Naik kereta ke Nambo dan Bogor

Hari itu kami bertiga hendak pergi ke Bogor naik kereta. Saat tiba di peron stasiun, terdengar pengumuman bahwa kereta yang akan tiba adalah kereta jurusan Nambo. Nambo adalah nama daerah di dekat Cibinong, sekian kilometer dari Bogor. Stasiun Nambo baru dibuka dan kereta yang menuju ke stasiun tersebut masih hanya tersedia pada jam-jam tertentu saja.

Abang berkata; “Kita ke Nambo, yuk! Liat di sana ada apa.” ucap Abang tiba-tiba menjelang kereta datang.

“Ya udah, yuk!” jawab saya.

Lalu tiba-tiba kami sudah berada di dalam kereta jurusan Nambo. Tanpa tahu ada apa di Nambo. Nantinya dari sana kami akan balik lagi dengan kereta yang sama untuk transit di stasiun Citayam dan barulah menuju Bogor. Saat kami naik itu sekitar pukul 9 pagi, kereta menuju Depok dan seterusnya tentulah lengang dibandingkan arus menuju Jakarta.

20180626_081658_HDR

Menjelang stasiun Depok semakin banyak penumpang yang turun sehingga kereta semakin lengang. Dari info yang kami baca secara sekilas beberapa menit yang lalu, kereta akan melewati stasiun yang terbengkalai, melewati sungai, perbukitan, dan area persawahan.

Di stasiun Citayam, penumpang semakin banyak yang turun. Mereka-mereka yang baru naik ke kereta hanya terbilang satu-dua orang dan sudah pasti akan menuju Nambo. Pintu kereta ditutup, lalu mulailah kereta berbelok arah menuju Nambo, memisahkan diri dari rel kereta yang seharusnya menuju Bogor.

20180626_082929_HDR

Area persawahan yang dijanjikan dalam tulisan yang tadi dibaca ternyata tidak sepenuhnya benar. Kami lebih banyak menjumpai deretan-deretan rumah yang baru dibangun sekian meter jaraknya dari jalur kereta. Meski jarak stasiun cukup jauh namun kereta berjalan tidak terlalu cepat. Ini karena masih banyaknya pintu penyeberangan yang masih digunakan masyarakat dan tidak terjaga.

Kereta lalu melewati stasiun Pondok Rajeg yang terbengkalai. Stasiun tersebut berukuran kecil dan dari jendela kereta yang berlari kami bisa melihat sisi peronnya mulai ditumbuhi rerumputan di sana-sini. Setelah itu pemandangan gunung Gede-Pangrango, juga gunung Salak, mulai muncul nun jauh di sana. Berturut-turut seiring kereta yang melaju, kami juga bisa melihat Ciliwung yang mengalir, bukit kapur yang sedang ditambang, dan pabrik semen.

20180626_091154_HDR

20180626_084134_HDR

20180626_090826

Lalu sampailah kami di stasiun Nambo.

Rencananya kami akan turun sejenak di stasiun tersebut, untuk sekadar melihat-lihat area sekitar stasiun atau mungkin membeli jajanan. Namun ketika kereta tiba di stasiun, rupanya sudah banyak calon penumpang yang menunggu! Karena khawatir tidak mendapat tempat duduk lagi jika turun dari kereta, kami akhirnya memutuskan untuk tetap di kereta. Benar saja, ketika kereta berhenti penumpang pun langsung menyerbu tempat duduk yang kosong. Lama kereta berhenti hingga berangkat kembali kurang lebih 15 menit.

Tempat duduk yang tadinya kosong, langsung terisi seluruhnya. A sibuk bertanya tentang kereta barang yang terlihat di seberang rel. Kami pun menjelaskan sambil kembali melewati pemandangan yang sama seperti tadi: gunung, sungai, bukit kapur yang dikeruk, stasiun kosong, dan akhirnya Stasiun Citayam tempat kami transit.

Dari situ kami pindah peron untuk menuju Bogor. A sudah sibuk bertanya sejak tadi; “Kapaaaan sih kita ke Bogor?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *