk yang ini saya suruh bersabar dulu, membiarkan kami menabung dulu, dan baca doa dulu semoga kita bisa ke Sea World bersama.

Setelah pertanyaan itu terus berlanjut berulang-ulang, kami pun memutarkan video dokumenter tentang hiu yang ada di Youtube. Maka ia semakin tahu bagaimana ciri fisik yang berbeda di antara ikan hiu dan cara hiu berenang. Favoritnya adalah: hiu martil dan hiu wobbegong.

Dua bulan kemudian, kami memutuskan pergi ke Sea World sebagai trip fieldnya dan semoga bisa menjawab deretan pertanyaannya tentang ikan hiu.

Di Sea World itulah akhirnya A melihat secara langsung hiu martil kesukaannya.

Baca juga: Berkunjung ke Sea World Ancol

P_20180512_111735

Tak sampai tunggu lama, muncul lagi pertanyaan yang ia ajukan.

A: “Kenapa nggak ada hiu wobbegong?”

Saya: “Karena di sana hanya ada ikan-ikan yang hidup di laut perairan dangkal saja, sampai sekian meter. Kalo hiu wobbegong adanya di laut dalam.”

A: “Oooh, yang nggak ada cahaya matahari itu ya.”

Saya: “Ya, benar!”

A: “Oh, ya ya. Kalo di Sea World kemarin A lihat masih ada cahaya matahari. Ada cahaya yang masuk ke air gitu kelihatan dari kacanya.”

Waaah, Masya Allah dia ingat. Semoga selalu jadi anak sholeh yang cinta lingkungan ya, Nak. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *