Hadir di acara Festival Suka Cita Belajar

Tanggal 22 Juli lalu kami datang ke acara Festival Sukacita Belajar di TMII. Festival tersebut merupakan acara pendidikan berbasis keluarga atau bisa disebut homeschooling.

Dari jauh hari, sejak mengetahui info acara tersebut, kami (terutama saya) memang sudah berniat untuk datang. Metode homeschooling memang menarik perhatian kami sejak beberapa tahun lalu. Dan hingga kini kami belum memutuskan 100% untuk menjalankan homeschooling alias masih menimbang dan mengukur kemampuan kami sebagai fasilitator sambil terus belajar. Salah satu caranya ya dengan menghadiri event semacam festival homeschooling ini.

Namun meski banyak workshop yang digelar, saya belum berani daftar untuk ikut talkshownya. Mengingat kuota terbatas sementara kalau kami berdua mendaftar, terus siapa yang nemenin A?

20180722_125147

Saat hari H benar saja, dari awal kami datang ke acara dan melihat kerumunan orangtua dan anak-anak yang ruame di anjungan tersebut, A sudah enggan untuk masuk lebih jauh ke anjungan. Butuh waktu untuk membujuknya berkeliling. Ia pun menolak saat saya ajak untuk melukis layang-layang di sebuah stand. Akhirnya kami memutuskan untuk shalat dzuhur saja dulu di tempat yang sudah disediakan.

Ternyata di area depan mushola itu, A malah berlarian ke sana ke mari, meminta alas piknik digelar dan malah senang memanjat pohon, mencari burung dengan teropong mini, berlari, hingga mencari tumbuhan putri malu.

IMG_20180804_220639_517

IMG_20180725_184850_777

Kami akhirnya makan siang dulu saja sekalian dengan bekal yang sudah dibawa. Karena saya cuma bisa masak spaghetti (lagi) jadilah itu yang buat bekal. Habis itu A lari-larian lagi dan saya sempat berkeliling sejenak melihat-lihat stand.

Beberapa pojok acara untuk anak tersedia dan rata-rata sudah penuh. Mulai dari membuat lego, melukis layang-layang, mencetak daun di tas blacu, dan lain sebagainya.

Foto-foto dan hasil karya anak-anak homeschooling dipamerkan di stand dan dirangkai dalam kolase foto. Melihatnya saya turut berbangga hati.

20180722_124624

Setelah itu, saya mencuci kotak makan dan sendok di tempat yang sudah disediakan. Pada acara ini memang diusung tema zero waste alias minim sampah sehingga peserta yang datang dipersilakan membawa kotak makan sendiri dan nantinya bisa mencuci kotak tersebut dengan biji lerak yang digunakan sebagai pengganti sabun di keran cuci piring yang sudah tersedia. Stand penjual makanan pun menggunakan wadah minim sampah dan tidak menggunakan alas stereofoam.

Habis itu A baru mau dibujuk berkeliling lagi sebentar. Ia malah tertarik dengan rumah-rumahan mini yang ada di bagian depan anjungan.

20180722_125249_HDR

Ini jadi pelajaran bagi kami juga yang membuktikan salah satu prinsip yang biasa dianut dalam homeschooling yaitu anak belajar di mana saja dan kapan saja, tidak memaksa A untuk mengikuti kegiatan melukis layang-layang atau kegiatan lain yang ia tidak mau hanya untuk keinginan kami semata.

 

20180722_124749

Habis itu kami memenuhi janji pada A untuk naik kereta gantung yang sudah ia nanti-nantikan. Antrian lumayan panjang ketika itu. Ia belajar bersabar dan mengantri bersama yang lain hingga akhirnya kegirangan berada di dalam kereta gantung.

20180722_133105_HDR

 

“One of the beauties of homeschooling is that it allows us to recognize and nurture each one of our very special individual children. We have the glorious opportunity to help them figure out who they are, what they want to be, and how they might get there.” ~ 100 top picks for homeshool curriculum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *